Browsed by
Month: January 2018

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Ngapain kamu bahas korea? Mau keranjingan demam korea kayak masa remaja lagi?

NYADAR MAK! UDAH EMAK-EMAK! MALU!

😂😂😂

Oke, tulisan kali ini kayaknya agak bertolak belakang ya sama tulisanku biasanya apalagi gaya menulisnya dengan post sebelumnya diawal januari. Haha.. Abaikan, anggap emak udah move on. 😂

Jadi kenapa ngebahas korea sih? Karena eh karenaaa emak lagi ikutan collaboration nulis bareng komunitas FBB atau Female Blogger Banjarmasin. Tema tulisan collaboration kali ini adalah all about Korea. Yah, kalian tau lah kalau para perempuan itu hoby banget ngerumpi_eh, maksudnya kami itu sering bertukar hoby bersama. Termasuk membicarakan kesenangan yang satu ini, apalagi kalau bukan “Menonton Drama Korea aka Drakor” 😂

Kenapa sih ya cewek hoby banget nonton drama? Hmm berikut kayaknya ulasan yang pas untuk hal ini:

1. Cewek itu suka mengkhayal. Ga tau sih apa ini jenis Cinderella Sindrom? Pokoknya cewek itu udah dari sononya hoby mengkhayal Pangeran Berkuda Putih hingga Pangeran Konyol yang nyari pasangan sepatu hingga kepelosok negeri. 😂

2. Cewek itu ngakunya ga suka sedih tapi hoby nonton konflik. Hayo.. Ngaku aja begitu! Siapa yang suka baper nonton film korea sambil sedia sapu tangan? Sedih ya padahal? Tapi senang bukan? Haha.. Sepertinya cewek itu perlu penyaluran untuk mengeluarkan air matanya agar kecerdasan emosinya stabil. 😂

3. Cewek itu demen liat artis ganteng. Ah, ini.. Siapa yang punya alasan gini? Yang kalau liat pemain drama mukanya ga oke langsung males? Sementara liat ‘si Ganteng’ langsung teriak “Opppaaaa” padahal ya filmnya ga rame rame amat. 😂

4. Menonton Drama adalah salah satu sumber inspirasi dan media pembelajaran yang menyenangkan. Nah, kalau yang satu ini aku banget (ngakunya sok banget padahal alasan no. 3 tuh.. Haha). Tapi serius, sejak berumah tangga aku mulai suka menonton drama tanpa pandang bulu. Mau mukanya kek lapangan badminton juga aku gak peduli kalau memang filmnya menyenangkan dan menyisakan pembelajaran yang luar biasa (catet ya mak). 😂

Seperti drama satu ini, judulnya “Go Back Couple”. Jujur ya aku tidak terlalu tau dengan aktor dari film ini tapi membaca narasi kisah dari drakor ini aku langsung penasaran ingin menontonnya. Ya, kalian tau kan biasanya nih drama korea itu dipenuhi dengan cerita perjuangan sebelum menikah. Entah itu bagaimana mendapatkan si cowok atau si cewek biasanya cerita cintanya dipenuh dengan bumbu romantisme dan komedi lalu endingnya adalah ‘Menikah’ lalu ‘TAMAT’

Sebelum berumah tangga sih aku suka banget nonton drama begitu. Apalagi nih.. Apalagi kalau aktor si cewek itu adalah pribadi konyol dan ceroboh serta si cowok suka bilang ‘Bodoh’ dengan cueknya. Yah remaja banget lah ceritanya. Tapi setelah berumah tangga huewww… Asli deh, aku itu mulai pensiun nonton drama cabe cabean begitu. Halah meeen.. Kata siapa Menikah itu adalah ending yang bahagia?? Kebanyakan makan micin lo.. 😂

Baca juga: “Pembelajaran dalam film Revolutionary Road”

Setelah emak menonton episode pertamanya ‘Go Back Couple’ langsung deh dengan pedenya emak menyeret sang suami. Tidak biasanya loh suamiku mau disuruh nonton drakor bareng tapi kali ini aku wajibkan kalau enggak aku guling-guling. 😂

Alhamdulillah.. Tiada moment yang lebih menyenangkan dibanding meracuni suami sendiri dengan virus korea. Aku sukses membuatnya nonton bareng hingga episode terakhir sambil berpelukan. *Ehm.. Ciee… 😛

Diceritakan bahwa Ma Jin Jo dan Choi Ban Do menikah dengan awal yang bahagia hingga akhirnya dikaruniai seorang anak. Pernikahan yang awalnya dipenuhi dengan romantisme kehidupan kini mulai berkurang semenjak konflik demi konflik mulai menerpa kehidupan rumah tangga mereka. Choi Ban Do sebagai tulang punggung keluarga telah dibebani dengan kerasnya kehidupan ekonomi dan sosialnya dilingkungan kerjanya, sementara Ma Jin Jo telah dibebani dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga, depresi, tekanan finansial dan rasa kesepian ditengah kehidupan keluarganya dengan suaminya yang sangat sibuk. Akhirnya, pernikahan mereka hanya mampu berjalan hingga 14 tahun kemudian mereka memutuskan ingin segera bercerai.

