Browsed by
Category: Marriage

Ujian 9 Tahun Pernikahan: Benarkah Komunikasi Adalah Koentji Untuk Semua Permasalahan?

Ujian 9 Tahun Pernikahan: Benarkah Komunikasi Adalah Koentji Untuk Semua Permasalahan?

“Kamu tuh udah dapet pasangan yang baek. Disyukuri, dinikmati. Kalau ada masalah dikomunikasikan. Bukan ngeluh..”

Ucapku pada diri saat itu. Kala itu, aku mengalami ujian pernikahan yang tidak biasa.

Aku selalu meyakinkan diriku bahwa dalam membangun kehidupan pernikahan setidaknya ada 5 ujian kunci pernikahan yang harus ditaklukkan. Yang pertama adalah ujian penerimaan, lalu ujian ekonomi, ujian anak, ujian orang ketiga, hingga ujian mengeluarkan ekspresi atau komunikasi. Konon, yang terakhir merupakan sebuah kunci jika kita menemui sebuah permasalahan.

Aku membenarkan hal itu. Aku belajar bahwa berkomunikasi dengan pria itu tidak sama dengan berkomunikasi dengan wanita. Pria lebih realistis, lebih to the point. Mengebelakangkan faktor emosi. Tidak suka disalah-salahkan, disindir, apalagi diomongkan dibelakang. Sementara wanita? Kadang sedikit emosional dalam berbicara. Sedikit berkaca-kaca, suka baper dan hatinya jauh lebih dominan dibanding otaknya. Sehingga dia lebih suka mengutarakan sebuah rasa alih-alih to the point dalam berbicara.

Kadang aku bertanya sendiri, apakah cuma aku yang berkomunikasi sedemikian baper? Ternyata, most of wanita memang sedemikian. Bukan cuma aku.

Lantas, kenapa Tuhan membuat pola sedemikian? Pernahkah kalian berpikir kenapa gaya komunikasi pria dan wanita itu berbeda?

Ketika Pria dan Wanita Memiliki Perbedaan Gaya Komunikasi

Sudah pernah aku mencoba berkomunikasi seperti ‘teori komunikasi’ kebanyakan. Bagus memang. Teori komunikasi sedemikian banyak bertebaran sehingga tidak membuat repot bagi wanita emosional sepertiku. Peernya hanyalah bagaimana memanipulasi ekspresi saat sedang kesal. Atau berbicara sok lembut seperti, “Aku kesal kamu begini loh, seharusnya kamu begini. Aku tuh enggak suka bla bla. Aku lebih suka kamu menolong aku begini.. La la la”

Diulang-ulang intonasinya. Entah kenapa, aku merasa sedang membunuh karakter dan ekspresiku sendiri.. ���

Ya, aku memiliki garis keturunan yang berkomunikasi mengedepankan emosi. Mamaku sendiri adalah tipikal yang sering blak-blakan hingga meledak marah-marah saat berkomunikasi tak kunjung menuai hasil. Berkaca dengan masa kecil sedemikian. Karakterku sedikit banyak akhirnya menjadi sedikit mirip dengan Mama. Kalau kelelahan suka mengomel dan mengumpat sendiri. Kalau ingin minta bantuan kadang khilaf berteriak sendiri. Hasilnya? Suami kesal mengutukku tukang sindir bla bla bla.

Karena itu aku mencoba berbagai cara skill komunikasi. Ketika emosiku sedang meledak, sebisa mungkin aku menahan keinginan verbal untuk mengutuk dan mencaci. Sebisa mungkin aku mencoba menulis untuk release. Lalu mendaur ulang tulisan menjadi sebuah nasehat untuk diri dan suami.

Tapi sifat itu tak kunjung hilang. Berkomunikasi dengan kode, tidak bisa blak-blakan saat melihat kondisi suami yang kehilangan empati. Suka menangis andai suami tak kunjung merasa bersalah atas kesalahannya. Aku berpetualang untuk menghilangkan rasa-rasa emosional sedemikian. Ternyata, itu memang tidak bisa dihilangkan. Karena, ya begitulah wanita. Dia makhluk bengkok. Tak bisa langsung diluruskan.

Kemudian aku bertanya-tanya sendiri. Mengapa wanita diciptakan sedemikian? Untuk berdampingan hidup dengan pria yang otaknya realistis dan mengesampingkan emosi? Ternyata, titik temunya.. Ada disatu titik.

Titik itu bernama Cinta.

Ternyata, Kunci Pernikahan Tak Melulu Pada Komunikasi

Sering aku mengintip curhatan para wanita pada grup-grup pernikahan yang aku ikuti. Beberapa memiliki problem yang sama denganku. Aku selalu kepo untuk mengintip kolom komentar, sekedar ingin tau apakah ada pemecahan masalah yang pas untuk kondisiku.

Tak cukup mengikuti grup curhat perempuan aku juga mengikuti ig cerminlelaki demi untuk mengetahui bagaimana sudut pandang lelaki dalam memandang sebuah permasalahan. Aku toh tidak ingin egois. Tak melulu perempuan itu benar bukan? Kadang kita sebagai perempuan juga perlu reframing sedemikian rupa dengan sudut pandang lelaki agar pemecahan masalah menjadi imbang. Kuintip caption dan kolom komentar demi mendapatkan jawaban jika permasalahannya mirip denganku. Tapi lucunya, kolom komentar pun dipenuhi dengan caci maki para kaum emak-emak. Walau sebagian ada juga jawaban yang bijak tapi kadang aku cukup tertawa geli dengan komentar-komentar lucu, saklek, tapi benar.

Setidaknya, melihat dan kepo dengan berbagai masalah diluar sana aku jadi percaya bahwa permasalahan rumah tangga itu selalu ada. Dan jawabannya selalu menjurus pada hal yang sama. Yaitu komunikasi.

Lantas apa iya komunikasi adalah jawaban dari sekian banyak pertanyaan? Lantas bagaimana dengan beberapa permasalahan yang sudah dikomunikasikan sedemikian rupa tetapi tak kunjung mendapatkan solusi?

Sebagai contoh, ada seorang istri curhat tentang sulitnya meminta uang lebih jika suatu hari ada keperluan. Entah itu biaya spp anak, biaya darurat karena mendadak ada sesuatu hingga biaya kebutuhan harian yang mendadak habis di pertengahan bulan. Sang Istri mengeluh ketidakcukupan uang bulanan. Ia mengeluh karena tau suaminya memiliki pemasukan lebih banyak dibanding yang suaminya berikan setiap bulan.

“Gimana ya cara komunikasi sama suami, dia cuma beriin aku uang 1,5 juta sebulan dengan kondisi memiliki 2 anak. Sementara aku tau pemasukannya sebanyak 5 juta. Aku tau kami juga memiliki kewajiban tiap bulan sebanyak 1 juta. Aku juga tau dia memberi sebagian kepada keluarganya. Aku sudah berusaha menambah pemasukan dengan berjualan online. Tapi tidak bisa. Kondisiku juga tidak memungkinkan untuk bekerja diluar. Bla bla bla.. Andai saja dia bisa memberikan uang tambahan setidaknya sebanyak 500ribu..”

Salah seorang netizen mengomentari, “Coba komunikasikan sama suaminya. Rinci biaya pengeluaran sebulan. Rinci kebutuhan spp anak kemudian biaya tambahan lainnya. Juga kemukakan bahwa sebagian biaya sudah dihandle oleh pemasukan mba. Tapi tetep enggak cukup bla bla.. Coba kamu ngertiin aku..”

Kemudian si pencurhat berkata, “Aku sudah sering berkata demikian. Tapi jawabannya selalu sama. Dicukup-cukupkan. Aku juga punya kewajiban sama keluargaku. Ibuku aja cukup segini buat sebulan. Masa kamu enggak bisa..”

