Pengalaman Menjaga Asupan Zat Besi di 1000 Hari Kehidupan Pertama Buah Hatiku

Pengalaman Menjaga Asupan Zat Besi di 1000 Hari Kehidupan Pertama Buah Hatiku

“Mama bingung deh pah.. Kenapa ya tiap hamil itu bawaannya pusing kalau sudah jam siang begini. Padahal mama gak pernah mual kalau hamil.. “

“Mood swing aja kali mamah tuh..”

“Duh, mana ada hubungannya mood swing sama pusing.. Beda lah paah”

“Buktinya kalau dibawa ngemall langsung enggak pusing.. “

Yaelah.. Papah.. Gubrak deh.. 

Hahahaha

Sering Pusing dalam 2 kali Kehamilan, Ada Apa ya? 

Pada masa kehamilan pertama, aku sering sekali mengalami pusing dan kelelahan. Akibatnya, aku sering sekali tertidur. Waktu itu pengetahuanku masih sangat minim. Kalau pusing sedikit saja aku langsung minum paracetamol. Ah, entah sudah sebanyak apa paracetamol yang aku konsumsi saat kehamilan pertama itu. 

Pada tri semester kedua, barulah aku berinisiatif untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Sebelumnya, aku hanya memeriksakan diri di dokter kandungan saja dan diberikan beberapa obat. Nah, ternyata di puskesmas ini pemeriksaannya lumayan lengkap loh. Dari pelayanan gizi hingga cek tekanan darah dan Hb atau Hemoglobin. 

Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa Hb ku saat hamil hanyalah 8 gr/dl, sementara batas normal HB saat hamil adalah 10 sampai 11 gr/dl. Ah, pantas saja aku sering sekali pusing saat hamil. 

Dokter di puskesmas menyarankanku untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi yang tinggi, selain itu dokter juga meresepkan Ferrous Sulfate atau Fe. Pasti dong kalian tau dengan obat ini. Itu loh, yang biasanya berwarna merah dengan bentuk bulat. 

Sesudah pulang dari Puskesmas, aku langsung berbicara dengan suami bahwa aku membutuhkan makanan yang zat besinya tinggi. Dan suamiku langsung berceramah.. 

“Nah kan, makanya jangan banyak-banyak ngemil gorengan bla bla.. Harusnya banyak makan hati ayam, daging dan bla bla.. Nanti coba deh bla bla.. “

(Duh, enak gak sih kena ceramah begitu? Haha) 

Oke, dan malam harinya aku langsung mencoba obat Fe berwarna merah yang diberikan dokter tanpa minum air putih. Kemudian, eh.. Kok malah merasa amis dan membuat mual? 

Yah, karena saat itu kondisi ekonomi keluarga kami terbilang pas pasan. Maka aku berusaha untuk tidak mengeluhkan obat yang aku dapat di puskesmas. Kadang, aku mengkonsumsi obat itu bersamaan dengan makanan yang aku sukai. Bisa berupa permen mint atau coklat. Kadang kala, aku juga mencoba memakannya dengan buah-buahan seperti pisang dan apel. Dan kalau sedang tidak memiliki senjata manis begitu.. Kadang aku juga menggumpalnya dengan nasi putih lalu meminumnya bersamaan dengan gumpalan tersebut. 

Dan cara seperti ini kadang berhasil tapi tak jarang membuatku ingin muntah juga. Drama sekali. Drama ini berulang kembali saat aku hamil anak kedua. Sering mengalami pusing dan ternyata HB rendah. Untungnya, saat hamil kedua drama ini hanya berlangsung di tri semester pertama kehamilan saja. 

Bukan Hanya saat Hamil, Ketika Menyusui pun Sering Sekali Pusing

Anak pertamaku si Farisha atau sering dipanggil Pica itu sangat kuat dalam menyusu. Apalagi saat Pica GTM, sering sekali dia menyusu. Pica ini terbilang agak spesial. Dia agak trauma dalam proses MPASI sehingga selama satu tahun penuh dia (hampir) ASI Eksklusif. Tidak heran jika selama proses menyusui badanku sering bergetar dan kepalaku sering pusing. 

Tapi sering pusing juga terjadi saat aku menyusui anak kedua yang bernama Humaira. Sedikit mengherankan karena anakku yang kedua ini cenderung lebih suka makan dibanding menyusu. Jadi, kalau sudah selesai makan kadang Humaira hanya menyusu sedikit saja dan ia langsung tertidur. Aku bahkan harus sering memompa ASI untuk menyeimbangkan kadar Fore Milk dan Hind Milk. 