Apa jadinya ketika ditengah-tengah konflik perceraian namun keduanya malah dikembalikan ke masa lalunya? Yaitu pada tahun 1999, saat beberapa waktu sebelum pertama kali mereka dipertemukan dengan umur yang sama-sama masih muda. Senang? Banget! Siapa sih yang menolak dikembalikan menjadi muda lagi? Semua orang pasti bermimpi untuk bisa kembali menjadi muda demi mengubah masa depannya.

Apakah mereka akan mengubah jalan hidup mereka? Apakah mereka akan mencari jodoh yang lain? Bagaimana mereka mengatasi kerinduan mereka dengan Seo Jin anak mereka? Akankah Rumah Tangga mereka bersatu kembali?

Hmm.. Sekilas melihat alur dari film ini aku jadi ingat dengan film ’17 Again’ yang di perankan oleh Zac Efron, tau? Yah, cerita awalnya mirip-mirip lah tapi bedanya di 17 Again cuma Zack yang kembali muda dan dia tidak kembali kemasa lalunya. Hanya sekedar fisiknya yang berubah menjadi muda. Tapi serius laaah, Go Back Couple bukan plagiat. Aku jauh lebih suka Go Back Couple karena pembelajaran di drama ini jauh lebih banyak.

Yuk! Segera nonton mak! Inget sama suami ya! 😂

Kenapa sih harus nonton sama suami? Karena kalo sendirian itu maka pembelajarannya ga bakal maksimal. Soalnya rumah tangga itu bukan cuma soal Istri saja, tapi suami juga. Rumah Tangga adalah tentang saling memahami satu sama lain. Nah, Berikut adalah point-point berharga dari pembelajaran menonton Drama Korea “Go back Couple” yang telah aku dapatkan:

1. Pernikahan memang bukanlah akhir yang bahagia

Hei.. Buat para remaja! Kalian wajib nonton film ini supaya kalian tau kalau Rumah Tangga itu ga sereceh yang kalian bayangkan!

Kalian pikir dengan menikah maka hidup kalian udah bahagia? Kerjaan tiap hari cuma guling-guling dikasur dan menatap indahnya dunia bersama diatas awan putih? Jangan mimpi ya! 😂

Perlu kalian ketahui konflik kehidupan berumah tangga itu banyak sekali. Masing-masing rumah tangga diberi cobaan yang berbeda. Ada yang diuji dengan perekonomian, lingkungan sosial, hingga beban psikologis. Kalau kalian kira dengan menikahi cowok tampan nan tajir akan mengatasi semua masalah itu maka kalian salah besar!

Lalu, apa yang dapat mengatasinya? Cinta?

Makan tuh Cinta! 😂

Iya, itu kata para tetua.. Terus emak pikir ya iya lah cara ‘Cinta’ tidak berhasil. Wong cintanya dimakan bak makanan dan dibuang begitu saja. Jadi, buat kalian yang sedang ngebet-ngebetnya ingin menikah maka ingatlah bahwa Cinta itu adalah alasan kalian menikah tapi kalian juga harus mengerti maksud dari CINTA itu sendiri.

Belum ngerti? Makanya jangan terburu-buru menikah. Belajar dulu ya! Belajar! 😛

2. Saat Pahit itu menghampiri, ingatlah kenangan Manis

Tidak dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, rumah tangga akan mengalami masa-masa sulit. Baik itu masa jenuh hingga masa penuh tangisan. Apa yang kita lakukan saat masa-masa pahit itu datang?

Kita bertengkar!

Pertengkaran memang hal yang lumrah dalam berumah tangga. Bahkan, orang bilang rumah tangga tanpa pertengkaran akan terasa sangat hambar. Tapi apa jadinya jika pertengkaran terjadi diluar batas? Ya, Perceraian.

Uniknya disadari atau tidak, setiap pasangan yang bertengkar selalu mengungkap aib masing-masing pasangan. Mereka yang dulunya tidak tau sifat asli pasangan kini menyesal saat mengetahui sifat yang sebenarnya setelah menikah. Kenangan manis saat sebelum dan setelah menikah pun seakan sirna begitu saja. Padahal, kenangan manis itu penting loh.. Bukan sekedar gombal.. gombal..