Dan netizen pun ramai mengutuki sang suami..

“Lo harusnya nyadar diri pak, kalo gak bisa ngasih nafkah sama istri dan anak. Jangan nikahin anak orang. Urus ibu dan sodara dulu. Kasian anak orang ninggalin dunianya demi elu. Eh.. Elu malah gak ngurusin dia. Malah lebih prihatin ke mama lo.” Komentar salah seorang netizen.

Sementara itu, jika kita mencoba reframing ke kondisi suami. Mungkin saja suaminya merupakan generasi sandwich yang memiliki tanggungan berlebih. Maka, sungguh ini merupakan ujian yang berat. Satu sisi suami memiliki kewajiban pada ibunya. Satu sisi istri dan anak pun dalam kondisi kekurangan. Ditambah mungkin suami tersebut kekurangan empati pada perasaan istrinya dalam sulitnya mengelola keuangan.

Yang membuat aku heran adalah ketika membaca jawaban dari suami ketika istrinya sudah mencoba berkomunikasi. Dimana rasa empati itu? Bukankah pernikahan itu dilandasi oleh adanya rasa cinta?

Setahuku, cinta adalah perasaan yang levelnya lebih tinggi dibanding empati. 

Nah, ini baru permasalahan tentang finansial. Permasalahan rumah tangga itu beragam. Dan salah satu yang paling sering aku temui juga tentang kurangnya pengertian antara satu sama lain.

“Mindad, apakah pekerjaan rumah tangga itu sedemikian beratnya? Saya kalau pulang dari kantor malam-malam pengennya bermanja-manja dengan istri. Tapi melihat isi rumah kepala saya pusing rasanya. Mainan anak berserakan. Masakan dingin dan tak tertata di atas meja. Cucian menumpuk disana sini. Padahal istri saya enggak kerja. Melayani saya diranjang pun tidak bisa. Kadang saya datang bukannya disenyumin malah dikasih muka cemberut. Padahal, sewaktu awal nikah dia gak gitu. Tapi ketika kami sudah punya anak dia jadi 180 derajat berubah..”

Dan aku membaca caption di cermin lelaki, begitu bijak jawabannya. Tidak menyalahkan suami dan tidak pula menyalahkan istri. Dari sering kepo ke akun instagram ini setidaknya aku menjadi paham tentang sulitnya bagi lelaki untuk bisa mengerti kondisi istrinya. Karena ia memang tidak bisa merasakan tanpa melihat langsung dan menjalani secara langsung. Otak lelaki, memang didesain sedemikian rupa. Apalagi untuk lelaki yang masa kecilnya merupakan generasi home service. Apa-apa serba dilayani ibunya. Dia tidak akan mengerti bagaimana rasanya mengerjakan setumpuk pekerjaan rumah.

Raca cinta mungkin merupakan pondasi dalam sebuah pernikahan. Ketika rasa ini memudar karena berbagai permasalahan. Tak melulu jawabannya ada pada kurangnya komunikasi.

Simplenya. Sebelum berkomunikasi pastikan suami memiliki modal ‘rasa’. Atau, jungkir balik komunikasi jawabannya akan percuma saja

Mengisi Tangki Cinta dengan Bahasa Cinta Non Verbal adalah Modal Utama Berkomunikasi Verbal dengan Pasangan

“Kamu salah win, dimana-mana komunikasi itu kunci. Gimana suami bisa ngerti kalo enggak dikomunikasikan?”

“Alhamdulillah ya bund kalau suami Anda langsung nyess ngerti ketika memakai jurus komunikasi. Tapi, kadang masalah tidak sesimple itu solusinya. Tidak semua karakter suami paham akan kondisi istri walau sudah berkomunikasi. Pun sebaliknya.. Jika belum ‘merasakan’ masalah apa yang terjadi..”

“Terus gimana caranya?”

Bangun dulu rasa ‘modal’ cintanya. Agar, komunikasinya ‘berasa’.

Kenapa suamiku berubah? Kenapa istriku berubah? Padahal dulu tidak begini. Padahal dulu ia mengerti kode apapun. Sudah aku kasih kode begini. Dulu dia ngerti, sekarang enggak. Masa aku harus langsung blak-blakan? Kemarin aku langsung blak-blakan tapi suami tak kunjung merasa. Tak kunjung mengerti. Malah membuat pertengkaran yang bikin nyesek.

Pertanyaanku, sudahkah tangki cinta masing-masing pasangan diisi sebelum berkomunikasi? Sudahkah kita mencoba untuk merendahkan ego dan berusaha ikhlas dalam mencintai?

Berterima kasih walau sesedikit apapun nafkah yang ia berikan.

Meminta maaf walau tahu bahwa bukan hanya kita yang bersalah.

Maksimal mencoba mencintai untuk mengisi tangki cintanya. Agar ia mengerti apa sebenarnya maksud komunikasi yang kita utarakan.

Tangki cinta adalah modal receh komunikasi yang tanpa sadar sering tidak kita penuhi. Karena kita sering terdesak ego akan kebutuhan yang mendesak. Tentu itu manusiawi. Tapi, membangun rasa cinta sebelum berkomunikasi itu jauh lebih dibutuhkan.

Pertanyaannya, bagaimana cara membangun dan mengisi tangki cinta?

Well, hanya kamu yang tau caranya..

Mengapa dulu ia sangat mencintaimu? Karena ia melihatmu begitu ikhlas dalam mencintainya. Ciptakan rasa itu kembali. Walau seberat apapun rasanya. Kadang, itulah modal untuk membuatnya merasakan kembali rasa yang sama.

Kalian tau? Cinta itu tak melulu tentang komunikasi verbal. Jauh lebih banyak dibangun oleh hal-hal yang berbeda. Komunikasi hanyalah kunci kesekian dari sekian banyak rumus pernikahan. Cinta adalah dasarnya. Dan bahasa cinta non verbal itu jauh lebih bermakna dibanding susunan komunikasi verbal yang dilatih sedemikian rupa dengan ekspresi yang meyakinkan. Perhatianmu, bahasa tubuhmu, ekspresi mata dan bahkan mungkin masakan dan riasanmu bisa saja menambah rasa cinta. Tak melulu tentang itu mungkin. Hanya kamu yang tau.

Untuk lelaki, ketika perempuan merajuk dan mengemukakan berbagai kode. Ketahuilah ia sedang buntu dalam membangun rasa cinta milikmu. Maka, bawakanlah sedikit perhatian. Tak perlu mahal. Tak perlu susah. Semangkok bakso, seikat bunga di halaman rumah. Duh, ketahuilah.. Tangki cinta istri itu sangat mudah terisi. Dan ketika terisi, lucunya.. hilang sudah sekian masalah yang ada dibenaknya.

“Makan tuh cinta win, emangnya bisa hidup cuma dengan cinta aja!”

Well, lantas sebagai manusia yang memiliki takdir berpasangan seperti aku maka harus memulai dari mana sebagai dasar utuhnya pernikahan? Apa iya pernikahan cukup dibangun dengan finansial yang sukses dan prinsip hidup yang sejalan? Lantas kemudian ketika ada masalah kita lupa akan pentingnya memahami rasa? Lupa akan pentingnya cinta. Bukankah cinta adalah pondasi perasaan insan untuk bisa bersatu?

Well, Ini adalah sebuah tulisan receh. Yang aku tulis berdasarkan pengalaman selama 9 tahun menikah. Jika orang melihat kami seperti baik-baik saja, terlihat bahagia bahkan kehidupan ekonomi kami terlihat jauh lebih baik. Maka ketahuilah, semua ada prosesnya. Dan proses itulah yang telah menempa kami menjadi pribadi yang lebih baik dalam memahami pasangan. Karena kami sadar, cobaan hidup boleh saja bertambah. Tapi seni mengenal cinta hingga mengisi tangki cinta tak melulu dibangun oleh komunikasi. Tapi dibangun oleh rasa.

