Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

source image: dreamtimes.com

Jadi orang tua itu harus kuat. Kita gak boleh terlihat meneteskan air mata dan mengeluh sekalipun sebenarnya kita sedih atau capek.

Familiar dengan kata-kata ini? Atau bahkan kalimat diatas merupakan salah satu prinsip kita sendiri. Bahwa sebagai ‘ibu kuat’ kita tak boleh terlihat lemah dan selalu tampil prima dihadapan suami dan anak-anak kita. Karena konon tersenyum dan dapat melayani mereka dengan setulus hati adalah syarat utama dari seorang ‘Ibu yang baik’.

Lantas, salahkah ketika kalimat keluhan itu keluar begitu saja?

“Sayang, tunggu dulu ya.. mama capek. Nanti dulu ya mama mau istirahat..”

“Sayang, maaf ya kita gak jadi beli es krim hari ini. Uang mama enggak cukup..”

“Sayang, makan telur dadar aja ya.. Ayam gorengnya habis mama belum kepasar..”

Yah, jujur saja. Kalimat-kalimat diatas hampir tiap hari aku katakan. Kalau berbicara mengenai siapa ’emak’ paling pandai mengeluh dan bermanja-manja mungkin saja aku termasuk salah satu diantaranya. Bukan hanya mengeluh pada anak, pada suamipun juga sering aku lakukan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan aku sering mengucapkan kalimat keluhan untuk suami dan anakku. Bagiku, mengeluh pada anak sih ‘Yay’.

Hei, kenapa tidak bukan? Ada beberapa dampak positif dari mengeluh kepada anak lho. Berikut ini adalah dampak positif yang aku rasakan:

1. Mengajarkan anak rasa empati

“Mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

“Mama capek kah? Farisha gak jadi minta bikinin terong balado sama ayam ma.. Farisha makan telur dadar aja..”

Mengeluh capek? Ini adalah keluhan yang paling sering aku ungkapkan kepada anak. Konon, katanya anak itu peniru ulung. Kalau kita suka mengeluh capek maka anak juga akan beralasan ‘capek’ untuk tidak mengerjakan kewajibannya. Lalu salahkah mengeluh ‘capek’?

Baca juga: Simpati dan Empati, Solusi jitu untuk Tantrum Anakku

Tidak. Itu wajar. Ajarkan anak merasa kasihan dengan kita sebagai Ibunya untuk menumbuhkan Empatinya. Sejauh ini, tidak pernah ada yang salah dari keluhan capek. Anakku mungkin pernah meniru beberapa kali alasan ini untuk menunda kewajibannya tapi itu masih dalam proses yang wajar. Misalnya, ia mengeluh capek ketika aku suruh membereskan mainannya. Tapi itu wajar karena rumah kami sedang diserang 3 sepupu laki-lakinya. Yah, kalian tau sendiri betapa seramnya kreasi anak laki-laki dalam memporak porandakan rumah. Syukurlah anakku perempuan yang manis. 😂

Hal yang sangat aku sukai dengan keluhan capek adalah saat.., “Ma, mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

Terasa? Tidak.

Tapi tangan mungilnya meredakan stress… Percayalah.. Haha..

2. Menerapkan secara positif pola asuh yang demoktratis

Siapa penganut pola asuh ini? Aku dong tentunya. Apa? Demokrasi haram? 😅

Jadi begini, mengeluh itu selain menumbuhkan rasa empati pada anak juga dapat membuat ia lebih terbuka dengan kita. Kita bisa menjadikannya teman dalam berkeluh kesah. Bercerita ‘hari yang melelahkan’ dalam versi kami mungkin.

Itulah yang dinamakan suka duka bersama. Ajari anak memahami keadaan kita secara perlahan. Dari berkomunikasi dengannya maka kita juga akan memahami keadaan anak dan kesulitannya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang demokratis ketika besar nanti.

3. Menghindari pola asuh permisif

source: tandaseru.id

Pernah melihat anak menjadi Raja di rumahnya sendiri hingga besar? Suka memerintah, suka bermanja-manja dan hanya mengandalkan orang tuanya saja?

Baca juga: Ajari Anak 5 hal yang tidak menyenangkan

Itu yang akan terjadi kalau kita tak pernah mengajarkan rasa empati pada diri mereka. Selalu menjadi super mom di mata mereka dan tak pernah mengeluh. Selalu bilang ‘Iya sayang’ atas segala perintah mereka. Selalu sabarrrr.. Sabarrr.. Sabarrr…

Bukan hal mustahil Anak akan menjadi raja hingga besar nanti. Fenomena ini banyak aku perhatikan di kehidupan nyata. Memang, secara islam anak kecil dididik sebagai raja. Tapi sampai kapan kita melakukannya? Apakah kita akan membuat ‘raja kecil’ kita tumbuh tanpa empati? Atau membuat ‘raja kecil’ kita menghormati orang tuanya?