Seperti inilah perasaan Ma Jin Jo dan Choi Ban Do saat kembali ke masa lalu mereka. Mereka sadar bahwa mereka pernah melewati masa-masa manisnya rasa cinta bersama. Masa saat mereka pernah mengalami puncak cinta dan bagaimana mereka melewati masa sulit bersama.

Maka, saat kita bertengkar.. Ingatlah kenangan manis.. Ingatlah kenapa kita memilihnya.. Ingatlah masa sulit yang bisa kita lalui..

3. Jangan menyesali masa muda, nikmati musim semi Rumah Tangga dan ambillah setiap jejak manis kehidupan

Choi Ban Do dan Ma Jinjo kembali muda dan hidup di masa lalu mereka. Mereka bertanya-tanya, Apa sebenarnya maksud Tuhan mengembalikan mereka ke masa lalu? Apakah agar mereka diberi kesempatan kedua untuk mengubah jalan hidup mereka? Atau ini hanyalah sekedar hiburan untuk mereka yang diberi oleh Tuhan?

Hmm.. Ayo kita berkaca dengan diri kita..

Apa yang kita lakukan jika kembali ke masa lalu? Yap, salah satu yang akan kita lakukan adalah memaksimalkan masa muda kita.. Kenapa? Hmm.. Kenapa ya..

Bagiku sendiri masa mudaku bagaikan musim semi yang tak pernah berbunga. Sama seperti cerita Choi Ban Do dan Ma Jinjo, aku juga merasakan bahwa masa muda yang pernah aku lewati dahulu berjalan kurang maksimal.

Baca juga: “8 hal yang harus kamu lakukan mumpung kamu masih single”

Enak dong ya.. Jika kita bisa mengubah masa lalu kita? Tapi apakah hal itu mungkin?

Tentu saja tidak, itu hanya terjadi di film.. 😂

Kesimpulan yang aku ambil dari film ini adalah kita tidak mungkin kembali kemasa muda kita, maka mumpung kamu masih muda maksimalkan potensimu. Dan, buat yang sudah terlanjur menua dan berumah tangga maka hal yang harus dilakukan adalah ‘menikmati musim semi dalam berumah tangga’.

Aku yakin, tidak semua moment dalam berumah tangga itu adalah moment pahit. Pasti ada moment manis didalamnya. Nikmati semuanya agar hidup terasa lebih bermakna. Karena makna bahagia adalah saat hidup kita berwarna bagai pelangi bukan hanya dihiasi satu warna saja. Warna warni kehidupan rumah tangga itu unik. Mungkin saat belum kenal satu sama lain kita hanya mengenal satu warna pada pasangan. Namun seiring berjalan waktu warna lain pada pasangan akan muncul, yakinlah itu bukanlah fase musim kering rumah tangga namun musim semi yang sebentar lagi akan berbunga.

4. Terkenang Cinta Pertama? Ingatlah Cinta Terakhirmu

Ehm… Ada yang masih ingat dengan Cinta Pertama dan masih terkenang manis hingga berumah tangga?

Saking penasarannya bahkan masih saja suka stalking sosial media si first love. Ikut gelisah saat tau dia sakit. Ikut senang saat dia bekerja. Bahkan nih, dia nikah malah kitanya sedih. Ada ga sih yang begitu?

Ops, ada juga loh emak-emak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba deh aku nikah sama si A aja kemaren, jadi orang kayah deh aku’

Ada juga bapak-bapak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba aku kemarin nikah sama si A aja, dia lebih awet muda dan dia lebih lemah lembut’

Terus apa??? Mau menyesal?? Mau kembali kemasa lalu trus ngedeketin si Do’i?

Yah, itu juga yang terjadi pada Drama Go Back Couple. Choi Ban Do mencoba mendekati Cinta Pertamanya Min Suh Young. Ia bersikeras ingin menjauhi Ma Jin Jo. Berbeda dengan Ma Jin Jo yang tak memiliki Cinta Pertama, ia akhirnya menyesali pernah menolak seniornya dikampus Jung Nam Gil dan berusaha memperbaiki masa lalunya dengan mendekati Jung Nam Gil. Nah, Bagaimana akhirnya? Akhirnya mereka malah saling cemburu pemirsa.. 😂

Yakin ingin kembali pada Cinta Pertama?

Kesimpulannya? Cinta Pertama itu Omong Kosong! Debaran jantung yang menggebu-gebu ketika kita bertemu dengan si Dia takkan bertahan lama jika kita sudah hidup lama dengannya. Cinta pertama adalah kenangan manis yang tak patut kita sesali dan kita kenang. Hal yang paling berarti sekarang di kehidupan rumah tanggamu adalah Cinta Terakhir. Maka, rawatlah cinta terakhirmu.

5. Belajarlah saling menghargai pasangan

“Ada satu titik dimana kita kurang menghargai kepedulian pasangan karena kita sudah merasa hal itu adalah hal biasa.”