Sudahkah kalian mengenal tentang rasa?

https://www.instagram.com/p/CPnV-DvDg7S
Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Pernahkah dalam hidupmu, tangan kiri dan kananmu seakan ditarik oleh dua orang cowok berbeda? 

Yang satu adalah sahabatmu, sedangkan yang satunya adalah orang yang membuatmu terpesona dalam pandangan pertama. 

Ini bukan tulisan ‘sok laku’. Tapi, ini tentang cerita sebuah pilihan. 

Dimana pilihan itu, akan mengubah jalan hidupmu. 

Tentang Petuah Mamak dalam Memilih Pasangan

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, kalau pilih pasangan carilah yang agamanya bagus. Dan derajatnya diatas kita. Supaya kelak enggak direndahkan orang..”

Tapi seiring berjalan waktu, petuah itu berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang agamanya bagus. Dan pekerjaannya tetap. Supaya kelak hidupmu enggak susah..”

Melihat gelagat anaknya tak kunjung memiliki pacar di usia semester 5 kuliah, bahkan malah jingkrak-jingkrak tidak karuan dengan berbagai boyband. Maka petuah mamak pun berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang umurnya enggak seumur sama kamu. Perempuan itu cepat tua. Kalau kamu naksir cowok kayak di TV itu. Ketika sudah punya anak kalian bakal kayak Mamak sama anaknya.. Carilah minimal yang beda umurnya 5 tahun..”

“Tapi Oppa Yunho umurnya 7 tahun diatas aku Ma.. ” Sahutku iseng.

Dan akupun ditimpluk. 

Ah, Mama saat itu belum tau saja. Biarpun keranjingan dengan boyband korea hingga tergabung dalam komunitas game. Serta terlihat sebagai anak rumahan banget. Tetapi, aku ada yang naksir kok. Uhuk. 

“Siapa yang sering ngantar kamu pulang win? Itu temen SMA kamu dulu ya?”

“Iya ma, cuma temen.”

“Lain kali ajaklah makan di rumah..”

Aku mengiyakan sambil ber ‘hehe’. Entahlah feeling Mama tajam sekali. Baru juga sekian kali temanku itu mengantarku pulang. Tapi sudah yakin dan kepedean sekali kalau temanku itu naksir aku. Heh, siapa lelaki yang berani naksir cewek yang sepanjang perjalanan banjarmasin-pelaihari topik pembicaraannya hanya tentang naruto, ninja saga, hingga boyband. Hanya lelaki sangat bodoh yang naksir dengan cewek demikian. Mama riang sekali mengira teman lelakiku itu naksir denganku. Padahal, yang kelihatannya positif naksir denganku itu adalah.. 

Asisten dosen di kampusku. Huahahha.. 

Akupun langsung mengingat petuah-petuah Mama. 

-Agamanya bagus ✅

-Pekerjaan tetap ✅

-Lebih tua 5 tahun ✅

-Bukan personil boyband ✅

Oke ma, kelak kalau suatu hari dia ‘nembak’ aku maka akan aku ceritakan bahwa dia adalah kriteria mama. 

Cinta dan Impian Lalu Kenyataan

Aku tidak tau seperti apa persisnya rasa cinta itu. Hingga kuliah, aku hanya memiliki satu sahabat lelaki yang cukup dekat denganku. Aku tidak malu menjadi ‘apa adanya’ diriku saat di depannya. Bercerita tentang game terbaru, film terbaru, album boyband terbaru, curhat bombay saat memiliki drama dengan teman. Perasaan saat itu.. Tidak ada rasa ‘berdebar’ dan gugup. Layaknya aku membicarakan sasuke atau yunho. *halah

Tapi, aku merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Aku toh tidak perlu merasa tidak nyaman. Berpikir kalau-kalau dia naksir aku misalnya. Hanya cowok tidak waras yang bisa naksir diriku apa adanya. Terutama kalau sudah tau tentang gilanya aku dengan boyband. Lalu betapa konyolnya wajahku ketika dijenguk saat terkena DBD dan tanpa make up satu pun. Belum mandi pula. Sungguh image itu hancur sekali. 

Tapi, dugaanku salah. Persis saat aku bilang kepada temanku bahwa aku sedang ‘kesenangan’ karena chatting dengan asisten dosen di kelasku tentang sebuah kasus di kelas dengan (mungkin) wajah bersemu dan bersemangat. Maka, malam itu dia mengatakan perasaan yang sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya. 

Aku sungguh tidak tau kalau dia memendam perasaan padaku sedemikian lama. 

Dengan pernyataan semendadak itu. Mungkin aku bagaikan ‘Princess Anna’ yang sepersekian lama baru sadar kalau Kristoff ternyata suka padanya. Tapi bedanya, aku benar-benar hanya menganggapnya teman curhat, sahabat baik, atau entahlah apa itu. Tidak ada feeling yang lebih. Hanya perasaan nyaman. Dan aku meyakinkan diriku bahwa itu.. Bukan cinta. 

Berbeda dengan saat aku bertemu dengan asisten dosenku. Penuh semangat, penuh kata-kata motivasi, penuh rasa ingin tahu.. Dan, dia membimbingku kearah jalan yang tidak pernah aku telusuri sebelumnya. 

“Aku tidak tau persis apakah orang yang bisa membuatmu bersemangat itu adalah perasaan cinta? Atau itu hanya sesaat saja..”

Tapi jalan-jalan yang ia nampakkan padaku adalah sesuatu yang realistis. Segala yang ia katakan kepadaku adalah kejujuran, tidak ada bawang di dalamnya. Dia.. Tidak menjanjikan apa-apa padaku.

Entahlah, aku hanya suka saja dengan lelaki yang berpandangan seperti Han Ji Pyong. Bukan berlayar tanpa peta. Tetapi berlayar dengan mempelajari peta, mencari peta. 

Jika Dal Mi bersemangat ketika berlayar tanpa peta.. Maka mungkin aku sebaliknya. 

Mungkin, karena sahabatku itu seumur denganku maka tujuan hidup kami sama-sama abstrak. Mimpi kami sama-sama tidak jelas. Kami masih sama-sama memiliki sisi kekanakan. Dan impian coret tulis coret tulis. Tetapi sahabatku itu selalu memiliki mimpi yang baru. Setiap dia memiliki project, dia memberitahuku seakan minta aku semangati. Dan kami selalu menyemangati satu sama lain. Menghibur satu sama lain. Ketahuilah, punya sahabat cowok itu sangat nyaman. Tidak banyak drama layaknya memiliki sahabat cewek. Setidaknya, sebelum aku tau kalau perasaan itu ternyata ada kemudian menimbulkan ketidaknyamanan. 

Apa yang aku lakukan ketika diriku yang ternyata tak laku-laku tetiba ditaksir cowok secara bersamaan?

Aku langsung merenungi perkataan Ayahku. 

Memilih Berlayar Tanpa Peta Atau Mencari Peta

I’m a Realistic Person

Banyak sahabat yang bergunjing dibelakangku bahwa aku memilih lelaki yang sekarang karena dia memiliki pekerjaan tetap. Tapi, tidak banyak yang tau hal ini bukan?

Bahwa orang yang aku pilih memiliki banyak adik, seorang sandwich generation, seorang anak yatim. PNS dengan gajih yang 50 persen bahkan lebih dipotong untuk hal-hal demikian bukanlah orang yang kokoh secara finansial. Bahkan rentan bangkrut jika suatu hari adik-adiknya juga ikut bertumpu. Terancam tidak memiliki rumah sendiri seumur hidup. Orang mengira aku memilih karena sebuah kepastian masa depan. Padahal, bukan karena itu. 

