Drama Start Up dan Warna-Warni Perasaan di Dalamnya

Drama Start Up dan Warna-Warni Perasaan di Dalamnya

Minggu 6 Desember sudah berlalu.. Minggu yang benar-benar spesial karenaaaaa… 

Episode Terakhir Start Up udah kelarrr… 

Jadi, siapa pemenangnya? 

Kamu Tim #NamDosan atau #HanJiPyong? 

Begitu kan yang sedang trend akhir-akhir ini di dunia perdrakoran? Sampai ada war-nya segala.. 🤣

Well, gak salah sih ya kelakuan Writer Nim emang juara banget dalam ngaduk-ngaduk perasaan netizen. Sudahlah diaduk, ditambahin micin sama gula pula. Padahal sudah emak bilang loh, micin ya micin.. Gula ya gula. Jangan barengan. Nanti terlalu sedap! 

*ini ngomong apaan sih? 

Pokoknya, nonton ini itu perasaan nano-nano. Manis, asem, asin, kegeeran. Ya begitulah kalau yang nonton sok-sokan reframing jadi Seo Dal Mi segala. Wkwk.. Bener-bener deh nih pandemi, bikin emak keracunan nonton drakor aja dari kemarin.

Nah, berikut ini adalah Warna-Warni perasaan emak ketika menonton drama Start Up:

Mengalami 2nd Lead Syndrome

Jujur ya, emak tuh sudah sering nonton drakor. Tapi, baru kali ini yang bener-bener terpana dengan 2nd lead. Bahkan selalu protes saat netizen bilang kalau Ji Pyong adalah 2nd lead. Karena bagi emak sih ya kok gak pantas gitu. Peran karakternya lumayan dominan loh. Dan yang utama adalah dia yang membangun drama ini jadi up n down. 

Dari pertemuannya dengan si nenek, surat dengan Dal Mi, caranya membangun dan memotivasi Samsan Tech dari belakang. Wow, super sekali sih. Sudah pantas banget jadi 1st lead gitu. 

Tapi kenyataannya, menurutku writer nim agak kebablasan dalam memasukkan karakter Ji Pyong ini. Terlalu dominan ngebaperinnya jika dibandingkan dengan Nam Do San. Padahal, kelihatan sekali kalau Nam Do San lah sebenarnya 1st leadnya. Biasanya loh namanya karakter 2nd lead gak sebaper ini. 

Sejak awal aku jujur saja sudah simpatisan berat sama karakter Han Ji Pyong. Caranya berekspresi itu menggemaskan. Aura denialnya saat menolak menjadi anak baik itu menggemuruhkan dada (halahh). Apalagi kalau melihatnya mendadak jadi pahlawan, luluh seketika. Gak heran, tim Han Ji Pyong ini banyak banget. 

Tapi, apakah aku juga Tim Han Ji Pyong seperti ‘mereka’? Jujur, enggak segitunya sih. Hihi. 

Story di instagram ini aku buat tanggal 22 November. Aku #TimJiPyong tapi aku mendukungnya untuk selalu menjadi anak baik. Bukan mendukungnya untuk memenangkan hati Dal Mi. Karena aku benar-benar terinspirasi dengan karakternya. Suka sekali. Menurutku ya, karakter Ji Pyong ini adalah karakter terbaik yang pernah Writer Nim ciptakan. 

Meski jujur, aku sempat kecewa dengan perubahan mendadak karakternya di episode 13 dan 14. Seakan sedikit dipaksakan. Sempat malas sekali nonton episode terakhirnya. Karena takut karakternya diubah demi kemenangan Do San. Tapi ternyata, endingnya mengagumkan. Salut dengan penulisnya. 

Merasa Senasib dan Satu Sifat dengan Do San

Aku mendukung Do San mendapatkan Dal Mi. Tapi, karakternya masih tidak bisa mengalahkan ke-baperanku pada karakter Ji Pyong. Maka, aku bukan tim Do San. 