Sudah melalui titik itu?
Melihat Suami kelelahan bekerja hingga tengah malam dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Melihat Istri kelelahan mengurus anak, dapur, sumur hingga kasur dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Kita tidak sadar bahwa pekerjaan yang ia lakukan bukan didasari karena kewajiban. Tapi didasari oleh rasa cinta. Dan kita tidak menghargainya karena merasa itu hanyalah hal biasa yang dilakukan. Haruskah kita membuat orang yang kita cintai menjadi robot? Bahkan robot-pun butuh baterai untuk bekerja!
Tak bisakah kita memberikan apresiasi? Uluran tangan tanda peduli hingga aliran semangat? Itulah tenaga yang dibutuhkan dalam kehidupan berumah tangga.

Choi Ban Do bekerja di Farmasi Han Kook. Menjadi sales obat yang menawarkan obat-obatnya pada para Dokter. Bukan hanya itu, ia juga dijadikan pesuruh oleh Dokter Kim. Ia menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemaninya di klub malam. Ia bekerja ‘Bagaikan Anjing Pesuruh’ hingga larut malam. Untuk siapa?

Untuk anak dan Istrinya..

Ma Jin Jo bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Lulusan sarjana tidak membuatnya dapat berkarir karena ia telah mengorbankan hidupnya untuk kehidupan Rumah Tangganya. Ia mengurus Dapur, anak, hingga mencukupi uang bulanan yang pas pasan untuk kehidupan keluarganya. Ia tak lagi cantik seperti saat muda dulu karena ia terlalu banyak berkorban. Untuk siapa?

Untuk anak dan Suaminya..

Namun saat keduanya bertemu dimalam hari. Masing-masing sibuk mengeluh dengan kesehariannya tanpa saling menghargai. Ma Jin Jo tak mengerti sekeras apa kehidupan pekerjaan diluar sana sementara Choi Ban Do juga tidak mengerti sesulit apa manajemen rumah tangga yang sudah Ma Jin Jo lakukan.

Ingatlah, setiap hal yang dilakukan oleh Suami dan Istri bukanlah ‘Hal Biasa’. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Maka, hargai usahanya untuk berusaha mencintaimu dengan lebih baik. Ya, setiap pasangan harus saling menghargai.

6. Kecantikan Wanita adalah saat ia bisa menjadi Dirinya Sendiri

Saat muda, kupikir usia hanyalah angka yang meresap begitu saja tanpa membuat perubahan. Sekarang aku sadar, usia tidak meresap begitu saja dalam tubuh tanpa perubahan. Seiring bertambah tua kau akan menyesuaikan diri dengan usia.

Sudah merasakan hal itu?

Saya belum.. Merasa masih muda.. *siram gayung 😂

Walau aku belum benar-benar merasakannya namun aku yakin sekali masa itu lambat laun akan datang. Masa ketika kecantikan tak lagi berarti. Masa ketika kulitku mulai keriput dan tulangku mulai lelah.

Apa kekuatan yang masih ada dalam diri kita jika kita menua? Kekuatan itu adalah Inner beauty yaitu saat kita menjadi diri sendiri yang menyenangkan. Hal itulah yang membuat kita bersinar bahkan diusia senja.

Ma Jin Jo diajak kencan oleh Jung Nam Gil karena ketidaksengajaan. Ma Jin Jo langsung dengan cuek menolaknya. Namun, Ma Jin Jo ingin memperbaiki kesalahannya dahulu dengan mendekati Jung Nam Gil. Awalnya, hal itu membuat Jung Nam Gil kebingungan. Sebenarnya, saat itu dia tidak benar-benar menyukai Ma Jin Jo.

Akan tetapi semakin sering bertemu dengan Ma Jin Jo membuat Jung Nam Gil benar-benar jatuh cinta. Kurasa, hal ini bukan karena kecantikan Ma Jin Jo namun karena kedewasaannya. Yah, sebagai emak-emak yang sudah berumur maka tingkah polah Ma Jin Jo jauh berbeda, dia sangat dewasa dan perhatian kepada Jung Nam Gil. Baginya, Jung Nam Gil adalah seorang anak non ekspresif yang sedang tersesat dan mencari jati dirinya.

Dari potongan drama ini aku belajar bahwa hal yang membuat wanita tetap menarik sejatinya adalah karena ia dapat menjadi diri sendiri dan peduli kepada orang lain.

7. Pentingnya keterbukaan dan kerjasama antar pasangan

Salah satu adegan yang membuatku tersentuh adalah ketika Ma Jin Jo dan Choi Ban Do bekerja sama untuk memberi pelajaran kepada Dokter Kim Muda. Mereka menyusun rencana agar Dokter Kim tertangkap basah selingkuh oleh pacarnya dimasa lalu yang akan menjadi istrinya dimasa depan.