Yah, awalnya aku pikir sering pusing saat menyusui ini karena bayi terlalu banyak menyusu dan aku terlambat makan. Ternyata, sering pusing juga aku alami ketika memiliki Humaira. Sang Bayi yang cenderung menyusu ketika sangat lapar saja. Aku pikir pasti ada yang salah disini. 

Akhirnya, hal ini terjawab ketika aku menghadiri acara dari Maltofer dengan tema ‘Peran Penting Zat  Besi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak’ yang ada di Hotel Golden Tulip Banjarmasin pada pukul 09.00 WITA. 

Saat sesudah registrasi, aku langsung cek HB bersama teman-teman dari komunitas Female Blogger Banjarmasin. Ternyata, HB ku tergolong rendah. Hanya sekitar 11 gr/dl saja, sementara HB normal perempuan adalah 12-16 gr-dl.  Aku lalu berpikir, mungkinkah ini karena aku masih menyusui? 

HB Rendah Terlalu Sering, Apakah Aku Menderita Darah Rendah? 

Eits, jangan salah. Banyak yang salah paham loh ternyata. Mengira bahwa Anemia dan Darah Rendah adalah penyakit yang sama. Padahal ternyata berbeda. 

Anemia dan Tekanan Darah Rendah memang memiliki Gejala yang hampir sama (sering merasakan pusing), namun keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Anemia disebabkan karena rendahnya jumlah sel darah merah dalam tubuh dan kurangnya asupan oksigen ke seluruh tubuh yang disebabkan karena sel darah merah kekurangan hemoglobin (hb) sedangkan Tekanan Darah Rendah disebabkan karena kondisi hipotensi, yaitu ketika angka tekanan darah menunjukkan angka sistolik dan diastolik di bawah 90/60. 

Kalau tekanan darah ku sebenarnya cenderung normal. Bahkan saat hamil pun tekanan darahku normal saja. Jadi, lebih tepatnya aku sering anemia, walaupun tidak pernah benar-benar parah sampai membutuhkan asupan kantong darah. Itu artinya, aku adalah salah satu Ibu yang kekurangan hemoglobin dan membutuhkan zat besi yang lebih banyak. Kondisi anemiaku juga disebabkan karena efek mengonsumsi obat-obatan yang salah dan pola makan yang buruk. Yeah, I told u.. Aku sering minum paracetamol dan terlambat makan pagi. 

Apa yang harus aku lakukan jika mengalami Hb rendah dimasa 1000 hari pertama kehidupan sang buah hati?

Apa yang harus dilakukan? 1000 hari pertama kehidupan anak itu terhitung dari hamil hingga anak berusia 2 tahun. Jadi, masa hamil dan menyusui itu begitu penting. Jika pada hamil dan menyusui saja aku sendiri sering anemia bagaimana bisa aku dapat memberikan yang terbaik untuk anakku? Bukan hanya psikologis anak yang penting bukan? Anak kita haruslah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. 

Rasa ingin tahu yang tinggi inilah yang membuatku nekat mengikuti acara Maltofer di Hotel Golden Tulip Banjarmasin kemarin. Walaupun tidak bisa menitipkan Humaira setidaknya aku bisa ikut mendengarkan ilmunya sambil menyusuinya di dalam ruangan. Ya, semangatku begitu tinggi kalau ada event yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Acara yang bertema ‘Pentingnya Zat Besi di 1000 hari Kehidupan Pertama’ ini membuka pengetahuan baru dan pengalaman baru untukku. Acara ini dihadiri oleh para  narasumber yang sangat kompeten. Diantaranya adalah:

  1. dr. Gladys Gunawan yang merupakan salah satu dokter anak senior di Banjarmasin
  2. dr Carlinda Nekawati yang merupakan medical junior manager combiphar
  3. Ika Puspita Sari yang merupakan blogger senior dan telah memenangkan kompetisi menulis dari Combiphar.

Dr. Gladys berkata bahwa, “Its just Happen once Times.. Mom.. 1000 hari pertama anak ini sangat krusial terhadap tumbuh kembang anak. Baik secara fisik maupun emosional. Karena itu, rawatlah ‘bibit’ ini dari akar. Supaya ia bisa menjadi pohon yang kuat nantinya.. “

Aku merasa sangat tertohok. Ya, dokter Gladys berkata bahwa kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. Karena itu status nutrisi Ibu itu berperan sangat penting. 

