Browsed by
Tag: Problematika Anak pemilih dalam berteman

Anak Pemilih dalam Berteman? Wajarkah? Apa Dampaknya?

Anak Pemilih dalam Berteman? Wajarkah? Apa Dampaknya?

Ada tidak sih emak-emak yang suka bertanya-tanya, “Kok anak saya mainnya sama itu itu melulu ya?”

“Kok kalau ditempat ramai dia nempel sama aku aja?”

“Kok kalau disuruh deket sama si anu dan si anu dia ga mau ya?”

“Wajar tidak ya jika anak saya pemilih dalam berteman?”

“Apa sifatnya itu tidak akan mempengaruhi adaptasinya nanti di lingkungan yang baru?”

Ada ga sih mom yang nanya hal beginian?

Kalau ada, yuk kita kompak dulu.. 😂

Galau ya mom, apalagi nih kalo anak kita yang tadinya TK mau pindah ke SD, yang tadinya SD mau pindah ke SMP, yang tiba-tiba mau pindah rumah karena bapaknya pindah kerja. Tiba-tiba khawatir gimana kalau anak kita galau tingkat dewa sampai ga bisa move on lama kayak film inside out. Saking galaunya malah ngajak emak-emak lain ikutan pindah juga khususnya sih yang anaknya dekat sama kita. Bener ga? Ngaku aja lah.. Hahaha..

Padahal nih ya.. Padahal sang emak perfeksionis sudah mencari-cari dan meneliti kira-kira sekolah mana yang bagus buat si kecil? Eh, pas ditanya temen akrabnya sekolah dimana dan tau ternyata tidak satu sekolah malah galau lagi.. 😂

Kenapa sih?

Kenapa sih terjadi kekhawatian tentang hal beginian? Khawatir kalau sifat pemilih yang ada pada anak kita akan terbawa dengan dampak psikologis jika terjadi perubahan teman dan lingkungan. Sebagai pembuka, berikut beberapa sebabnya yang saya analisis:

1. Mama terkenang masa lalu

Mama terkenang masa lalu bahwa perubahan lingkungan dengan sifat pemilih demikian pernah terjadi pada masa kecilnya dan berefek jangka panjang. Entah itu menjadi bersifat pendiam secara mendadak maupun merasa dikucilkan dilingkungannya yang baru karena hilangnya teman dan lingkungan yang lama. Dan tentu saja, mama khawatir nasib anaknya akan seperti dia kelak yang sulit atau bahkan tidak bisa move on.

2. Mama memiliki kepribadian melankolis maupun plegmatis.

Tidak dipungkiri bahwa mama yang memiliki kepribadian melankolis memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding mama sanguinis. Biasanya anak akan menurun dari orang tuanya yang menyebabkan anak bersifat selektif dalam berteman.

Selain mama melankolis, ada mama plegmatis yang suka merasa nyaman menjadi ‘pengikut’. Sehingga jika teman akrab mama ataupun teman akrab anak tidak deal dalam skema perubahan maka mama plegmatis akan membuntut pada pribadi yang dominan.

***

Kedua alasan diatas merupakan penyebab kekhawatiran berlebihan pada orang tua ke anak mereka akan sifat selektif anak dalam berteman. Hmm.. Sebenarnya wajar tidak sih jika anak pemilih dalam berteman? Haruskan kita membuatnya dan mengaturnya bahwa ia harus berteman akrab dengan semua anak?

Bagaimana kalau mereka tidak dapat seperti itu?

Pemilih itu wajar, moms..

Moms, tentu wajar jika anak kita memiliki satu atau dua tiga teman akrab bahkan membuat kelompok dengan temannya. Hal itu merupakan bentuk pembelajaran nyata mereka tentang mengenal populasi. Tahap ini pasti akan terjadi ketika anak sudah mengenal lingkungan, khususnya sekolah. Mereka akan berteman dengan yang mereka rasa ‘sejenis’ dengannya.

Pada tahap ini sangat jarang ada anak yang mau berteman dengan siapa saja, dalam artian mereka tidak memiliki ikatan yang dominan. Karena mereka berada dalam tahap belajar berteman.

Karena anak memerlukan ikatan dominan..

Secara psikologis, anak kecil lebih menyukai berteman dengan teman yang membuat mereka diterima dan merasa nyaman. Karena itu mereka memerlukan ikatan yang dominan dengan memiliki satu-dua atau tiga teman akrab untuk berbagi perasaan dan saling bermain.

