Kangen Jadi Blogger Curhat yang Dulu

Kangen Jadi Blogger Curhat yang Dulu

“Entah kenapa sekarang Blog Walking gak seseru dulu. Mungkin karena sekarang kalo blog walking tulisannya pada sponsor mulu ya..”

“Iya, kan butuh traffic dan engangement juga.. “

“Tapi jadi gak asik lagi ya.. Pernah gak kamu ngerasain jenuh ngeblog karena hal begini?”

Dan jangan terbawa serius dengan obrolan diatas. Apalagi bertanya, ngobrol sama siapa win? 

Jujur, aku ngobrol sama kaca. 

Kangen Nulis Polos Kek Zaman Dulu

Dulu, waktu belum mengenal job.. DA, PA, SEO dan sebagainya. Sepertinya tulisanku lebih lepas dan luas. Dan yang kurasakan adalah, sepertinya dulu aku memang membutuhkan blog untuk mencurahkan isi hati. Iya, dulu aku adalah blogger curhat yang jujur saja.. Enggak peduli woy orang mau ngomong apa sama curhatan aku. 

Seiring berjalan waktu, aku kenal dengan blogger A, B, C dan D. Lalu, semakin kesini sepertinya aku memiliki ‘urat malu’ untuk curhat lagi. Aku pun memutuskan hanya menulis sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan. 

“Untuk apa menulis banyak-banyak dan enggak karuan kalau tidak ada yang baca?” Itulah salah satu komentar teman bloggerku. 

Dan hal itu memang benar. Namanya ilmu SEO itu perlu, riset keyword dsb perlu untuk menunjang tulisan. DA PA dsb perlu untuk kualitas job. 

Masalahnya, semakin kesini.. Jujur aku merasa semakin minder dan malu untuk menjadi blogger lepas seperti dahulu. 

Yang suka menjebolkan capslock kalau marah. Juga suka lompat-lompat tanpa menghiraukan EYD. Aku kangen menjadi anak kecil yang mencoret tembok sembarangan itu. 

Apakah Arti Menulis Bagimu? 

Termangu melihat Humaira yang tertawa lepas sambil mencoret-coret tembok. Lama. 

Aku semakin merenung, sebenarnya.. Apa arti menulis bagiku ya? 

Kenapa aku sekarang harus malu untuk menuangkan ekspresi? 

Apakah aku sudah move on atau malah menjadi blogger yang stuck hanya karena mengejar standar seperti kebanyakan? 

Aku kemudian melihat Farisha, lantas iseng bertanya padanya, “Pica, kenapa gak ikut Humaira mencoret tembok?”

“Memangnya mama enggak marah kalau Pica mencoret tembok?”

Lama kuberpikir. Apakah aku memiliki alasan yang sama dengan Pica? Aku takut berekspresi karena takut dengan pendapat orang lain? 

“Kalau Mama tidak marah, apa Pica masih suka mencoret tembok?”

“Enggak ma, Pica gak suka lagi. Karena Pica sudah punya tempat yang pas. Mama sudah membelikan buku gambar dan Mama juga bilang untuk memanfaatkan kertas bekas print gagal yang tidak terpakai untuk dicoret-coret. Jadi kenapa harus mencoret tembok? Itukan kerjaan bayi kayak Humaira..”

Kerjaan bayi? Pikirku lama. 

Perkataan Pica banyak menyadarkanku. Bahwa sebenarnya, apa yang aku lakukan selama ini bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Aku bukanlah seorang blogger yang tersesat karena mabuk dengan sponsored post. Aku hanyalah seorang blogger yang sedang dalam tahap picky. 

Bahwa tulisan memiliki tempatnya masing masing. Arti menulis bagiku bukan terpaku hanya pada blog saja. 

Aku sudah sedikit memahami blog. Ada 2 hal yang harus dipilih untuk memaksimalkan traffic. Yang pertama adalah branding maksimal di sosmed sedangkan yang kedua adalah memanfaatkan SEO. 

Sejak memiliki anak kedua, aku tidak bisa memaksimalkan branding di sosmed lagi. Pikiranku penuh dengan cabang. 

Baca juga: 9 Hal Penyebab Tulisan Emak Tak Kunjung Selesai

Aku memiliki banyak hal untuk dicurhatkan, tetapi aku malu menuliskannya di blog. Sekarang, aku seperti Pica yang belajar menggambar di kertas bekas. Kertas itu berserakan. Dan kukumpulkan. 

Aku masih membutuhkan menulis untuk hidup. Tapi, aku tidak bisa membagikan semua tulisanku. Ada yang kusimpan sendiri, ada yang aku sharing dengan teman dekatku, dan blog ini bukanlah tempat untuk itu. 

Kangen Seperti Dulu, Tapi Belajar Menyaring dan Menahannya

Yup, intinya aku memang kangen dengan diriku yang dulu. Yang tidak tau malu. Semuanya dicurhatkan di blog. Tulisannya memang organik dan menarik. Tulisannya lepas, seru, melegakan. Tapi, tidak begitu bermanfaat. 

Lagi pula, sebenarnya aku sudah menuliskan curhatan-curhatan itu di media yang tidak diketahui. Jadi toh sebenarnya, aku ini bukannya sedang mengalami ‘blocked’ dalam menulis. Tapi belajar memisah-misahkan ekspresi dan manfaat. 

Ah, ternyata jadi ‘blogger dewasa’ itu susah. Kangen dengan blogger apa adanya seperti dulu. Tapi, rasa kangen itu dikalahkan oleh rasa ingin menjadi lebih baik. *eh gimana? 

Apa kalian ada yang sepertiku? Kangen dengan zaman ngeblog dahulu? 

Komentari dong sista
0 Shares

6 thoughts on “Kangen Jadi Blogger Curhat yang Dulu

  1. aku juga kangen nulis curhat tanpa perlu embel-embel SEO. Tapi kadang pas lagi ada ide buat curhat eh tiba-tiba ada job akhirnya curhatnya nggak jadi dan malah dikejar-kejar deadline. wkwkwk. sekarang aku lagi rajin nyampah di fb sama twitter aja jadinya

  2. aku juga sebenarnya kangen nulis yang nggak harus embel-embel seo. tapi kadang pas mau nulis curhat ini pas banget tiba-tiba ada job akhirnya curhatnya nggak jadi dan malah dikejar-kejar deadline. wkwkwk

  3. gimana yaaa
    dulu bikin blog memang buat nulis curhat
    seiring banyaknya kebutuhan, lalu kita tau sistem sponsor post. kadang kita jadi hilang arah dan lupa tujuan
    makanya kita harus tetep bikin artikel organik ya mba

  4. Curhat emang bikin ringan, termasuk di blog. Itulah kenapa banyak orang senang melakukannya. Dan ketika aktivitas curhat itu terhenti karena job atau aktivitas di luar blogging, perasaan jenuh wajar datang menghampiri.

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A