Aku mendukungnya untuk mendukung diriku sendiri. Karena aku merasa mirip dengannya. *Tapi katanya bukan tim Do San. GIMANA SIH? 

Well, Aku tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat mirip dengan Do San. Walau jujur aku tidak sepintar Do San. Scene yang membuatku merasa sangat mirip dengannya adalah tentang meraba-raba tujuan hidupku. Aku sungguh sangat baper ketika menonton scene dimana Do San hidup untuk membahagiakan dan membanggakan orang tuanya. Sungguh sama.. 😭

Aku juga sangat baper ketika melihat Do San bingung meraba mimpinya ketika ditanya, “Apa cita-citamu?”

Aku juga merasakan hal yang sama ketika orang tuanya berbisik tentang cita-cita seharusnya. Aku merasakan kebingungan dihati Do San. 

Pokoknya, Karakter Do San sangat mewakili generasi Milenial sepertiku. Sangat. Up and Down Do San dalam Quarter life crisis itu sangat related dengan kehidupan remaja seumurannya dan juga seumuranku dahulu.

I’m so happy ketika Do San sudah paham dengan mimpinya sendiri. Yes, Just Follow Your Dream!

Kadang juga Merasa Mirip Dengan Dal Mi

Apaan sih? Tadi merasa mirip Do San. Sekarang Sok kegeeran mirip Dal Mi? Mirip dimana? Nasibnya? Direbutin dua cowok super legit juga? 

Enggak lah.. Mirip mukanya maksudku.. (Auto ditoyor berjamaah para fans Suzy..🤣) 

Becanda denk. 

Jadi, aku tuh merasa sangat terinspirasi dengan sosok Dal Mi ini. Ada dibeberapa scene hidupnya yang mewakili perasaanku banget dimana aku ngerasa. “Ih iya. Aku juga pernah gini..”

Masalah-masalah yang ada dalam perjuangan hidup Dal Mi ini sebenarnya sangat mirip dengan kehidupan kita, bukan kehidupanku saja loh. Tau gak miripnya dimana? 

Yaitu, kalau kita sudah memutuskan memilih. Maka itu berarti kita sudah siap dengan risikonya. Dan harus menghadapinya. TANPA PENYESALAN. *eh, apa lu capslock main dimari.. 

Ketika Dal Mi memilih ikut dengan Ayahnya maka ia juga harus menanggung risiko dengan beratnya beban hidup. Begitupun ketika ia memutuskan menandatangani kontrak akuisisi bakat dengan Alex tanpa teliti, maka ia harus terlepas dengan Samsan Tech. 

Aku pernah merasakan hal yang sama dengan Dal Mi. Ketika ia berkata, “Nenek, apakah aku bunga kenikir yang terlambat?” *kalau tidak salah begitu ya? 

So related dengan hidupku sekarang walau beda latar ceritanya. 

Tapi, begitulah hidup. Hidup penuh kejutan bahagia. Juga kejutan rasa sedih. 

Dari Dal Mi aku belajar untuk tidak pernah menyesali keputusanku. Juga tidak pernah menyesali kecerobohanku. Keputusan benar maupun salah memiliki risikonya masing-masing. Kuncinya ada pada diri kita, mau terus berjalan atau stuck? 

Dari Dal Mi aku ikut termotivasi untuk bisa ‘naik kembali’ dan menemukan tempat yang tepat untukku.

Paham dengan Berbagai Selak Seluk Bisnis

Drama start up ini sungguh banyak mengajariku insight baru tentang bisnis. Aku akhirnya paham dengan maksud suami untuk ‘membangun ekosistem’ pada bisnis kami. Well, sungguh aku banyak belajar dari sini. 