FYI, kalau boleh jujur mungkin nasib sahabatku jauh lebih baik. Dia anak tunggal, tidak ada tanggungan. Punya banyak space untuk meneruskan mimpi. Tinggal satu daerah denganku sehingga aku mungkin tak perlu berpisah dengan Mama. Bahkan aku bisa meneruskan cita-citaku. Tapi segala mimpinya mungkin tak sejalan denganku. 

Aku memutuskan untuk menjawab ‘Yes’ pada hadiah buku yang dikirimkan oleh Asisten Dosenku.. 

Buku yang surat pembuka didalamnya telah mengunggah hatiku:

…Honestly

I can not commit any promises that every letters that we engraved together are about fulled with good story. 

There can be some chapters that narate sorrow and sadness. Also, I can not promise that the end of our story that we will make it through will be has beautiful ending because.. 

.. I  realize there’s no one who is driving their own fate.. 

Akupun mengetahui latar belakang, masalah hidupnya. Mulai dari masalah finansial hingga masalah psikologis. Tapi, dia jujur padaku bahwa.. 

Dia tidak bisa menjanjikan apapun. 

Entahlah, itu adalah ‘versi bucin’ tergila yang pernah aku rasakan. Ketidakpastian.. Tantangan.. Kegilaan.. Bagiku itu adalah kejujuran yang membangun sebuah komitmen. 

Aku pun langsung teringat petuah Ayahku. 

“Win, kalau milih pasangan itu jangan yang gombal. Banyak menjanjikan macam-macam. Atau, jangan memilih yang tidak punya arah yang jelas dalam hidup. Pilihlah yang dewasa, yang realistis. Yang bisa menunjukkan padamu kalau dunia ini gak selamanya indah. Yang mengajakmu untuk berjuang bersama bukan menjanjikan padamu untuk berstatus layaknya putri raja..”

-Ayah

Aku, memilih seseorang yang tak menjanjikan sebuah kebahagiaan untukku. Tapi mengajakku untuk sadar, bahwa hidup ini bukan tentang mencari bahagia saja. Tetapi juga menghadapi ketidakbahagiaan.. Bersama. 

Win? Bukannya memilih berlayar mencari peta? 

Bukankah aku bilang mencari? Bukan tanpa peta? 

Menghadapi ketidakbahagiaan lantas mencari titik-titik perhentian adalah definisi dari mencari peta untukku.. 🙂

NB: Aku menulis tulisan ini ketika sedang bertengkar dengan suamiku. Lantas membaca lagi kata-katanya dalam buku pertama. Aku menulis ini bukan sedang untuk bernarsis ria dengan masa mudaku. Tapi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa.. Akulah yang memilih menghadapi risiko bersama. 

Iya, bersama.. 🙂 

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

“Sayang, kayaknya bulan ini keperluannya bakal lebih deh. Buku anak mesti dibeli karena tahun ajaran baru. Pengeluaran yang lain juga ada nih..”

“Ya dicukup-cukupkan dulu bisa gak Ma. Soalnya uang kita juga ngepas kan..”

“Tapi bukannya Papa kemarin dapet uang sampingan dari kerjaan?”

“Ya tapi kan buat Mama. Kan kasian loh adek aku juga masih sekolah.”

Sang Istri pun menunduk lantas tak sengaja meneteskan air mata. Sudah berkali-kali rasanya suaminya seperti itu. Sering sekali. Seakan ia hanyalah orang kedua yang membutuhkan nafkah darinya. Seakan hanya dia-lah yang harus berputar-putar mencari cara agar keuangan rumah tangga kami mencapai kata ‘cukup’. 

Dan kadang, Sang Istri sering bertanya pada diri sendiri.. 

“Apakah suamiku ini pelit? Atau terlalu hemat?”

Suami Terkesan Pelit, Salahkah? 

Abaikan cerita diatas. Berhentilah berimajinasi seolah-olah itu adalah cerita curhat dariku. Jujur, enggak juga sih mirip, tapi aku yakin pasti diantara pembaca disini pernah mengalami posisi yang sama. Terutama di ujian awal pernikahan. Iyakan? Nafkah lahir memang ujian sensitif.

Huft. Yup ujian pernikahan terberat memang pada tiang ekonomi. Masa ketika punya ambisi memiliki rumah sendiri, berdiri sendiri, ditambah sudah memiliki anak dengan gajih yang pas-pasan. Belum lagi soal cobaan menjadi sandwich generation. Digeronggoti sana dan sini. Lalu kemudian keadaan menjadi serba salah. Ingin bekerja, tetapi anak harus bagaimana? Tak bekerja namun keuangan tak memadai. 

Merajuk, tapi kenyataannya tidak bisa. Karena begitulah keadaannya. Lalu kemudian setan-setan mulai berbisik ramai ditelinga.. 

“Dia pelit sekali”

“Bahkan anaknya sendiri tidak penting baginya.”

“Dia lebih memilih Ibunya dibanding dirimu.”

“Harusnya dia menikah dengan Ibunya saja.”

Setan-setan itu, membuat istri yang keadaannya serba salah menjadi bertanya-tanya pula. Lalu kemudian berakhir dengan tetesan air mata. Ingin berkomunikasi takut ditekan lantas dianggap tak bisa mengatur keuangan rumah tangga. Tapi jika terus dipendam maka kapan ada jalan keluar? 

Pernahkah kalian berada diposisi demikian ketika ingin berkomunikasi tentang keadaan ekonomi? Aku? Pernah banget! 

Lalu apa yang aku lakukan? Apakah aku langsung menangis bombay dan berteriak parau dihadapan suami? Tidak. Aku mencari ‘jeda’. 

Jeda itu aku gunakan untuk mengoreksi diri. Mengekspresikan kemarahan melalui jempol-jempolku. Mengukir prasasti pada WA story yang aku atur privasinya. Berharap ada 10 dari teman dekatku yang memiliki nasib yang sama lalu memelukku. Kadang, harapanku tak muluk-muluk. Hanya ingin didengar. Itu saja. Itulah kenapa, diantara 10 kontak itu. Suamiku adalah salah satunya. Aku berharap dia bisa membaca luapan amarah itu. Aku ingin dia tau bahwa aku marah tapi aku takut marah dihadapannya. 

Saat itu setan sedang ramai sekali menari di jemariku. Mungkin mereka tertawa. Aku tidak tau apa yang ada dibenak teman-teman yang membaca status privasiku. Tapi satu hal yang jelas. Aku lega. Dan jeda itu aku ulang lagi dan lagi. Seperti menjadi candu. 

Saat waras menghinggapiku. Dan setan itu sudah lelah dan tertidur. Aku menatap nanar ke arah suamiku yang kelelahan dalam tidur malamnya. Berkata dalam hati, “Mungkin, sebenarnya dia memiliki beban yang tak kalah besar dariku.. Apakah aku yang selama ini menutup mata akan bebannya? Apakah selama ini kami saling memendam rasa karena ‘malu pada beban masing-masing’?”

Bagaimana kalau.. Memang dia tidak punya pilihan? Atau dia takut berkomunikasi? 

Dan hal yang paling aku takutkan saat itu adalah, “Bagaimana kalau ternyata aku tidak dipercayai..?”

Lalu, aku terlempar pada masa lalu. Masa saat kami masih berkenalan dulu. Aku ingat dia pernah berkata padaku.. 

“Dalam kehidupan. Kita harus punya mimpi yang tinggi. Prinsipku adalah aku harus punya mimpi setinggi bintang. Walau senjataku hanyalah tangga. Setidaknya aku punya pijakan untuk melangkah. Walau ujungnya hanyalah atap rumah atau bahkan buah mangga sekalipun. Setidaknya aku sudah menaiki tangga itu.”

Kadang aku melamun dan berpikir. Bagaimana kalau ia sedang membuat anak tangga sendiri? Namun tidak melibatkanku karena ia takut jika aku terlibat maka aku akan memberikan opsi yang tidak maksimal untuk kualitas anak tangganya? 