Pada masa kehamilan, zat besi berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga pada perkembangan otak janin. Karena itu, Ibu Hamil butuh asupan zat besi yang lebih dibanding dengan biasanya. Permasalahannya, kadang Ibu Hamil tidak bisa mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi seperti pada kondisi normal. Pada tri semester pertama kehamilan, biasanya Ibu hamil mengalami mual yang tidak mengenakkan. Hmm.. Ini berlaku juga untukku yang saat hamil sangat malas makan daging. 

Kebutuhan zat besi yang banyak juga berlaku untuk Ibu Menyusui, apalagi untuk bayi yang masih ASI Ekslusif. Hmm.. Siapa yang seperti aku? Ketika menyusui sering sekali pusing. Akan lebih baik jika Anda ke layanan kesehatan terdekat dan periksa Hb ya. Jangan sampai Ibu Menyusui kekurangan zat besi.

Apa Akibatnya Jika Ibu Mengalami Defisiensi Zat Besi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak?

Permasalahan kekurangan zat besi pada Ibu hamil ini ternyata terjadi hingga 40% di tri semester ketiga. Karena peningkatan kebutuhan akan zat besi terjadi hampir 10x lipat. Karena itu Ibu hamil perlu asupan zat besi jauh lebih banyak dibanding orang pada umumnya. Begitu pula Ibu menyusui, mereka perlu asupan zat besi yang lebih banyak.

Nah, jika Ibu mengalami defisiensi zat besi maka akan mempengaruhi status zat besi dan perkembangan otak pada janin, serta memungkinkan terjadinya risiko defisiensi zat besi dan perubahan perilaku bayi.

Kekurangan (defisiensi) zat besi pada bayi memberikan efek pada kinerja kognitif jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu juga mempengaruhi perilaku sosial-emosional dan perkembangan motoriknya. 

Karena itu, jika pada ilmu psikologis anak kita mendapatkan teori bahwa Ibu yang bahagia akan membuat anaknya bahagia pula. Maka pada ilmu kesehatan fisik kita juga harus ingat pada pola yang sama, Bahwa Ibu yang sehat akan membuat anaknya sehat pula. Jadi, para Ibu Hamil dan Menyusui.. Jangan sampai terlambat menyadari ketidaksehatan diri sendiri. Segera cek Hb jika sering mengalami pusing seperti aku.

Berbagai Asupan Zat Besi untuk 1000 hari Pertama Kehidupan

Dr. Gladys berkata bahwa banyak sekali makanan yang mengandung zat besi dan mudah untuk ditemui. Nah, buat para Ibu yang sedang memilih-milih makanan untuk meningkatkan zat besi mungkin dapat mencoba beberapa alternatif makanan penambah zat besi seperti dibawah ini:

  1. Daging Merah (1,98 mg)
  2. Kuning Telur (1,08 mg)
  3. Ikan (1,98 mg)
  4. Sayuran berdaun gelap atau hijau
  5. Kacang-kacangan,kacang polong dan kacang kedelai (1,08 mg)
  6. Buah kering (plum, kismis)

Dari semua makanan diatas, makanan yang paling tinggi kadar zat besinya memang Daging Merah dan Ikan. Parahnya, rata-rata Ibu Hamil sulit untuk memakannya saat hamil. Karena itu biasanya yang sering aku makan hanyalah kuning telur, sayur dan kacang-kacangan. Itupun juga sangat moody. Karena kadang (sebenarnya sering) aku lebih memilih makan gorengan dan martabak. Hahaha

Sungguh, memakan makanan yang mengandung zat besi pada saat hamil dan menyusui itu sangat sulit. Sulitnya lagi, kadang kita sudah berusaha makan makanan yang mengandung zat besi tapi tetap saja kadar hb rendah. Apalagi pada tri semester ketiga yang membutuhkan  asupan zat besi hampir 10x lipat. Kalau sudah begini, biasanya mengonsumsi makanan yang kaya zat besi saja tidak cukup. Hiks

Maltofer, Solusi tepat untuk mengatasi Kekurangan Zat Besi

Dr Carlinda Nekawati memberikan pencerahan terbaru perihal masalah defisiensi zat besi. Dari beliau akhirnya aku mengetahui bahwa sangatlah wajar jika ketika kita sudah mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi tapi masih saja memiliki hb yang rendah. Ya, kondisi hamil dan menyusui memang sangat spesial. Kenapa? Karena gizi sang Ibu sedang terbagi.