4. Menjadikan anak kreatif dan mandiri

“Ma, Farisha gak jadi minta belikan Squishy. Squishy awan mahal. Farisha minta belikan lem bening aja. Farisha mau bikin Squishy awan sendiri.”

Itulah kata-kata Farisha yang terlontar polos begitu saja saat aku mengeluh 3 hari yang lalu di mall.

“Ah, mahal sekali Squishynya. Maaf ya.. Mama gak bisa beli. Duit Mama gak ada. Ya, bisa sih beli tapi Farisha gak bisa makan ayam goreng lagi.”

Rasa kasihan ternyata dapat menjadikan anak kreatif dan mandiri. Farisha menjadi ‘tidak tega’ meminta uang untuk membeli barang kesukaannya. Ia lebih memilih mengandalkan kreatifitas dari video di youtube untuk menemukan jawabannya.

Baca juga: Siapa bilang media Eksplorasi anak harus mahal?

Mengeluh pada anak dapat berdampak positif namun juga dapat berdampak negatif jika kita tak bisa mengontrol keluhan kita. Ada beberapa hal yang harus dihindarkan ketika kita mengeluh pada anak, hal itu antara lain:

1. Jangan membentak dan menangis berlebihan dihadapannya ketika ingin mengeluh

source: pinterest

Sedang dalam emosi yang tidak stabil? Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Ingatlah jangan pernah melampiaskan hal ini di depan anak kita karena bukan rasa kasihan yang akan timbul, melainkan rasa takut.

Mengertilah batasan keluhan-keluhan wajar yang dapat diluapkan. Menjadi orang tua memang seni berpura-pura baik termasuk dalam mengungkapkan keluhan, jika tidak anak akan memasukkan keluhan mengerikan kita pada Innerchild negatifnya. Dan kita semua tau, Innerchild itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia membekas.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah?

2. Jangan lupa mengatakan ‘Maaf’ ketika kita tidak dapat menepati janji

Aku yakin, pasti kita sebagai Ibu pernah tidak dapat menepati janji lalu memoles alasannya dengan keluhan. Hal ini mungkin wajar, sangat wajar. Tapi ingatlah untuk menyisipkan kata ‘Maaf’ disela-sela alasan kita.

Mungkin jika kita tidak berkata ‘Maaf’ si kecil akan terlihat baik-baik saja. Tapi suatu hari nanti ia akan mempertanyakan hilangnya kata Maaf itu ketika moment meminta maaf tiba-tiba terjadi. Aku pernah mengalami 1-2 kali kejadian ini sehingga aku sangat mengerti dengan pola pikir anak-anak yang terlihat mengabaikan tapi sebenarnya selalu ingat dan menjadikannya peluru untuk menyerang kita suatu hari nanti.

3. Sebisa mungkin jangan mengeluhkan kondisi ekonomi secara berlebihan dihadapan anak kecil

Mengeluh tidak punya uang tentu boleh. Tapi, jangan membuat drama-drama berlebihan dihadapan anak kecil yang ‘masih meraba dan merangkai masa depannya’.

Apa yang akan terjadi jika kita selalu mengeluhkan kondisi ekonomi yang terpuruk kepada si kecil?

Itu adalah akar materialisme. Dan efeknya tidak baik.

Baca juga: Cara sederhana menjauhkan paham Materialisme pada Anak

Anak akan mengukur masa depannya dengan satu hal saja. Ada uang maka Tenang. Ia lupa bagaimana cara bahagia yang seharusnya. Tentu kita tidak ingin anak kita tumbuh dengan sekedar menjadi orang kaya saja bukan?

4. Mengeluhlah dengan permasalahan yang sesuai dengan umur anak

Terakhir, mengeluh kepada anak tentu boleh. Tapi sesuaikan segala keluhan kita dengan umurnya. Jangan menjadikan otak mereka terlalu terbebani dengan…

Drama pelakor yang sesungguhnya itu urusan tetangga, curhat kepada anak apa nyambungnya?

Drama harga beras naik, uang bulanan tidak cukup karena inflasi bla bla bla.. Please, mereka gak ngerti.

Drama kurikulum pendidikan yang bikin pusing, mereka gak tau apa-apa..

Tapi tentu berbeda cerita jika anak kita sudah besar dan dewasa. Yuk, sejak dini bentuk anak menjadi pribadi yang penuh pengertian dengan mengajarinya arti keluhan yang benar.

Karena ketika ia besar nanti, ia akan menjadi teman kita yang mendengarkan suka duka kita. 😊

Komentar disini yuk
13 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A