Dimasa depan, Choi Ban Do adalah suruhan Dokter Kim. Ia melakukan apa saja yang diperintahkan Dokter Kim, termasuk untuk menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemani Dokter Kim di klub malam. Hal inilah yang membuat Choi Ban Do sering pulang larut malam hingga merasakan keterpurukan dilingkungan kerjanya.

Ma Jin Jo dan Choi Ban Do ingin merubah hal itu. Mereka merasa kasihan dengan istri Dokter Kim yang sebenarnya dimanfaatkan kekayaannya oleh Dokter Kim. Maka, mereka berencana untuk merubah takdir Dokter Kim untuk menikahi pacar kayanya.

Akhirnya mereka berhasil melakukan hal itu. Semuanya karena Choi Ban Do mulai terbuka dengan Ma Jin Jo tentang pribadi ‘bos’ nya. Kerja sama yang mereka lakukanpun telah menumbuhkan rasa cinta yang kuat diantara keduanya.

Hal yang dapat kupetik dari adegan ini adalah seandainya suami istri saling terbuka denhan masalahnya masing-masing dan bekerja sama untuk masalah tersebut maka rumah tangga mereka akan langgeng dan menyenangkan.

8. Cinta adalah Senjatamu melawan dunia yang sulit

Apa cita-cita kalian sebenarnya? Apakah cita-cita kalian sudah benar-benar tercapai?

Diceritakan dalam Drama Go Back Couple bahwa Choi Ban Do adalah mahasiswa lulusan dari Teknik Sipil. Namun ia bercita-cita kuat ingin menjadi Sutradara. Ia bekerja keras bersama kedua temannya untuk menciptakan hal itu. Ia bahkan membuat hal yang tak terlupakan bersama ketiga temannya hingga ia merasa malu bahwa pernah melakukan hal konyol.

Apakah ia berhasil mewujudkan cita-citanya? Sayangnya dunia itu kejam. Ia kini hanyalah sales obat di Farmasi Han Kook. Salah seorang temannya sekampus yang dulu sangat ambisius untuk menjadi Arsitek pun kini berakhir menjadi sales asuransi.

Ma Jin Jo sendiri pernah menyesali karirnya sekarang yang hanya diisi dengan kesibukan Rumah Tangga. Ia berpikir bahwa jika saja ia dulu lebih rajin maka mungkin saja ia bisa menjadi Jaksa atau Pengacara atau berbagai pekerjaan bergengsi lainnya.

Namun apa yang membuat Choi Ban Do dan Ma Jin Jo tetap bersemangat untuk hidup?

Cinta adalah jawabannya. Melihat senyum dan tawa anak mereka adalah hal yang menguatkan mereka untuk terus hidup dan bekerja.

Ya, hidup itu sulit dan rumit. Kadang hal yang kita upayakan sejak lama tidak tercapai. Kita jatuh merangkak untuk sekedar mencari sesuap nasi namun kita dapat terus bertahan jika mengingat sebuah senyuman selalu menanti kita dirumah.

9. Belajar Adab Kepada Orang Tua dan Mertua

Apa yang kalian lakukan jika dapat kembali menemui Ibu kalian dalam kondisi hidup sementara sebenarnya ia sudah mati?

Memeluknya?

Mengungkapkan penyesalan?

Menangis?

Hal itulah yang dilakukan oleh Ma Jin Jo saat mendapati Ibunya yang masih hidup dimasa lalunya. Di masa depan, Ma Jin Jo bahkan tidak sempat menemui Ibunya dikesempatan terakhir. Ia sangat marah pada Choi Ban Do yang tidak dapat menyempatkan waktu untuk itu.

Ma Jin Jo pun membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukannya dengan Ibunya, tidur dengan Ibunya, hingga memastikan kesehatan Ibunya dimasa depan. Ia tidak mau kehilangan moment berharganya bersama Ibunya.

Chi Ban Do pun tidak jauh berbeda dengan Ma Jin Jo. Ia langsung meneteskan air mata saat berpapasan dengan mertuanya yang masih hidup. Perasaan bersalahnya muncul begitu saja. Ia pun langsung menemui mertuanya dan membelikan buah kesukaannya. Ia juga pergi ke Rumah Sakit untuk meyakinkan kondisi kesehatan mertuanya baik-baik saja.

Adegan ini membuatku belajar bahwa walaupun kita sudah berumah tangga dan memiliki kehidupan sendiri, tapi orang tua adalah hal pertama yang membuat kita merasakan kasih sayang. Kasih sayang tersebut tidak bisa kita balas sampai kapanpun. Oleh karena itu, sayangi dan hargailah mereka selagi mereka masih hidup. Kita akan sangat menyesal sekali jika mereka telah tiada.