Yup sebagai pebisnis pemula sungguh niat awalku nonton start up adalah kegugupan diri sendiri karena bulan ini aku sudah memiliki npwp untuk ikut serta berperan dalam bisnis suami. Walau jujur, suami mungkin hanya butuh namaku untuk jadi CEO perusahaan kecil kami tapi dalam sudut hatiku.. Aku ingin menjadi CEO yang layak. Bukan sekedar nama saja. 🙂

Maka, boleh dong aku juga memposisikan diri sebagai Dal Mi dan menganggap suamiku adalah Do San. Huahaha. Dan lucunya, di kantor kami juga punya Yo San dan Chul San sama seperti Samsan Tech. Sungguh aku bersemangat sekali mengkhayal bisnis kami akan sukses layaknya Chong Myong Company. *eh, kok jadi curhat gini? 

Oke, back to ekosistem bisnis. Aku akhirnya jadi paham dengan model profitnya PayPal dan Flip. Berbekal dengan nonton start up aku mengerti pentingnya sebuah tim yang solid, tata cara pembagian saham hingga membangun bisnis agar berkembang. 

Well, ternyata tim yang solid itu bukan hanya diisi oleh orang yang satu passion loh. Ini benar adanya. Selama 3 tahun suamiku memiliki posisi sama dengan Do San dalam bisnisnya. Ia memiliki teman yang satu passion, akan tetapi rasanya hanya berputar disitu-situ saja. 

Drama start up benar-benar mengispirasi dalam menjalankan bisnis. Tapi jujur kami belum bisa meniru itu semua. Suami bilang, lebih baik mengumpulkan laba untuk menjadikannya modal usaha. Rasanya kami tidak bisa menghubungkan investor untuk bisnis kami. Karena kami belum punya relasi yang trust soal ini. Hmm.. Anggap lah posisi kami sekarang layaknya Itaewon Class dimasa awal. Kurasa aku harus banyak menonton drama seperti ini untuk dijadikan inspirasi.

Merasa Nostalgia Melihat Kelakuan Sa-Ha dan Chul San

Jika bertanya bagaimana cerita kehidupan cintaku dengan suami dahulu maka mungkin bisa dikatakan mirip dengan kekonyolan cinta  Sa-Ha dan Chul San. Walau jujur sih karakter suami tegas, gak seperti Chul San juga. Tapi untuk beberapa scene, 60% bisa dikatakan mirip. Huahaha. Karena itulah aku selalu senyum-senyum gemas kalau sudah melihat kelakuan mereka berdua. 

Wah, kaget ya. Nulisnya norak gini tapi aslinya jaim kayak Sa-Ha? Percayalah, aslinya dulu ‘topeng’ aku begitu. Karakter topengku waktu kuliah mirip dengan Sa-Ha ini, suamipun mengiyakan. Judes dan jaimnya sangat mirip padahal itu hanya topeng. ((Aslinya, ya begini.. 🤣)) 

Apalagi kalau ingat dulu aku dan suami juga diam-diam pacaran. Tidak ada yang tau. Saat adegan Yong San ingin memecahkan script dengan Sa-Ha, I can related it dengan adegan suami yang tiba-tiba menyuruh teman diskusiku untuk maju ke depan kelas. Sementara aku bengong dibuatnya. Ah sungguh kangen masa-masa itu. 

Bercita-cita ingin Menjadi Halmoni di Hari Tua

Diantara Ji Pyong, Do San, Dal Mi hingga In Jae.. Siapa sih karakter favoritku? 

Jawabanku adalah Nenek Dal Mi. Sungguh sosok yang luar biasa luas hatinya. 

Melihatnya aku jadi teringat mertuaku. I mean, dalam banyak sisi mirip loh sebenarnya. 

Beliau yang masih setia bersama Ayah Dal Mi ketika down, lalu membesarkan Dal Mi seorang diri ketika Ayahnya Dal Mi meninggal, tidak hanya itu.. Beliau juga membesarkan Ji Pyong ditengah keterbatasan ekonominya. Merangkul Ji Pyong hingga selalu memanggilnya ‘Anak Baik’. Membelikannya sepatu, memeluknya. Hiks. Kok baper pen nangis dulu bentar. 

Tidak hanya itu, beliau masih menerima mantan menantunya yang telah membuang anaknya sendiri. Luas sekali hatinya. 

