Browsed by
Tag: mengatasi konflik dengan mertua

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

“Gak boleh anak perempuan itu begitu. Nanti kalo tinggal di tempat mertua malu loh..”

“Jadi anak cewek tuh harus bisa masak, malu kalo tinggal sama mertua nanti.”

“Ish, masakan rasanya kek gini. Malu ah kalo diicip mertua.. “

***

Mertua, mertua, mertua. 

Belum juga menikah, cerita horor tentang mertua sudah sering menjadi kambing hitam kala sang single tidak becus melakukan pekerjaan. Kenapa sih ya orang suka sekali menceritakan karakter horor tentang mertua. Seolah-olah kita harus menjadi ‘seperti ini’ kalau tinggal dengan mertua. Padahal nih ya.. Kan gak semua mertua itu jahat? Ya kan! 

Selama 8 tahun berumah tangga. Sedikit banyak aku mengerti sekali kenapa hubungan mertua-menantu perempuan itu kadang sedikit rentan dengan gesekan. Kalian tau gesekan apa yang sering terjadi? 

Kalau aku amati sih. Ini bukan karena gesekan mertua horor dsb kek cerita zaman old dulu. Tapi, gesekan yang sering terjadi adalah tentang perbedaan passion dan gaya hidup karena adanya perbedaan generasi. Kalau mertua sih coba deh dicari sisi baiknya, pasti adakok. Ehm bener gak? 

Mendekati Hati Mertua, Bagaimana Caranya? 

“Mertuaku ini suka begini loh. Kalo gak bisa masak sering disindir-sindir gak bisa menghemat duit suami bla bla”

Tentunya gak sedikit dong ya yang mengalami hal demikian. Kadang karena perbedaan generasi, mertua dan menantu perempuan sering berselisih atau menyembunyikan perasaan tidak nyaman. Akibatnya, jadi malas sekali bertemu mertua. Bukan hanya itu, kalau pun bertemu rasanya takut sekali kalau salah ngomong dsb. 

Well, sambil menulis ini.. aku jadi teringat dengan film The Croods. Ada yang tau? Film ini fun banget dan rekomen buat ditonton. Latarnya di zaman prasejarah tentang sebuah keluarga croods yang tinggal di dalam gua lalu kemudian bertemu dengan Guy si manusia modern. 

Sisi menarik yang aku pelajari dalam film ini adalah cara Guy menarik perhatian Grug atau Ayah dari Epp. Well, iya.. Ini memang antara menantu laki-laki dan calon mertua laki-laki. Tapi, sungguh cara ini juga tentu berlaku untuk menantu perempuan dan mertuanya. 

Guy (si manusia modern) punya cara yang jauh berbeda untuk dapat survive dalam hidup. Dan hal ini sering mendapat penolakan dari Grug. Hal ini sangat sama jika dibandingkan dengan kita (sang menantu yang hidup di generasi milenial) dan mertua (yang hidup di generasi baby boomers). Pada akhirnya, walau Grug sering menolak cara-cara Guy.. Akan tetapi pada akhirnya Grug luluh juga. Apalagi ketika melihat anak perempuannya Epp yang bisa menengahi keduanya. 

Dari Guy, aku belajar banyak cara untuk mendekati hati mertua. Pertama, adalah dengan selalu mengikuti pola pikirnya. Kedua, adalah dengan mencoba memasuki kesamaan kebiasaan positif dalam generasinya lalu perlahan membantu dengan cara sendiri. Dan ketiga adalah dengan menghormatinya. Yah, setidaknya berpura-puralah kalau cara mertua adalah yang paling benar walaupun itu kuno dan tidak modern. 

Rumusnya adalah.. Hargai dulu. Karena setiap orang tua butuh hal itu. 

Haruskah Menyamakan Gaya Hidup dengan Mertua? 

Apakah aku sudah pernah bercerita bahwa aku pernah tinggal di rumah mertua selama 1 tahun? Oh sudah ya. Aku pernah menulis sedikit tulisan baper dahulu tentang mertua. Haha. No.. Aku tidak mau menghapusnya. Bisa menjadi pembelajaran buatku untuk move on walau ceritanya begitu amat. Hihi. 

Mertuaku hidup dalam generasi baby boomers dan sangat menjunjung tinggi caranya sendiri untuk hidup. Beliau termasuk pribadi yang keras dan tidak mau mengikuti perkembangan teknologi. Dan beliau bangga akan hal itu. 

Sewaktu tinggal dengan mertua, di hari pertama aku kaget sekali ketika beliau masih menggunakan kayu bakar untuk merebus air. Ya ampun, asapnya kemana-mana. Aku yang sejak kecil alergi dengan debu, bulu kucing, dan asap langsung bersin-bersin ketika menciumnya. Berakhir dengan kikuk meringkuk di sudut dapur. Menggaruk lantai dan bingung mengerjakan apa. Wkwk. (Oke kalimat terakhir sedikit hiperbola) 

Dan tragedi asap ini berlangsung hingga siang hari. Disiang hari mertua terbiasa membuat ikan bakar dengan menggunakan kayu bakar hingga menjadi bara. Walau mataku berbinar-binar karena alergi, aku memberanikan masuk dapur dan pura-pura lihai memasak. Ya, aku mengaku bisa memasak waktu pertama berkenalan dengan mertua. Tapi sungguh tidak tau kalau metode memasaknya sebegitunya. Hihi. 