Jangan-jangan selama ini kami memasang senjata yang salah. 

Ia pelit dan sukar berkomunikasi untuk senjata dan tamengnya. Sedangkan aku diam dan marah untuk senjata dan tamengku sendiri. 

Hidup kami pun pernah mengalami masa-masa itu. Masa dimana kami tidak terbuka, saling curiga. Dia menganggapku tidak bisa mengatur uang karena aku tak pernah melibatkannya. Dan aku menganggapnya pelit karena dia tak pernah mengikutsertakan diriku dalam membangun anak tangganya. 

Akhirnya aku mengerti. Ini bukan perkara pelit. Ini soal saling mengerti. 

Jika Suami Pelit, Mungkin… 

Mungkin sebenarnya.. Dia sedang membangun mimpi. Maka, berusahalah masuk kedalam mimpinya itu. Libatkan dirimu. 

Rasakan bebannya, kemudian ringankan beban itu. Berusahalah memahami. Tekan ego itu, walau butuh sekalipun berusahalah untuk tetap membangun anak tangga itu. Karena pernikahan harus memiliki mimpi. Semua mimpi dilalui dari rasa susah. Ini berat. Banget. Tapi, sebisa mungkin. Berkomunikasilah. 

Jika rasa pelit itu sudah sangat berlebihan tak ada salahnya untuk mencoba jurus-jurus yang pernah aku tulis ini

Baca juga: Jurus-jurus jitu ketika budget keuangan pas pasan

Memiliki suami yang tak paham dengan pengeluaran rumah tangga itu adalah cobaan sejuta wanita. Banyak sekali wanita diluar sana yang memiliki cobaan yang sama apalagi diawal-awal pernikahan. Sesungguhnya, pelit itu tidak bisa disalahkan selama banyak unsur mimpi didalamnya. Seperti yang pernah terjadi padaku. Tapi jika karena faktor lain, mungkin jurusnya pun berbeda pula. Suami pelit itu salah. Tapi tak sepenuhnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah meyakinkan diri dan pasangan. 

“Kita harus hemat, bukan pelit..”

Suami Hemat dan Pelit? Apa Bedanya? 

Ya beda dong marimar. 

Suami Pelit itu egois, mengesampingkan kepercayaan dan menganggap goalsnya paling benar. Sedangkan Suami Hemat itu memiliki visi dan misi di masa depan dan melakukannya disertai dengan sifat keterbukaan bersama istri sehingga jikapun ‘susah’ maka susahnya terkesan bersama. Bukan dipikul sendirian. Berjalan masing-masing. Heh, pernikahan macam apa itu. 

See? Dalam menikah itu komunikasi adalah koentji. Termasuk itu dalam hal mengkategorikan suami pelit atau hemat. Mau si Suami punya Duit segudang kek, kalau ‘enggak terbuka’ sama pemasukan dan pengeluarannya.. Maka tetep aja namanya SUAMI PELIT. Catet tuh! 

So, kembali ke pembuka artikel ini. Tentang percakapan diatas, apakah menurut kalian suami tersebut adalah suami yang pelit atau terlalu hemat? 

Suami sudah berkata pada istri bahwa uang sampingannya ia berikan pada keluarganya karena mereka juga membutuhkan. Akan tetapi, ia memberikannya begitu saja tanpa berkomunikasi terlebih dahulu pada istri. Mungkin, suami takut si istri tidak memperbolehkan tindakannya. Apakah itu salah? 

Perlu koreksi diri, apakah selama ini sebagai istri kita sering ‘mendikte’ suami ketika ia memberikan uangnya pada yang lain sehingga menyebabkan adanya ketidak-terbukaan. 

Sebaliknya, reframing diposisi istri. Ketika istri sudah ‘meminta’ itu artinya ia sedang membutuhkan. Maka, tentu saja ia berharap bisa diberi. Kalimat balasan suami sedemikian akan menyebabkan istri merasa dinomor-duakan. Kembali lagi, dalam pernikahan.. Sungguh komunikasi adalah kunci. 

Karena andai saja suami tidak gengsi berkata, “Maaf..” Karena sudah tidak jujur soal uang sampingan dsb. Lalu kemudian berusaha agar ia menunaikan kewajibannya. Maka tentu tidak akan ada konflik dan berburuk sangka dalam diam. 

Jika masalah dibiarkan dan istri selalu ‘diam’ maka suami tidak akan merasa bersalah. Maka harus dikomunikasikan. 

Ketahuilah, permasalahan ekonomi ini adalah tiang dalam kesejahteraan rumah tangga. Maka, keterbukaan adalah penawarnya. Ini bukan soal suami pelit atau hemat aja. Bukan soal ‘mengatur uang’ saja. 

Percayalah, bahkan suami boros sekalipun mungkin masih lebih baik dibanding suami hemat tapi tidak terbuka. Dalam catatan suami boros tersebut terbuka tentang keuangannya. 

So.. Suami Misua Hubby Honey diluar sana.. 

Percayailah Istrimu. Itu saja. 

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

“Gak boleh anak perempuan itu begitu. Nanti kalo tinggal di tempat mertua malu loh..”

“Jadi anak cewek tuh harus bisa masak, malu kalo tinggal sama mertua nanti.”

“Ish, masakan rasanya kek gini. Malu ah kalo diicip mertua.. “

***

Mertua, mertua, mertua. 

Belum juga menikah, cerita horor tentang mertua sudah sering menjadi kambing hitam kala sang single tidak becus melakukan pekerjaan. Kenapa sih ya orang suka sekali menceritakan karakter horor tentang mertua. Seolah-olah kita harus menjadi ‘seperti ini’ kalau tinggal dengan mertua. Padahal nih ya.. Kan gak semua mertua itu jahat? Ya kan! 

Selama 8 tahun berumah tangga. Sedikit banyak aku mengerti sekali kenapa hubungan mertua-menantu perempuan itu kadang sedikit rentan dengan gesekan. Kalian tau gesekan apa yang sering terjadi? 

Kalau aku amati sih. Ini bukan karena gesekan mertua horor dsb kek cerita zaman old dulu. Tapi, gesekan yang sering terjadi adalah tentang perbedaan passion dan gaya hidup karena adanya perbedaan generasi. Kalau mertua sih coba deh dicari sisi baiknya, pasti adakok. Ehm bener gak? 

Mendekati Hati Mertua, Bagaimana Caranya? 

“Mertuaku ini suka begini loh. Kalo gak bisa masak sering disindir-sindir gak bisa menghemat duit suami bla bla”

Tentunya gak sedikit dong ya yang mengalami hal demikian. Kadang karena perbedaan generasi, mertua dan menantu perempuan sering berselisih atau menyembunyikan perasaan tidak nyaman. Akibatnya, jadi malas sekali bertemu mertua. Bukan hanya itu, kalau pun bertemu rasanya takut sekali kalau salah ngomong dsb. 

Well, sambil menulis ini.. aku jadi teringat dengan film The Croods. Ada yang tau? Film ini fun banget dan rekomen buat ditonton. Latarnya di zaman prasejarah tentang sebuah keluarga croods yang tinggal di dalam gua lalu kemudian bertemu dengan Guy si manusia modern. 

Sisi menarik yang aku pelajari dalam film ini adalah cara Guy menarik perhatian Grug atau Ayah dari Epp. Well, iya.. Ini memang antara menantu laki-laki dan calon mertua laki-laki. Tapi, sungguh cara ini juga tentu berlaku untuk menantu perempuan dan mertuanya. 