Mirip sekali dengan mama mertua yang membesarkan anak yang ditelantarkan ibunya dari kecil hingga sudah kuliah kemudian membesarkan 2 anak yang lahir bukan dari rahimnya melainkan dari istri kedua suaminya. Jika dihitung, maka sebenarnya Mertua sudah membesarkan 9 anak ditengah keterbatasan ekonomi keluarganya. Luar biasa. Tidak hanya itu, masih saja mau direpotkan dengan membesarkan 4 cucunya. Emejing bukan? 

Saking emejingnya dulu aku sampai meniru kebiasaan mertua dalam mengatur ekonomi. Tapi aku tidak sanggup.. 

Akupun bercita-cita ingin menjadi seperti Nenek Dal Mi suatu saat nanti. Walau pemikiranku masih sesempit ini, kadang masih labil dan bla bla. Bahkan mungkin hampir mustahil bisa seperti itu. Tapi aku ingin bisa sebaik itu suatu hari. Entahlah bagaimana caranya

Belajar Rasa Ikhlas Dari Ji Pyong

Sejak episode 4 aku sudah sangat yakin bahwa Ji Pyong pasti tidak akan mendapatkan Dal Mi. Ji Pyong menolak perasaan cintanya, sementara Do San langsung mengakuinya. 

So related dengan kisah cinta emak zaman SMA yang kandas. Makanya emak sangat yakin pasti gak bakal bersama Dal Mi. Biar berasa senasib dan bisa berpelukan. Huahaha 

Selain itu tokoh utama dalam drama Start Up ini mengusung tokoh andalan yang sifatnya from zero to hero. Tentunya Do San yang lebih cocok untuk itu bukan Ji Pyong. Karena Ji Pyong sudah dalam keadaan sukses menjadi investor ketika bertemu dengan Dal Mi. 

Banyak yang menganalogikan Do San dan Ji Pyong bagaikan tokoh Naruto dan Sasuke. Dan berharap Sasuke (Ji Pyong) akan bersama Sakura (Dal Mi) di endingnya nanti. Akupun jujur juga pernah berharap demikian meski tidak ekstrem sekali. 

Saat episode 12, aku sudah yakin seyakin yakinnya bahwa Ji Pyong gak akan mendapatkan Dal Mi. Meski begitu, aku tetap melanjutkan menonton drama ini untuk semata-mata melihat Ji Pyong sampai akhir. Apakah dia akan bahagia? Apakah dia bisa ikhlas? Itulah yang aku pikirkan. 

Karena seperti kata-kataku diawal tadi, aku adalah #TimJiPyong tapi aku mendukungnya untuk selalu menjadi anak baik. Bukan memenangkan hati Dal Mi. 

Dan ternyata endingnya sesuai dengan harapanku. Ji Pyong sukses mencuri hatiku untuk menjadi anak yang benar-benar baik. Ditengah kesedihannya karena tidak bisa mendapatkan hati Dal Mi. Ditengah kesepiannya itu ia melepaskan semuanya dengan menjadi Investor yang sesungguhnya. 

Surat 15 tahun yang lalu, usaha menunggu hati Dal Mi yang terbuka untuknya, berakhir dengan ‘oh gitu ya’

Tapi Ji Pyong melepaskan semuanya dengan bertemu dengan Yeong sil versi asli dan menjadi ‘Sand Box’ yang sebenarnya. 

Tanpa Ji Pyong, drama ini tidak berarti. Banyak belajar dari Ji Pyong tentang hati yang dimulai dengan keras bisa menjadi selunak dan sebaik itu. 

Mungkin karena si nenek selalu menyebutnya ‘Anak Baik’. Karena setiap ucapan itu adalah doa. Bukankah begitu?