Karena itu Ibu Hamil dan Menyusui butuh suplementasi penambah zat besi. Karena fase hamil dan menyusui akan mempengaruhi kualitas kesehatan, intelektual dan produktivitas pada masa yang akan datang. 

Maltofer menjadi jawaban yang tepat untuk permasalahan ini. Maltofer adalah produk Suplementasi besi dalam bentuk Iron Polymaltose Complex berkualitas dari PT. Combiphar pertama di indonesia dalam bentuk tablet kunyah original swiss dan sudah 50 tahun di dunia.

Maltofer adalah besi tablet kunyah dalam Iron – Hydroxide Complex (IPC) dimana setiap partikel-partikel terbungkus dalam sebuah gugus polimer karbohidrat (polymaltose). Hal ini untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan besi pada sistem pencernaan. Proteksi ini juga mencegah interaksi besi dengan makanan.

Nah, berikut adalah alasan-alasan mengapa Maltofer merupakan pilihan yang tepat

  • Maltofer efektif dan ditoleransi dengan baik untuk ibu hamil dengan Iron Defesiensi Anemia

Nah, ini merupakan jawaban untuk para ibu hamil yang sering sekali mual saat meminum Ferrous (Fe 2+) . Maltofer memberikan toleransi yang baik terhadap efek mual dan muntah, konstipasi dan terbukti lebih signifikan dibandingkan Fe. 

Jika sudah pernah mencicipi Maltofer, Anda pasti akan sedikit ketagihan. Pasalnya, suplemen ini memiliki rasa coklat yang enak sehingga jauh berbeda dengan Ferrous yang biasa didapatkan di puskesmas itu. Sehingga tidak akan memberikan efek mual, yang ada malah keenakan.Haha

  • Maltofer dapat diberikan bersamaan dengan makanan maupun obat.

Iron Polymaltose Complex tidak bereaksi negatif dengan makanan, minuman maupun obat-obatan lain dan tidak menimbulkan stress oksidatif. 

Nah, kalian menyimak bukan cerita konyolku sebelumnya diatas tadi? Bahwa aku sering sekali mencampurkan obat Ferrous yang aku dapatkan di puskesmas dengan berbagai macam makanan untuk menghindari rasanya yang agak amis.Ternyata itu adalah cara yang terbilang bodoh. Karena Ferrous Sulfate akan bereaksi negatif jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan. 

  • Toksisitas yang Rendah dan tidak terjadi stress Oksidatif

Maltofer mempunyai toleransibilitas yang lebih baik dan tidak melukai lambung dibandingkan dengan dengan Ferrous (Fe 2+).

Ya.. Jika kalian simak ceritaku diatas tadi maka kalian tentu tau bahwa aku juga penderita magh. Artinya, lambungku bermasalah. Bisa dibayangkan jika aku hanya mengonsumsi suplemen zat besi yang tidak ‘lambung friendly’ maka mungkin saja penyakit magh yang aku derita makin parah.

  • Maltofer tersedia dalam 4 varian yang lengkap

Ada 4 varian maltofer, sehingga maltofer bisa dikonsumsi untuk semua usia. 4 varian itu diantaranya adalah:

Maltofer Fol : Varian maltofer yang diperkaya dengan asam folat untuk Ibu Hamil dan menyusui

Maltofer Chew: Tablet kunyah IPC pertama di indonesia untuk segala usia

Maltofer Syrup: Varian maltofer dengan kemasan sirup isi 150 ml dengan kandungan 1 mL=10 mg Fe untuk anak dan dewasa

Maltofer Drops: Kemasan tetes isi 30 ml untuk bayi dan anak

Dan berikut ini adalah dosis penggunaannya:

Dan aku memilih mengkonsumsi Maltofer Fol untuk keseharianku. Maltofer Fol ini adalah yang paling tepat dikonsumsi selama menyusui, karena selain mengandung Zat Besi juga mengandung asam folat yang sangat berguna untuk Ibu dan Bayi. 

Nah, punya masalah dan pengalaman tentang kekurangan zat besi juga? Sharing denganku yuk!

#maltoferwomancommunity

#maltofer

#maltoferindonesia

#combiphar

sumber artikel:

www.maltofer.combiphar.com

nara sumber event maltofer banjarmasin

Komentar disini yuk
9 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A