Dampak dari ikatan dominan inilah yang menyebabkan anak kita lebih suka berteman dengan itu-itu saja. Karena ia merasa terlalu nyaman sehingga timbul perasaan baru yang dinamakan ‘setia’. Namun, masing-masing anak memiliki pribadi yang unik dalam memandang arti setia.

Kebanyakan anak yang melankolis menganggap kesetiaan adalah hal mutlak, dia konsisten untuk hanya berteman dengan ‘dia saja’

Kebanyakan anak yang sanguinis menganggap kesetiaan adalah keramaian bermain. Jika membosankan maka ‘jangan ditemani’.

Kebanyakan anak yang koleris menganggap kesetiaan adalah kepercayaan. Jika ada yang berkhianat maka ‘dia bukan pengikut yang baik’

Kebanyakan anak yang plegmatis mengganggap kesetiaan adalah mengikuti yang menyenangkan. Maka berusahalah terlihat menyenangkan untuk ‘dapat ditemani’

Sifat dan kepribadian yang unik pada anak inilah yang membuat ia memilig untuk memiliki ikatan dominan terhadap siapa yang ia inginkan. Nah moms, anakmu pribadi yang mana?

Mereka memilih ikatan yang membuatnya merasa nyaman..

Dalam beberapa kasus, ada anak kecil berjenis kelamin perempuan yang dekat dengan teman laki-laki. Kenapa? Karena ia merasa nyaman saat dekat dengan ayahnya dirumah. Hal ini juga dapat terjadi jika didalam lingkungan sekolah ia merasa memerlukan ‘perlindungan’. Namun, kasus ini termasuk jarang. Kebanyakan anak kecil lebih suka bergaul dengan sesama laki-laki maupun sesama perempuan.

Anak yang selektif dalam berteman itu ada positifnya loh..

Iya, serius lah.. Banyak dampak positif dari anak yang selektif dalam berteman. Apa aja sih?

1. Anak memiliki rasa setia

Ini tentu sudah jelas ya. Anak yang pemilih dalam berteman dan hanya suka menempel dengan itu-itu saja pastinya punya rasa setia.

Kebaikannya apa? Pastinya baik buat dijadiin calon mantu idaman karena pantang mendua… *loooh.. 😂

2. Anak memiliki rasa persahabatan

Sahabat itu beda loh dengan teman biasa. Karena teman biasa ibarat tokoh figuran dan sahabat itu ibarat pemeran utama juga. Boleh ga sih beda-bedain gini? Kok kesannya pilih pilih? *lah kok nanya lagi? Udah jelas kan diatas jawabannya? He

Rasa persahabatan ini adalah awal dari koneksi baik untuk anak. Persahabatan yang baik akan mengajarkan anak untuk memahami nilai kebersamaan seperti kerja sama, mengalah, rela berkorban, dan lain-lain.

3. Anak belajar berhati-hati

Setuju ga sih kalau anak pemilih itu cenderung lebih hati-hati? Seakan ada lampu warning langsung menyala saat melihat orang yang tak dia sukai. Dan dia menjauh.

Mungkin ini adalah hasil dari didikan orang tua dirumah yang menyuruhnya untuk selalu berhati-hati. Mungkin pula ini bawaan dari psikologis anak yang sudah dari sononya dia suka curiga. Kalau aku melihat anak yang begini sih selalu salut. Pastinya dia anak cerdas yang punya tingkat waspada yang tinggi.

Positifnya apa? Anak begini susah diculik buu.. Hahhaha.. Bawaannya curiga terus. 😂

4. Anak belajar mengembangkan potensi khususnya

Pernah tidak kita mengamati bahwa anak yang suka bermain dengan berkelompok itu dia memiliki potensi khusus yang terorganisir loh.

Iya, soalnya ini bentuk adaptasi psikologisnya juga. Saat berteman ia akan melihat bahwa temannya memiliki kemampuan begini dan begitu. Lalu, sebagai anak yang ingin diakui kelompoknya tentu ia akan mengembangkan salah satu bakatnya untuk dapat dilihat. Ini kalau anak melankolis, sanguinis dan koleris ya.. Kalau plegmatis biasanya lebih suka meniru kemampuan temannya.

Jadi, siapa bilang anak yang pemilih dan suka bermain dengan yang itu-itu saja adalah perilaku negatif? Banyak segi positifnya juga loh..

Tapi, selektif juga ada negatifnya loh..

Kapan sih perilaku selektif dapat berdampak negatif? Berikut ulasannya:

1. Saat ia berteman dengan yang tidak seharusnya

Berteman bagaikan memilih parfum, jika kita salah memilih maka kita akan memiliki bau yang sama.