Belajar Pentingnya Kesetiaan dari Pasangan

Drama start up ini dimulai dari cerita tentang Ayah Dal Mi yang memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan dan memulai merajut impiannya. Akan tetapi, keadaan finansial tidak mendukungnya. Ia memiliki keluarga yang perutnya harus diisi. Karena itulah, istrinya langsung mengancam untuk menceraikan Ayah Dal Mi jika berhenti bekerja. I know that feeling. Saat semua orang mengutuki kelakuan Ibu Dal Mi tapi entah kenapa aku bisa paham posisinya. Sungguh jadi Ibu itu posisinya serba salah ya. Coba deh saat kejadian ini bisa ada keajaiban layaknya film go back couple juga. Eh, tapi kan gak mungkin.

Seseorang pernah bilang padaku.. 

“Ujian seorang istri adalah ketika suami dalam keadaan terpuruk, sementara ujian seorang suami adalah ketika ia sudah menemui kesuksesan.”

Unknown

Maka sesungguhnya, seterpuruk apapun kondisinya.. Tugas istri adalah mendukung suami dalam menggapai impiannya. Ini menjadi catatan untukku dikemudian hari juga. Bahwa apapun cita-cita suami, aku harus terus berada disampingnya untuk mendukungnya. 

***

Well, itu dia perasaan-perasaan nano-nano yang sudah aku tuangkan setelah menonton drama start up. Sedikit banyak curhat didalamnya tapi aku senang menulisnya. Karena drama ini sunguh banyak memberikan pembelajaran dan insight baru untuk kehidupanku. 

Kalau kalian bagaimana? Sudah nonton drama hits ini juga? Curcol denganku yuk! 

Komentari dong sista
0 Shares

10 thoughts on “Drama Start Up dan Warna-Warni Perasaan di Dalamnya

  1. Aduh drakor ini. Suka deh. Palingan, aku kurang puas aja di endingnya. Kepengennya, semuanya dijelasin. Gak hanya foto-foto kebahagiaan mereka aja yang diliatin. Tapi semuanya. Hehehehe

  2. Haha katanya sih biasanya Ji Pyeong tu kebanyakan didukung emak2 yang menginginkan sesuatu yang lbh realistis gtu, kalau yang satunya kyk lbh msh banyak sesuatu yang di awang2 yang dikejar.
    Aku bukan penikmat film ini, tapi suka baca cuitan org2 di twitter aja tiap wiken wkwkwk

  3. Hihi…unik siih…drama initu..
    Sedari awal sudah dikasih clue yang jelas banget dari writer-nim.
    Masih nekat tim-timan dan war.
    Yampuunn~
    Tapi aku sejujurnya sempet mikir, “Apa jangan-jangan endingnya gak sama siapa-siapa?”

  4. Jadi pengen nonton euy. Saya belum jadi penonton drakor sih tapi lihat reviewnya di mana-mana, jadi tertarik juga. Soalnya banyak hal bagus yang seprtinya bisa diserap. Etapi ini di mana sih> Netfilx ya?

  5. Drama Start Up ini memang jadi pembicaraan di mana-mana ya. Gak hanya di kalangan emak-emak,di tempat kuliah anak saya pun jadi perbincangan.Apalagi start up itu sesuai dengan mata kuliah anak saya yaitu bisnis manajemen. Jadi makin seru ngomonginnya 🙂

  6. Yaampun saya yang nggak paham drakor aja kok sampe berasa ikut nonton gituuh mbakk hihi.. btw makasih sharing ttg drakornya nih meski saya nggak terlalu suka drakor tapi kalau baca gini jadi seru aja 🙂

  7. Bala-bala HAN JI PYEONG hadiiirr wkwkwkw
    Awalnya aku suka karakter ini, karena tersepona ama lesung pipi dan senyumnya yg bikin pabrik gula terancam bangkrut 😛 Tapi, seiring bertambahnya episode, karakter HJP memang unik banget. Sempat2nya ngasih saran, setelah babak belur berantem ama Nam Do San 😀

    Rezeki banget buat Kim Seon Ho. Dia beneran laris manis tanjung kimpul setelah memainkan peran HJP dengan sangaaatt ciamik nan paripurna!

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A