Guy (si manusia modern) punya cara yang jauh berbeda untuk dapat survive dalam hidup. Dan hal ini sering mendapat penolakan dari Grug. Hal ini sangat sama jika dibandingkan dengan kita (sang menantu yang hidup di generasi milenial) dan mertua (yang hidup di generasi baby boomers). Pada akhirnya, walau Grug sering menolak cara-cara Guy.. Akan tetapi pada akhirnya Grug luluh juga. Apalagi ketika melihat anak perempuannya Epp yang bisa menengahi keduanya. 

Dari Guy, aku belajar banyak cara untuk mendekati hati mertua. Pertama, adalah dengan selalu mengikuti pola pikirnya. Kedua, adalah dengan mencoba memasuki kesamaan kebiasaan positif dalam generasinya lalu perlahan membantu dengan cara sendiri. Dan ketiga adalah dengan menghormatinya. Yah, setidaknya berpura-puralah kalau cara mertua adalah yang paling benar walaupun itu kuno dan tidak modern. 

Rumusnya adalah.. Hargai dulu. Karena setiap orang tua butuh hal itu. 

Haruskah Menyamakan Gaya Hidup dengan Mertua? 

Apakah aku sudah pernah bercerita bahwa aku pernah tinggal di rumah mertua selama 1 tahun? Oh sudah ya. Aku pernah menulis sedikit tulisan baper dahulu tentang mertua. Haha. No.. Aku tidak mau menghapusnya. Bisa menjadi pembelajaran buatku untuk move on walau ceritanya begitu amat. Hihi. 

Mertuaku hidup dalam generasi baby boomers dan sangat menjunjung tinggi caranya sendiri untuk hidup. Beliau termasuk pribadi yang keras dan tidak mau mengikuti perkembangan teknologi. Dan beliau bangga akan hal itu. 

Sewaktu tinggal dengan mertua, di hari pertama aku kaget sekali ketika beliau masih menggunakan kayu bakar untuk merebus air. Ya ampun, asapnya kemana-mana. Aku yang sejak kecil alergi dengan debu, bulu kucing, dan asap langsung bersin-bersin ketika menciumnya. Berakhir dengan kikuk meringkuk di sudut dapur. Menggaruk lantai dan bingung mengerjakan apa. Wkwk. (Oke kalimat terakhir sedikit hiperbola) 

Dan tragedi asap ini berlangsung hingga siang hari. Disiang hari mertua terbiasa membuat ikan bakar dengan menggunakan kayu bakar hingga menjadi bara. Walau mataku berbinar-binar karena alergi, aku memberanikan masuk dapur dan pura-pura lihai memasak. Ya, aku mengaku bisa memasak waktu pertama berkenalan dengan mertua. Tapi sungguh tidak tau kalau metode memasaknya sebegitunya. Hihi. 

Well, itu sedikit gambaran hidup dengan mertuaku. Bisa dibayangkan hidup setahun disana sudah begitu banyak cerita suka duka. Mertua memiliki metodenya sendiri untuk hidup. Memasak memakai kayu bakar, tidak mau menggunakan mesin cuci, tidak mau menggunakan pengering, mengepel lantai dengan cara tradisional, semua serba membuat sendiri. Tapi aku tidak mau menurutinya. Well apakah aku menantu durjana?

Aku tetap belajar padanya. Belajar untuk memanggang ikan kesukaan suamiku. Tapi, aku tetap tidak mau menuruti cara yang lain. Kenapa? Karena aku juga punya impian. Dan aku tidak mau impianku terkubur hanya karena menuruti metode mertua dalam bertahan hidup. Karena layaknya film the croods, aku memposisikan diri sebagai manusia yang hidup di generasi berbeda. Tidak mungkin bukan aku harus menuruti cara hidup generasi yang lain bukan?

Karena aku sudah pernah mencoba hidup ‘seperti mertua’ dan psikologisku berakhir bagaikan film Kim Ji Young. 🙂

Mencari Jalan Tengah dari Perbedaan dengan Mertua

Dengan prinsipku yang berubah sedemikian, apakah aku tidak pernah berselisih pendapat dengan mertua? 

Tentu saja sering. Huahaha. Satu tahun hidup satu atap loh. Dan ini termasuk ujian 5 tahun pernikahan yang terberat.

Something like, “Jangan mencuci baju dengan menumpuk 2-3 hari, Memasak ikan harus begini begitu.. Jangan begini, jangan begitu..Begini cara hidup hemat.. Bla bla “

Konflik itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan Guy dan Greg juga sering berbeda pendapat. Akan tetapi, pada akhirnya ada yang menyatukan mereka berdua. Apakah itu? 

Pertama adalah inovasi. Kedua adalah Epp. Yang dalam hidupku maka aku memerlukan jalan tengah dari suamiku. 

Aku selalu mencoba menghormati cara mertua untuk hidup termasuk dengan kearifan lokal yang dijunjung tinggi. Semuanya mengagumkan. Tapi, aku juga harus berusaha menunjukkan pada mertua bahwa ‘cara hidupku juga benar loh’.

Bahwa aku juga bisa mencari uang dengan caraku sendiri dan tidak perlu berhemat secara berlebihan. Aku juga memiliki cara sendiri untuk merawat diri, tidak terbatas pada cara tradisional saja. Aku juga bisa memasak dengan caraku sendiri, mencuci dengan caraku sendiri, mendidik anak dengan caraku. Aku menghormati cara mertua, tapi tidak bisa meniru semuanya. Karena cara waras kami berbeda. 🙂 

Untuk meyakinkan hal itu maka aku butuh ‘Epp-Ku’ atau Suamiku. Dialah jalan tengahku. 

Dan tentu saja mengatur jalan tengah pun tak semudah yang dikira loh. 

Suamiku adalah fans berat Ibunya. Apapun yang dilakukan ibunya adalah terbaik dimatanya. Awalnya, aku mencoba menjadi sebaik Ibunya untuk mengambil hatinya. Akan tetapi, seiring berjalan waktu aku harus menegaskan padanya bahwa. ‘Aku adalah aku’ dan ‘Aku tak bisa menjadi seperti Ibunya’. 

Alhamdulillah seiring waktu dia bisa mengerti hal itu. Aku selalu menerornya (menuliskan dengan lemah lembut beberapa artikel pernikahan..wkwk) agar dia paham betapa pentingnya menjaga hati istri dan impiannya. And its worked. 

Jadi, setiap ada sedikit perselisihan tentang metode hidup dengan mertua. Suami datang membela, menjelaskan caraku dengan bahasa yang sedap didengar. Sejak itu, mertua sedikit demi sedikit paham dengan diriku. Sebaliknya, melalui ‘dongeng’ suami aku juga perlahan memahami betapa baiknya sifat mertua. 

Dan yaa.. Akhirnya aku dan mertua saling mengerti kehidupan kami masing-masing. Dan kami saling menghargai passion masing-masing. 

Mertua pandai memasak, apapun yang diolah dengan tangannya selalu enak. Mungkin karena kayu bakar itu. 

Dan aku? Aku sedang mencari impianku sendiri. Yang jelas, aku tidak bisa meraihnya dengan kayu bakar. 

Dan mertua sudah memahami itu. Bahwa tanganku berbeda. 

Bahwa aku berbeda. 

Aku adalah aku. Aku tidak mau menjadi seperti mertua untuk mendapatkan kasih sayang suami. 

Suami menyayangiku, karena aku adalah aku. Bukan karena mirip dengan Ibunya atau mencoba mirip dengan Ibunya. 🙂 

Dan tentunya, mertuapun menyayangiku karena aku adalah aku..

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

“Gimana ya cara ngomong sama suami, masa aku dikasih segini aja tiap bulan? Padahal udah tau anak nambah. Udah tau biaya sekolah segini, biaya bulanan segini.. Kok masih gak ngerti aja ya.. “

Sebuah diskusi awal dari grup WAG emak-emak yang tentu saja ada aku didalamnya. Sebagai silent reader, aku hanya bisa manggut-manggut membaca chat demi chat yang mengompori maupun menyemangati Ibu tersebut. Ingin sekali rasanya ikut nimbrung. 

