Fase baru dalam kehidupan anakku, “Biarkan dia Keluar Kandang” 

Fase baru dalam kehidupan anakku, “Biarkan dia Keluar Kandang” 

“Sudah saatnya kita mulai mencoba perlahan melepasnya didunia luar” 

Aku mengangguk dan meng’iya’kan didalam hati. 

——————————————————————

Sejauh ini menyandang status Ibu, pernah saja terlintas sebuah rasa penyesalan tentang jenjang pendidikan yang aku tempuh. 

“Oh.. Kenapa dulu tak kuliah di sosiologi saja, oh.. Kenapa tidak jadi psikolog aja, oh.. Kenapa tidak kursus memasak aja.. Oh.. Kenapa dulu tidak magang di bursa efek indonesia saja supaya bisa kerja dirumah sambil main saham, oh.. Bukan..harusnya saya begini..begini..begitu..” 

Kenyataannya sejauh ini aku tidak bisa memilih dalam hal passion. Aku mencoba semuanya. Aku ingin BISA SEMUANYA. Aku ingin membahagiakan anakku. Aku ingin selalu menjadi orang yang paling dicintai oleh suami dan anakku. Here I’m.. A Toddler Divergent Mommy

Menjadi serba bisa telah sukses membuat anakku bahagia ‘dirumah’. Aku menjadi tukang masak, teman bermain, dan ibu yang ‘berusaha’ sabar. Keadaan itu sukses membuat anakku tumbuh menjadi normal sempurna. Setidaknya, dia tidak punya teman imajinasi sepertiku dulu dan itu membuatku berpikir bahwa psikologisnya tidak perlu beradaptasi dengan menciptakan teman khayalan. Yes, aku telah menjadi segala-galanya baginya. Bukan hal yang patut dibanggakan ya. 

Kenapa? Karena konon jika anak memiliki mama yang serba bisa maka anak akan tumbuh menjadi manja. Apalagi jika dia tidak memiliki adik. Sang mama adalah pusat perhatian baginya. Hal ini menyebabkan pola asuh yang seharusnya demoktaris secara tidak disadari berubah menjadi permisif. 

Pola asuh Permisif adalah pola asuh yang menuruti segala permintaan anak. Pola asuh seperti ini dapat terjadi jika anak cenderung dimanjakan dan tak memiliki saingan dalam kasih sayang. Kebanyakan para Ibu terhipnotis dengan nyamannya menerapkan pola asuh ini karena senang melihat anak tidak menjerit, dapat diam serta memujinya. Namun, akibat dari pola asuh permisif sangat buruk. Anak akan menjadi manja, tidak punya empati dan simpati, tantrum berkelanjutan hingga selalu menganggap dirinya Raja dimana saja. 

Beruntunglah aku tidak menerapkan pola asuh permisif. Kadang rasa jenuh itu adalah hal yang patut disyukuri. Ya, aku jenuh menjadi serba bisa ketika anakku menginjak usia 3 tahun. Jenuh berakting pura-pura baik, jenuh menjadi teman mainnya, jenuh 24 jam bersamanya dan mengabaikan ‘me time’ ku. Akhirnya, aku membiarkannya bereksplorasi diluar rumah. 

Bagi seorang Ibu yang introvert sepertiku jelas bahwa dunia luar bukan duniaku. Namun, untuk mengenalkan anak pada dunia sosialisasi maka terpaksa aku menemaninya. Aku juga harus berpura-pura nyambung dengan obrolan gosip tetangga agar anak kami dapat terus berteman. Dan aku menikmatinya, lebih tepatnya pura-pura menikmatinya. Haha

Sejak aku sering mengajak anakku keluar rumah, dia menjadi kecanduan. Dia sering keluar rumah tanpa sepengetahuanku yang sedang sibuk didapur. Jujur, aku tidak menyukainya. Bagiku, lebih baik kalau dia membantuku bermain dough didapur dibanding keluar rumah. Repot sekali menjaganya, pikirku. 