Baca juga: “Surat untuk mama, maafkan aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga”

Kasih sayang yang diberikan oleh Choi Bando kepada mertuanya pun membuatku tersentuh. Ia telah menganggap mertuanya bagaikan orang tuanya sendiri. Dari mertua, ia belajar untuk menyayangi Ma Jin Jo.

Baca juga: “Untuk apa aku membenci mertuaku

Hmm.. Itulah kiranya pembelajaran penting dalam rumah tangga yang aku petik dari Drama Korea “Go Back Couple”. Kalian sudah nonton dan sependapat dengan hal diatas? Yuk, sharing!

Dan buat emak-emak yang belum nonton, yuk segera nonton! Film ini benar-benar recomended ditonton buat kamu yang sudah berumah tangga!

Mengembangkan Karakter Positif Anak: PR Besar untuk setiap Orang Tua di Dunia

Mengembangkan Karakter Positif Anak: PR Besar untuk setiap Orang Tua di Dunia

“Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses?” 

Ya, kata-kata itu sering kali muncul setiap kali aku bertemu dengan para orang tua. Mulai dari Ibuku sendiri, tetanggaku, hingga akhirnya lubuk hatiku membenarkan kata-kata itu. Namun lambat laun aku mulai bertanya lagi,”Sebenarnya bagaimana definisi sukses itu?”

Apakah ketika ia tumbuh besar dengan memiliki segala materi sehingga hidupnya terjamin? 

Apakah ketika ia tumbuh besar dengan membawaku turut menemaninya tanda ia telah berbakti?

Apakah ketika ia tumbuh besar dan terus dapat menuruti segala perintahku tanpa protes?

Dengan begitu, Apakah aku termasuk dalam golongan orang tua yang sukses?

Ilmu parenting memang rumit, pikirku. Bagaimana bisa segala sesuatu ditulis sedemikian rupa namun praktiknya hanya dapat sekian persen diterapkan. Belum lagi alasan kewarasan yang selalu menghambat pembenaran ilmu parenting.

Baca juga: “6 hal yang perlu emak tau sebelum belajar parenting”

Atas dasar pertanyaan mendesak itulah aku berpikir bahwa sepertinya aku perlu mendapat ilmu parenting baru. Apapun itu walau hanya sekedar seminar kecil. Alhamdulillah doaku terjawab ketika dapat mengikuti “Mother’s Day Gathering with Wardah” dengan gratis. Tidak hanya mendapat ilmu beauty class gratis namun aku juga dapat mengikuti seminar parenting tentang “Pengembangan Karakter Anak” dengan nara sumber Psikolog Emma Yuniarrahmah.

Wow, How Lucky! 

Para Ibu di acara Mother’s Day Gathering with Wardah

Pada dasarnya orang tua ingin anaknya sukses. Untuk mewujudkan hal itu maka para orang tua sering kali berusaha maksimal agar anaknya dapat berprestasi. Namun kurangnya pengetahuan dari orang tua menyebabkan ketidakseimbangan porsi IQ dan EQ untuk menunjang keberhasilan anak. Sudah Sering bukan kita melihat ada anak yang sangat pintar dalam pelajaran sekolah namun tidak memiliki sopan santun. Sering pula kita melihat anak yang tidak dapat berekspresi dengan benar diluar namun sangat aktif didunia maya.

Hal ini yang membuatku kadang kala sering berpikir bahwa karakter introvert dan ekstrovert itu adalah pengaruh lingkungan dan gaya pendidikan bukan bawaan genetik. Ya, sebenarnya sejak kecil jika anak kita dididik untuk berkarakter positif dengan teladan positif pula maka ia akan menjadi pribadi yang luar biasa.

Bunda emma menjelaskan pendidikan karakter

Harapan terbaik orang tua adalah anaknya dapat menjadi pribadi yang mandiri, santun, berperilaku baik, mampu mengambil keputusan, percaya diri, cerdas, bertanggung jawab serta optimis. Untuk mewujudkan karakter positif itu, kita memerlukan pola pengasuhan yang tepat dengan turut memahami perkembangan anak.

Kesempatan kita untuk mendidik anak hanya terjadi satu kali. Maka, jangan sia-siakan kesempatan emas itu. Karena ia tidak akan terulang. Didik anak untuk mematangkan karakternya diusia dini karena jika ia sudah besar hal ini akan sedikit terlambat. Berikut ini merupakan alasan mengapa karakter anak harus dibentuk sejak kecil:

1. Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadi perubahan. 