Writing.. Tapi delete lagi.. Writing.. Tapi delete lagi.. 

Ya ampun, aku memang gak pede sih kalau ikutan nimbrung di tengah-tengah banyak kepala begini. Akhirnya, kuputuskan untuk menyimak hingga akhir. Dan, selang seminggu berlalu.. Kuberanikan diri untuk menulis blogpost ini.. 

Bagaimana Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir? 

Jujur, selama 8 tahun umur pernikahan.. Aku sangat pernah mengalami hal yang sama dengan Ibu tersebut. Dari awal nikah yang hanya dikasih nafkah 300rb, lalu 1 juta, 2 juta, hingga 3 juta. Aku sendiri? Bukanlah seorang Ibu pekerja. Aku hanya perempuan biasa yang memilih nikah muda kemudian menjadi IRT saja. Tanpa uang sampingan_ Apalagi statement mandiri secara finansial. Ya setidaknya sebelum ngeblog dsb. 

Aku juga pernah menangis di kamar. Memikirkan bagaimana menambal uang sekolah anak. Apalagi ketika sudah ‘meminta’, bukannya uang yang aku dapatkan tapi sebuah keluhan. Seakan aku bukanlah manager keuangan yang pantas dalam rumah tangga untuk diberikan kepercayaan. 

Aku juga pernah memandang iri kepada teman-temanku. Apalagi kepada mereka yang disayang oleh suaminya, padahal mereka tidak sehemat aku dalam mengelola uang. 

Jadi, seandainya bisa.. Aku ingin memeluk Ibu yang mengeluh tersebut. Mengatakan kepadanya.. “I feel you..”

Yah, bagiku.. Tidak cukup berkata sabar kepadanya sebagai semangat. Tidak cukup pula berkata ceramah dsb. Apalagi untuk menguatkan dengan menyuruhnya memulai usaha untuk bisa mandiri secara finansial. Itu bukanlah hak yang bijak ditengah-tengah keluhan itu. 

Tapi, pengalaman 8 tahun menikah membuatku banyak belajar. Bahwa mengatasi suami yang lemah soal nafkah lahir bukanlah hal yang instan. Perlu proses panjang. 

Bahkan jujur saja, aku baru-baru ini saja mendapatkan kepercayaan untuk mengelola keuangan rumah tangga. Bayangkan apa yang terjadi padaku sebelum ini? Aku bahkan pernah menulis tulisan konyol sebagai kode lucu untuk suami. But, no respon. Hahaha

Baca juga: “10 Jurus yang Perlu Istri Ketahui Ketika Jatah Bulanan Kurang

Ah lupakan. Pada akhirnya, jurus-jurus dibawah inilah yang efektif untuk menaikkan jatah bulanan. 

1. Pahami Pola Pikir Suami, Apakah Ia Memiliki Tanggungan Lain? 

Pernah mendengar istilah sandwich generation

Yaitu ketika generasi penerus harus menanggung kebutuhan hidup generasi sebelumnya?

Itulah yang terjadi pada keuangan rumah tanggaku. 

Nafkah yang dimulai dari uang 300rb, tinggal di rumah mertua, lalu memberanikan diri membeli rumah dengan kredit, dapat jatah bulanan 1 juta dengan anak yang masih bayi.. Itulah rumah tanggaku dahulu. Thats why, dulu aku sampai terkena baby blues. Salah satu faktornya karena ekonomi. 

Tapi mau bagaimana lagi? Jika mengingat kondisi sangat tidak memungkinkan untukku bekerja diluar. Akupun juga pernah berusaha berjualan online. Tapi ya.. Begitulah.. Hiks

Dan diatas semua kondisi itu, aku tidak mungkin menyalahkan suami. Tidak mungkin pula untuk menyuruhnya mengutamakan keluarga kami. Menikah dengan suami yang merupakan anak lelaki dari seorang Ibu yang janda serta memiliki beberapa adik yang masih sekolah maka aku juga harus rela berbagi. Itulah risiko yang harus aku hadapi diawal pernikahan. 

Tanggungan-tanggungan seperti ini merupakan hal yang harus kita perhatikan. Ketika suami memberi nafkah kecil karena memiliki banyak tanggungan, maka kita harus berusaha ikhlas. Itulah ujian dalam pernikahan

“Wanita yang mendampingi lelakinya dari masa sulit akan lebih bermakna dibanding mendampingi lelakinya pada masa senang-senangnya saja.. “

2. Bersabar dan Kuat dengan Pola Hidup Sederhana untuk Memperoleh Kepercayaan

Memiliki tantangan sebagai sandwich generation berarti harus menemukan solusi untuk bisa mengatur keuangan. Pilihannya adalah apakah harus menambah pemasukan? Atau hidup super hemat dengan pemasukan apa adanya? 

Sebagian besar tentu akan menjawab menambah pemasukan. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berperan menambah pemasukan itu? Apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau Istri bekerja diluar? Atau Istri bekerja di rumah saja? 

Percayalah, kami sudah mencoba berusaha menambah pemasukan pada awal-awal pernikahan. Dan Alhamdulillah, pemasukan itu dapat kami tabung sedikit demi sedikit untuk membeli uang muka rumah. Memiliki rumah sendiri adalah prioritas kami saat itu. Walau sebenarnya, sisa uang yang kami miliki karena kredit rumah ini terbilang ngepas. 

Karena itu, tidak ada pilihan lain selain mencoba bersabar dan kuat dengan pemasukan yang ngepas ini. Mau tidak mau, harus bisa mengatur budget yang ada untuk kebutuhan sebulan. Nasi dengan lauk apa adanya, menahan diri untuk tidak membeli skincare, tutup mata dengan kilauan dunia sosial. Itulah perjuangan awal menikah dengan uang yang tidak sampai 2 juta per bulan dan memiliki bayi. 

Oya, aku punya sedikit tips untuk mengatur keuangan rumah tangga dengan budget kurang dari 2 juta.

Baca juga: Tips Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga ala Shezahome

Kadang, suami itu bukannya pelit tentang nafkah lahir. Akan tetapi, memang begitulah keadaannya. 

Kadang, suami itu bukannya tidak mau jujur tentang berapa banyak ia memberi Ibu maupun saudaranya. Tapi ia takut dengan rasa cemburu Istri yang mungkin terbakar karena rasa ikhlas yang turun naik. Hiks

Dan memang sebagai Istri, kita harus sedikit sabar.. Mengikuti pola pikirnya selama beberapa saat kemudian sederhanalah dalam mengatur keuangan agar setidaknya mendapatkan kepercayaan penuh dari suami. 

Tujuan awalku dalam sabar, kuat dan sederhana ini sangat simple sebenarnya. Bukan meminta untuk uang bulanan yang diberikan lebih. 

Aku hanya meminta, “Jujurlah padaku setiap kali kamu memberikan uang pada Ibumu. Aku tidak marah. Aku hanya ingin diberikan sebuah kepercayaan.. “

“Karena aku cukup hemat, aku bisa hidup sederhana.. Akulah manager keuangan terbaik.. Bukan yang lain.”

3. Sesedikit Apapun, Cobalah untuk Berterima kasih Sebisa Mungkin

Terdengar naif ya? 

Kalau diberi uang satu juta untuk sebulan padahal itu sangat kurang.. Apakah masih harus berterima kasih? 

Harus. Itu adalah tanda kita menghargai suami. Karena tenaga suami terisi dari perasaan dihargai oleh Istrinya. 

Tugas kita sebagai istri selanjutnya adalah belajarlah berkomunikasi sedikit demi sedikit tentang perekonomian rumah tangga. Artinya, jangan malu untuk mengeluh pada suami. 