Lama kelamaan aku sadar, bahwa anakku butuh teman yang nyata dan bisa bermain tanpa akting. Sedangkan aku? Terlalu banyak cut untuk bolak balik dapur. Ah, Mungkin saja sebenarnya selama ini anakku cuma pura-pura senang bermain denganku, pikirku. Aku pun membiarkannya bermain diluar sekarang. 

Lepas sepenuhnya dari pengawasanku.. 

Tadinya, dia sering menangis. Mengadu bahwa temannya begini-begitu. Apa aku sabar menghadapinya? Jujur, aku tidak cukup sabar. Membiarkan anak bermain diluar adalah sebuah masalah baru bagiku. Sementara aku sadar, aku tak bisa selalu menemaninya diluar sana. Wilayahku adalah didalam rumah. 

“Masuk kedalam rumah aja kalo nangis gitu!”  Bentakku. 

Ia menangis. Masuk kedalam kamar. Membenamkan diri di bantal dan para bonekanya. Aku membiarkannya. Mendengarkan sesekali suaranya dikamar. Berharap dia punya imajinasi bahwa sang boneka adalah benda hidup. Tapi sejauh ini percuma. Anakku bukan sang imajiner. Ia hanya mengharapkanku muncul dikamarnya sambil membelai dan membelanya. 

Tapi jujur saja, selama membiarkannya bermain diluar aku jarang melakukannya. Bagiku sebagian tangisannya dan masalah dengan temannya memang bukan salah temannya sepenuhnya, namun juga kesalahannya. Jadi untuk apa aku membelanya? Sebagai orang tua yang menjauhkan diri dari pola asuh permisif, membelanya bukanlah gayaku. 

Aku selalu menyuruhnya meminta maaf dengan teman. Seburuk apapun masalahnya. Dengan solusi ini dia sukses mendapat perhatian dari temannya. Walau tangisan memang hal yang tak bisa dihindari. 

Tapi itulah awal dari kehidupannya diluar sana.. 

Proses interaksi sosial Farisha memang mengalami berbagai kendala. Hal pertama adalah Tantrum. 

Baca juga: Satu Solusi Jitu untuk Mengakhiri masa Tantrum Anakku

Pengenalan terhadap rasa empati untuk mengatasi tantrum adalah pembelajaran inti untuk dapat mengenal ‘rasa mengalah’ dengan teman. Maka, ingatlah bunda empati adalah hal basic yang perlu diajarkan sebelum anak berinteraksi sosial. 

Setelah tantrum dan rasa mengalah dapat dikuasai oleh anak, maka fase sekolah bukanlah sebuah fase yang sulit untuk dihadapi. Ia hanya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman baru disekolah. 

Baca juga: Tips membuat anak merasa senang disekolah

Masalah berikutnya, bukan pada anakku. Tapi pada diriku sendiri. Awalnya aku menyatakan siap untuk melepasnya kesekolah sendiri, bermain diluar sendiri hingga belajar untuk pulang sendiri. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. 

Empat tahun lebih kami bersama. Tak pernah lepas sekalipun jauh dari mata. Anak satu-satunya. Anak perempuan yang akhirnya bisa menjadi teman dekatku. Anak yang membuatku serba bisa. Anak yang tadinya selalu berteriak dirumah saat berbagai keluhan datang. Dan dunia sekolahnya telah menyadarkanku sepenuhnya. Dia_tak bisa selamanya didekatku saja. 

Kesepian.. Inilah yang kurasa saat dia pertama kalinya kulepas pada dunia sekolah.

Sebagai perempuan yang dulu sempat merasa tidak siap menjadi Ibu..

Sebagai perempuan yang dulu sempat merasa menjadi Ibu membuat tidak bisa mengaktulaisasikan diri secara maksimal.. 

Sebagai perempuan yang sempat merasa bahwa memiliki anak membuang semua waktuku.. 

Saat melepasnya.. Disitulah aku merasakan hangatnya kerinduan, kenikmatan rasa khawatir yang dilepas dengan senyuman diwajahnya ketika pulang, dan indahnya segala ocehannya tentang dunia sekolah. 

Saat itulah aku sadar. Melepasnya dan membebaskannya adalah tindakan terbaik yang pernah kulakukan. 