2. Pengalaman masa kecil berpengaruh kuat terhadap perkembangan berikutnya

3. Membantu anak dalam mengembangkan diri dan memecahkan masalah.

4. Upaya Pencegahan jika suatu hari nanti anak di hadapkan pada pilihan yang buruk. 

Dalam persentase perkembangan manusia dijelaskan bahwa pada umur 0-4 tahun karakter anak dapat berkembang hingga 50%. Pada umur 4-8 tahun karakter dapat berkembang hingga 30%. Sementara pada umur 8-18 tahun karakter dapat berkembang hingga 20%.

Jadi, sudah tau alasan kenapa kalau anak kecil itu polos sekali sementara anak remaja itu suka protes?

Sudah tau alasan kenapa kita sulit menghilangkan innerchild kita saat kita sudah besar?

Kesimpulannya, gaya asuh yang orang tua terapkan sejak kecil sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. Begitu pula segala aturan dan interaksi yang orang tua bentuk. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap pola perkembangan anak.

Bagaimana pola asuh yang sering diterapkan oleh orang tua?

Seringkali pola asuh dibawah ini sangat familiar di sekeliling kita:

  • Orang tua memberikan fasilitas tanpa tahu dampaknya
  • Orang tua overprotective sehingga tidak percaya dengan anaknya
  • Orang tua menerapkan disiplin yang ketat dan penuh aturan

Sebenarnya, pola asuh yang disarankan adalah:

  • Tidak terlalu keras, namun juga tidak terlalu lunak tanpa aturan
  • Pola hubungan sejajar (bersahabat) bukan top down (pada moment tertentu)
  • Minimalkan tekanan
  • Jadilah contoh/teladan yang baik, bukan hanya bisa mengucapkan
  • Tunjukkan perhatian dan kasih sayang
  • Hadirlah dalam kehidupan anak, bukan hanya ada secara fisik tapi sibuk sendiri dan tidak ada artinya bagi anak
  • Pola asuh Ibu dan Bapak harus Konsisten

Jika pola asuh diatas dapat diterapkan dengan baik maka kemungkinan besar anak akan memiliki karakter yang positif. Karakter positif pada anak dapat bersifat universal yang dapat diterima diberbagai budaya. Hal ini mencakup cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak (semuanya harus sejalan). Karakter positif akan tercipta dari pembiasaan yang tentunya tidak cukup dengan diajarkan saja. 

Memang, butuh waktu untuk berhasil dan menanamkan karakter positif pada anak. Untuk itu kita perlu mengenalkan, melatih, serta membiasakan anak sejak kecil. Berikut adalah cara-cara detail membentuk karakter pada anak:

1. Bersikap konsisten dan berkelanjutan

Sepertinya sikap konsisten berlaku untuk resolusi apa saja. Setiap ingin melakukan perubahan kita harus menetapkan hati dan tujuan. Ketetapan yang kuat inilah yang akan menciptakan konsisten berkelanjutan. 

Sebagai contoh, kita ingin anak kita berhenti kecanduan gadget. Maka kita harus membuat jadwal batasan untuknya. Kita juga tidak boleh ingkar terhadap jadwal tersebut karena pola pikir anak sudah terbentuk untuk membedakan boleh dan tidak. Apa jadinya jika kita sendiri saja tidak konsisten dalam memberikan aturan? 

Baca juga: “Mendidik anak generasi milenial dengan CERDIK”

2. Jangan lupa beri pendidikan keagamaan

Pendidikan agama harus diberikan sejak kecil. Hal yang harus dijadikan dasar diantaranya adalah Iman. 

Aku sendiri belum mengajarkan hal lebih detail tentang agama seperti hapalan surah dan lainnya. Bagiku, dia mengerti Allah dan Nabi Muhammad saja rasanya sudah syukur sekali. Basicnya, kalimat syahadat adalah dua hal yang harus dia pahami. Selebihnya adalah metode santai. 

Baca juga: “Ketika anakku bertanya Nabi Muhammad yang tak boleh digambar” 

Selain Iman hal yang lebih penting diterapkan adalah takwa. Yah, tidak dipungkiri bahwa pendidikan agama adalah dasar bahwa anak harus mengenal istilah takwa. Dalam praktik pembelajarannya biasanya aku menerapkan malaikat kiri kanan sebagai pengawas tindakannya. Hal ini akan membuat anak merasa berdosa jika ia telah melakukan kesalahan dan akan berusaha memperbaikinya. Ia juga akan lebih bersemangat dalam mengerjakan kebaikan.

3. Berikan penjelasan dan diskusi tentang karakter positif 

Nah, kelanjutan dari point no. 2 adalah penjelasan tentang karakter positif. Kenapa karakter positif harus diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pendekatan agama aku mengajaknya untuk mengenal Surga. 