Harga beras naik? Biaya sekolah naik? Keluhkan. 

Tidak ditanggapi? Malah diceramahi karena tidak bisa mengatur uang? Marahlah sesekali. 

Kesal banget? Sampai mau curhat ke teman dan sosial media? 

Itu manusiawi. Semua orang punya masa dimana dia butuh pendengar dan penolong. Aku pun juga sering begitu. 

Tapi sekesal-kesalnya kita dengan suami perihal nafkah yang tidak cukup jangan pernah lupa untuk menghargainya. Bahkan untuk sebijik gorengan saja. Berterima kasihlah. 

“Karena bisa saja dia membelikanmu 10 gorengan. Tapi 9 lainnya ia bagikan. Ia takut memberitahumu karena dirimu tak pernah menghargainya dengan terima kasih. Hati kerasmu telah membuatnya takut dan berprasangka..”

Karena menikah itu adalah tentang saling menghargai. Bagaimana bisa kepercayaan diberikan jika menghargai saja tidak bisa? 

Turunkan ego. Hargai dulu. Kuatlah sebentar dengan rasa itu. Semoga tidak sia-sia. 

4. Milikilah Pilihan Bijak Tentang Meningkatkan Pendapatan

Mari menyambung point nomor 2 tentang opsi lain selain mencukupkan nafkah yang ada yaitu menambah pemasukan. Karena konon sebenarnya inilah jurus pamungkas dibalik ketidakcukupan nafkah. 

Pilihannya adalah, apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau sebaiknya istri juga membantu secara finansial? 

Semua pilihan baik. Tapi, pilihan terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Karena tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika Ibu bekerja. Pun sebaliknya.. Tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika suami bekerja terlalu keras hingga LDR dsb. 

Aku sendiri memilih opsi untuk memaksimalkan potensi suami. Suamiku memiliki mimpi besar selain hanya menjadi dosen. Ia memiliki mimpi untuk membangun perusahaan IT dengan bakat programming yang dimilikinya. Mimpi ini sudah lama ia rancang. Tugasku? Mendampingi dan mendukungnya dari awal. Jangan tanya tentang hal yang aku korbankan demi mendukung ini. Aku mengorbankan sebagian mimpiku. But its okay. Mimpiku yang terbaik adalah mendapatkan kepercayaan dari suami. Dan menggali sedikit mimpiku dari keberhasilan suami. 

Karena itu, aku harus full dalam usaha melayani. Tapi sekali lagi.. Itu adalah pilihanku. Bukan berarti juga itu adalah pilihan yang terbaik bagi semua rumah tangga.

Intinya, dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga sangat dibutuhkan kerja sama yang seimbang. Jangan sampai suami terlalu lelah bekerja kemudian tidak mendapatkan apresiasi. Jangan pula istri terlalu lelah bekerja kemudian suami lalai dengan kewajibannya. 

5. Jangan Kebablasan dengan Pola Hidup Mandiri Secara Finansial

“Makanya wanita harus punya penghasilan sendiri. Ya buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena kadang suami itu gak paham. Dikira kebutuhan hidup cuma buat beras dan lauk.. “

“Iya, suami juga gak bakal ngerti sama pentingnya punya skincare dan make up.. “

“Ah pokoknya biarlah. Yang penting penghasilan aku cukup buat kehidupan aku dan anak.”

Yah, aku akui.. Wanita yang mandiri secara finansial itu luar biasa hebat. Aku pun juga selalu punya mimpi untuk bisa memiliki penghasilan sendiri. Apalagi, kehidupanku dikelilingi oleh wanita-wanita pekerja. Aku cukup banyak tahu hal positifnya jadi ibu pekerja. 

Tapi, kadang-kadang karena saking hebatnya.. Wanita yang memiliki penghasilan sendiri menjadi ajang ‘aji mumpung’ untuk suami meninggalkan fitrah tanggung jawabnya. Hiks.. 

Ini banyak terjadi, kita sebagai wanita kadang selalu mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Terlalu over empati lalu berujung kasihan dengan suami sendiri sampai tanpa disadari kita malah membiarkan suami meninggalkan fitrahnya. Lalu karena saking terbiasanya kemudian berpikir.. ‘Ya sudahlah..’

Padahal, ini bukan pola yang benar. Bagaimanapun juga suamilah yang bertanggung jawab untuk nafkah lahir keluarga. Adapun peran istri adalah mendukung suami. 

Okelah kalau uang istri dipakai untuk mendukung passion suami, menemaninya mulai jatuh hingga bangun. Tapi ingat, ketika suami sudah berhasil dengan usahanya maka tuntutlah hak kita dengan komunikasi yang benar. Jangan dibiarkan saja. Salah-salah nanti uangnya untuk istri kedua.. *etdah kok jadi ke sinetron ikan terbang. 

Intinya, kembalikan sesuatu sesuai fitrahnya. 

Suamilah yang sebenarnya bertanggung jawab untuk nafkah keluarga, jikapun istri membantu maka itu bernilai sedekah. Jangan kebablasan membiarkan demi rasa yang terbiasa. 

Karena ketika istri menjadi serba bisa tanpa bantuan suami, maka hatinya perlahan menjadi keras. Ia tak lagi lembut seperti dahulu. 

6. Berdoa.. berdoa.. berdoa! 

“Tapi sudah dikomunikasikan.. Sudah sampai nangisss rasanya. Okelah buat aku sendiri gak usah dikasih apa-apa. Tapi minimal.. Masa buat anak sendiri aja enggak mau tanggung jawab.. “

“Laki-laki ini selalu minta dihargai, bagaimana bisa dihargai kalau sama tanggung jawabnya sendiri aja lalai. Apa yang mesti dihargai?”

“Sedih rasanya ketika tau suami punya uang lebih tapi gak pernah kasih ke aku. Malah kasih kesini.. Kesitu.. Sudahlah sering denger ceramah dari Ustad dsb. Tapi mantul gitu aja.. “

Jika sudah mengalami titik kritis seperti diatas padahal sudah berusaha maksimal sekali maka… berdoalah. 

Eeeh.. Jawaban putus asa banget win? 

Iya, emang kalau sudah putus asa lari kemana lagi? Sujud kepada-Nya lah yang bisa menjawabnya. Karena… 

“Jangan pernah menganggap remeh kekuatan dari doa.. Kita tidak pernah tau bagaimana cara ajaib yang berhasil dari kekuatan ini.. “

Selama 8 tahun pernikahan, aku sebisa mungkin mengamalkan doa dari Mama. Menyisihkan waktu untuk sholat dhuha agar pintu rejeki terbuka. Dan yang lebih penting lagi, agar pintu hati suami terbuka. Karena apa gunanya banyak rejeki tapi tidak ada keterbukaan? 

Apakah dalam sekali berdoa maka akan dikabulkan? Tentu saja tidak. 

Aku sudah bilang bukan? Bahwa selama 8 tahun pernikahan.. Doaku terjawab di tahun 2020 ini saja. 

Doa-doa simple seperti.. 

“Ya Allah, semoga kalau suami pulang kerja setidaknya sesekali bawa makanan.. “

“Ya Allah, semoga suami kalo curhat ngasih tau tentang penghasilan sebenarnya dan ngasih ke siapa aja..”

Sesimple itu. Dan semuanya dikabulkan perlahan-lahan. Bahkan diberikan bonus oleh Allah berupa dicukupkannya nafkah bulanan bahkan hingga berlebih. Semuanya atas kekuatan sabar dan doa. 

Dan diakhir tulisan ini, bagi siapapun istri yang memiliki nasib yang sama cobalah untuk sedikit saja mengaplikasikan poin-poin diatas.

Teruntuk para suami yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini, pesanku hanya satu.. “Percayailah Istrimu untuk mengatur uangmu” 🙂

IBX598B146B8E64A