Well, itu sedikit gambaran hidup dengan mertuaku. Bisa dibayangkan hidup setahun disana sudah begitu banyak cerita suka duka. Mertua memiliki metodenya sendiri untuk hidup. Memasak memakai kayu bakar, tidak mau menggunakan mesin cuci, tidak mau menggunakan pengering, mengepel lantai dengan cara tradisional, semua serba membuat sendiri. Tapi aku tidak mau menurutinya. Well apakah aku menantu durjana?

Aku tetap belajar padanya. Belajar untuk memanggang ikan kesukaan suamiku. Tapi, aku tetap tidak mau menuruti cara yang lain. Kenapa? Karena aku juga punya impian. Dan aku tidak mau impianku terkubur hanya karena menuruti metode mertua dalam bertahan hidup. Karena layaknya film the croods, aku memposisikan diri sebagai manusia yang hidup di generasi berbeda. Tidak mungkin bukan aku harus menuruti cara hidup generasi yang lain bukan?

Karena aku sudah pernah mencoba hidup ‘seperti mertua’ dan psikologisku berakhir bagaikan film Kim Ji Young. 🙂

Mencari Jalan Tengah dari Perbedaan dengan Mertua

Dengan prinsipku yang berubah sedemikian, apakah aku tidak pernah berselisih pendapat dengan mertua? 

Tentu saja sering. Huahaha. Satu tahun hidup satu atap loh. Dan ini termasuk ujian 5 tahun pernikahan yang terberat.

Something like, “Jangan mencuci baju dengan menumpuk 2-3 hari, Memasak ikan harus begini begitu.. Jangan begini, jangan begitu..Begini cara hidup hemat.. Bla bla “

Konflik itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan Guy dan Greg juga sering berbeda pendapat. Akan tetapi, pada akhirnya ada yang menyatukan mereka berdua. Apakah itu? 

Pertama adalah inovasi. Kedua adalah Epp. Yang dalam hidupku maka aku memerlukan jalan tengah dari suamiku. 

Aku selalu mencoba menghormati cara mertua untuk hidup termasuk dengan kearifan lokal yang dijunjung tinggi. Semuanya mengagumkan. Tapi, aku juga harus berusaha menunjukkan pada mertua bahwa ‘cara hidupku juga benar loh’.

Bahwa aku juga bisa mencari uang dengan caraku sendiri dan tidak perlu berhemat secara berlebihan. Aku juga memiliki cara sendiri untuk merawat diri, tidak terbatas pada cara tradisional saja. Aku juga bisa memasak dengan caraku sendiri, mencuci dengan caraku sendiri, mendidik anak dengan caraku. Aku menghormati cara mertua, tapi tidak bisa meniru semuanya. Karena cara waras kami berbeda. 🙂 

Untuk meyakinkan hal itu maka aku butuh ‘Epp-Ku’ atau Suamiku. Dialah jalan tengahku. 

Dan tentu saja mengatur jalan tengah pun tak semudah yang dikira loh. 

Suamiku adalah fans berat Ibunya. Apapun yang dilakukan ibunya adalah terbaik dimatanya. Awalnya, aku mencoba menjadi sebaik Ibunya untuk mengambil hatinya. Akan tetapi, seiring berjalan waktu aku harus menegaskan padanya bahwa. ‘Aku adalah aku’ dan ‘Aku tak bisa menjadi seperti Ibunya’. 

Alhamdulillah seiring waktu dia bisa mengerti hal itu. Aku selalu menerornya (menuliskan dengan lemah lembut beberapa artikel pernikahan..wkwk) agar dia paham betapa pentingnya menjaga hati istri dan impiannya. And its worked. 

Jadi, setiap ada sedikit perselisihan tentang metode hidup dengan mertua. Suami datang membela, menjelaskan caraku dengan bahasa yang sedap didengar. Sejak itu, mertua sedikit demi sedikit paham dengan diriku. Sebaliknya, melalui ‘dongeng’ suami aku juga perlahan memahami betapa baiknya sifat mertua. 

Dan yaa.. Akhirnya aku dan mertua saling mengerti kehidupan kami masing-masing. Dan kami saling menghargai passion masing-masing. 

Mertua pandai memasak, apapun yang diolah dengan tangannya selalu enak. Mungkin karena kayu bakar itu. 

Dan aku? Aku sedang mencari impianku sendiri. Yang jelas, aku tidak bisa meraihnya dengan kayu bakar. 

Dan mertua sudah memahami itu. Bahwa tanganku berbeda. 

Bahwa aku berbeda. 

Aku adalah aku. Aku tidak mau menjadi seperti mertua untuk mendapatkan kasih sayang suami. 

Suami menyayangiku, karena aku adalah aku. Bukan karena mirip dengan Ibunya atau mencoba mirip dengan Ibunya. 🙂 

Dan tentunya, mertuapun menyayangiku karena aku adalah aku..

IBX598B146B8E64A