Karena anak itu hanyalah titipan. Kita tidak bisa memilikinya selamanya. Kita hanyalah menanamkan nilai kebaikan kepadanya agar kebaikan dapat terus tumbuh. Kita tidak bisa selalu menjadi superwoman disampingnya. Biarkan dia menjadi superwoman dalam mengalahkan egonya sendiri. 

Banyak beberapa hal positif yang tumbuh selama farisha kubiarkan sendiri. Hal positif itu semakin tumbuh ketika dia mengenal dunia luar disekolah. Hal positif itu tumbuh ketika dia mengenal teman dan memiliki daya saing dan empati didalamnya. Akhirnya, dunia luar yang terlepas dari ‘kandang’ telah mengajarkan banyak hal. Apa saja? 

1. Dia mengenal arti Mandiri 

Awal sekolah aku mengatur segala keperluan sekolahnya. Mempersiapkan buku, alat tulis hingga bekal kedalam tas ransel mungilnya. Memasangkannya kaos kaki, sepatu, baju serta mengantar dan menungguinya disekolah. 

Seminggu kemudian aku secara mantap melepasnya. Dia berangkat sekolah bersama dengan ayahnya. Dia mulai belajar memasang segalanya sendiri, makan sendiri hingga memasukkan mainan sendiri kedalam tasnya. 😅

Seminggu kemudian dia belajar berangkat sekolah sendiri. Dia mulai berani berjalan kaki dari rumah mertua hingga kesekolah, kebetulan rumah mertuaku dan sekolahnya lumayan dekat. 

Dan semakin hari aku melihatnya tumbuh menjadi semakin mandiri. 

2. Dia mengenal arti Belajar dan arti Bermain

Awalnya aku memperkenalkan arti sekolah kepada Farisha sebagai dunia bermain ‘bersama’. Lama kelamaan dia akhirnya menyadari bahwa dia harus tunduk pada suatu aturan. Aturan itulah yang dimasukkannya dalam kategori belajar.

Aku mengatakan kepada Farisha bahwa sekolah itu tak bisa semaunya. Ada ruang kelas dimana dia harus mencari perhatian Ibu Guru disana. Dan itu tak bisa di dapatkan jika dia tidak patuh. 

3. Dia mengenal kekecewaan dan cara bangkit 

Tentu semua tau bahwa dalam sebuah permainan ada menang dan kalah. Pertama kali mengenal sebuah kekalahan anakku tidak terima. Dia protes, mengatakan bahwa dialah yang berhak menang. Seberapapun aku mencoba menjelaskan tentang arti kekalahan dan belajar_dia tetap tak mau mendengarkannya. Baginya kemenangan adalah segalanya. 

Namun lama kelamaan dia mulai belajar menerima kekalahan. Mengatasi rasa kecewa begitu saja. Kupikir dunia luar dan sekolah perlahan telah melunturkan egonya. 

4. Dia belajar arti Disiplin

Sekolah telah mengajarinya arti disiplin. Dari warna baju seragam yang berbeda setiap hari dia sudah mulai mengingat urutan dari nama hari yang benar. Dari mengenal kata terlambat dia akhirnya tau bahwa jarum pendek harus selalu berada didekat angka 7 jika mau sekolah. 

Tentu, mengenalkannya dengan waktu adalah hal yang sulit. Namun suara azan telah membuatnya mengerti waktu yang tepat untuk setiap jadwal hariannya. 

——————————————————————

Mungkin memang sudah saatnya mama tak selalu dekat denganmu. Apa artinya kehadiran mama jika itu membuatmu addicted? Membuatmu merasa selalu nomor satu? 

Mama perlu melepasmu sebentar. Merasakan kenikmatan rindu serta cerita keluh kesah, senang dan ceriamu saat kutinggalkan. 

Semoga sarangmu dulu telah memberimu cukup banyak ilmu sebagai bekal ketika berhadapan dengan rasa bimbang. 

Karena tugas orang tua sejatinya adalah Mempersiapkan anaknya untuk berpisah dengannya. 

Maka belajarlah berpisah, belajarlah percaya.. 

Komentar disini yuk
5 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A