Setuju?

Selektif dalam berteman akan berdampak sangat negatif jika anak salah memilih teman. Kebanyakan anak yang memiliki pribadi plegmatis biasanya tidak sadar bahwa ia memilih teman yang salah karena ia adalah peniru ulung. Sangat dibutuhkan perhatian orang tua dalam melihat pergaulan anaknya apalagi diusia dini.

2. Saat kelompoknya sangat dominan dilingkungannya sehingga dapat merendahkan teman lainnya dan mengakibatkan kesenjangan

Pernah tidak sih sewaktu kita sekolah dulu kita melihat beberapa ‘genk’ yang terkesan ‘tinggi’?

Pasti pernah dong ya.. Genk kumpulan ‘Anak orang Kayah’, genk kumpulan ‘Anak berwajah Artis’ hingga ‘Genk Anak Culun dan Pintar’. Negatif tidak sih?

Negatif kalau anak kita termasuk kedalam sana.. 😂

Anak kita masuk genk artis, kita yang rempong memodali mereka.

Anak kita masuk genk Culun, kita yang rempong menumbuhkan rasa percaya dirinya dari ‘bully’ sang genk artis.

Haduh, rempong ya emang kalau sudah ketahap ini. 😂

Intinya, sebagai orang tua kita harus peka dengan teman akrab anak kita. Jangan sampai ia salah masuk genk dan membawa dampak negatif dengan kesenjangan sosial dilingkungannya.

3. Over-setia yang menyebabkan dia sulit beradaptasi dilingkungan lain

Ini? Anak emak banget atau emak waktu kecil banget sih? 😂

Iya, memang ada loh anak yang sukanya dekat dan menempel dengan pribadi yang itu saja. Ia terlalu merasa nyaman dengan temannya tersebut sehingga sulit berteman dengan yang lain. Biasanya anak berkepribadian melankolis dan plegmatis turunan akan seperti ini. Negatifnya dia akan sulit bergaul dilingkungan berbeda dan teman yang sepenuhnya berbeda pula.

Lantas, Bagaimana cara adaptasi anak selektif dilingkungan baru?

Tentunya kita sebagai orang tua harus berperan aktif dalam memantau lingkungan anak. Sebelum kita memutuskan ingin berpindah kelingkungan yang baru dan berhadapan dengan dilematis anak maka kita harus mencari tahu sebab dari sifat pemilhnya itu. Kebanyakan anak pemilih dalam berteman pasti memiliki kriteria khusus untuk teman akrabnya. Jadi, hal yang harus kita lakukan adalah:

1. Jadilah teman baginya

Beberapa anak yang berpindah lingkungan tentu akan merasa asing dengan lingkungan barunya. Maka, jadilah teman untuknya sementara waktu. Dengan begitu ia tidak akan terlalu merasa sendirian. Namun, tentu tidak baik juga kalau dia harus membuntuti kita kemana saja karena rasa asing itu, maka..

2. Carilah teman yang baik untuknya

Pelajarilah kriteria teman akrabnya dahulu lalu carilah teman yang mirip seperti temannya dahulu di lingkungan yang baru. Tidak ada? Pasti ada. Jika kita merasa temannya yang mirip sudah tergabung dalam ‘genk khusus’ maka bergabunglah sejenak.

3. Bertemanlah bersama dengan ia dan temannya

Ya, ini mungkin agak kekanakan. Tapi punya jiwa sedikit childish itu kadang penting juga. Dengan begitu kita akan tau karakter dari teman-temannya. Kadang, keterlibatan orang tua juga memiliki dampak positif loh asalkan kita benar-benar bisa menjadi teman bagi mereka.

Point ini harus dikerjakan dengan benar. Karena jika point ini berlebihan mungkin anak akan semakin dijauhi karena kita ikut campur dalam urusan pembelaan dsb.

4. Buatlah hoby yang menyenangkan untuknya

Yes, the last thing is a hoby..

Jika anak masih dirasakan sulit beradaptasi karena sifat selektifnya maka carilah hoby untuknya. Hoby dapat membuat passion pada anak loh bunda. Jika hobynya berkembang menjadi sebuah keterampilan khusus maka teman akan datang dengan sendirinya dan anak akan merasa dihargai di lingkungannya.

Artikelnya panjang?

Anggap emak sedang semangat menulis setelah beberapa hari gak update. Hihi..

Happy Parenting Moms!

IBX598B146B8E64A