Anak-anak senang berimajinasi tentang surga. Di imajinasi mereka surga bagaikan tempat indah yang luas yang dipenuhi dengan permen, coklat dan mainan. Sebagai orang tua tugas kita adalah mengarahkan mereka bagaimana cara untuk mencapai surga. Ya, kedengarannya simple. Tapi percayalah, mereka akan tetap tergoda untuk mencoba berbuat kejelekan. Maka, tugas kita untuk membimbing mereka.

4. Memberikan contoh

Semua pasti setuju jika anak kecil itu senang protes. 

“Mama ini bilangin ga boleh main hape tapi mama sendiri main hape terus” 

😅

Sejatinya anak adalah peniru ulung dari orang tuanya. Karena itu istilah ‘buah tak jatuh jauh dari pohonnya’ terkenal sekali. Maka, ketika ingin membuat aturan untuk buah hati sebaiknya perbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita belum sanggup menjadi contoh maka berikan aturan kecil yang kita sudah sanggup melakukannya.

5. Tidak memanjakan

Aturan yang dibuat tidak boleh terlalu ketat namun juga tidak boleh terlalu longgar, setuju? 

Khawatirnya, jika kita melonggarkan aturan anak kita akan cenderung manja. Nah, tanpa sadar kita malah terbawa pada pola asuh permisif. Efek negatif dari pola asuh ini adalah anak menjadi lambat dalam kemandirian, cenderung mengandalkan orang lain hingga takut akan kegagalan dan kekalahan. 

6. Lakukan hal-hal kecil yang positif

Mendidik anak itu tidak perlu dimulai dengan hal besar sekaligus, setuju? 

Anak kecil lebih senang memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang tuanya. Ia akan mencontoh semua hal detail yang dilakukan oleh orang tuanya. Maka, berilah contoh yang terpuji. 

source: kar4kids.org

Membuang sampah pada tempatnya, memberi makan binatang, menyiram tanaman, menyapa teman adalah contoh hal kecil positif yang dapat kita lakukan untuk membuat si kecil meniru kita. 

7. Lakukan pengulangan dan pembiasaan 

Hal apa yang biasanya selalu terlupa untuk di ucapkan si kecil? 

Banyak, tapi jangan sampai si kecil lupa untuk berkata ‘Terima Kasih’ saat diberi, berkata ‘Maaf’ saat berbuat kesalahan, dan berkata ‘Tolong’ saat ingin meminta tolong. Tiga hal ini adalah hal dasar untuk mengembangkan karakter anak. 

Untuk terbiasa mengucapkan hal tersebut maka kita harus tidak bosan mengulangnya. Terkadang, anak kecil bukannya lupa mengucapkan hal tersebut tapi perasaannya masih sedikit malu dan mereka sering merasa terburu-buru sehingga sulit mengucapkan kata tersebut. Maka, jangan bosan untuk terus membiasakan mereka. 

8. Nyatakan salah jika memang salah

Sering melihat anak yang senang mengadu? 

Apa yang kita lakukan jika si kecil mulai mengadu dan mencurahkan konflik dengan temannya? 

Ada sebagian orang tua yang senang membela anaknya. Bagaimanapun sudut pandang cerita konflik tapi orang tua tersebut tidak mau tau dan sering membela anaknya bagimanapun keadaannya. Padahal jika hal itu terus berkelanjutan maka anak akan merasa bahwa dirinya selalu benar. 

Sebagai orang tua kita harus menjadi pendengar dan penasehat yang baik bukan sebagai pelindung egonya. Nasehatilah ia jika memang ia melakukan hal yang salah. Jika ia menangis dan membela diri maka biarkan saja. Lambat laun ia akan menyadari kesalahannya dan berani meminta maaf. 

9. Lakukan tindakan koreksi jika ada yang tidak sesuai 

Sebagai orang tua hal yang perlu kita lakukan diantaranya adalah evaluasi. Kita perlu memantau sejauh mana anak kita telah berkembang dan memahami pola asuh mana yang tidak sesuai dengannya. Karena sejatinya, tidak semua anak berkepribadian dasar yang sama. 

Sebagai contoh, kadang kala anak perempuan terlahir jauh lebih sensitif dibanding anak laki-laki sehingga ia lebih sering protes dan mengeluarkan air mata. Maka kita sebaiknya tidak menerapkan pola asuh yang sama untuknya. Akan lebih baik jika Ibu dan Ayah bekerja sama dalam pengembangan kepribadian anak. 

source: elderlaw-solution.com

Membentuk karakter positif pada anak bukanlah hal mudah. Terlihat mudah sekali menonton dan menuliskannya disini. Percayalah praktiknya sangatlah sulit.

Namun, seperti prinsipku dahulu. Jika aku tak menulisnya, maka aku tak akan bisa belajar apa-apa. Kuharap tulisan ini berguna bagi pembacanya juga dapat menjadi pengingat untuk diriku sendiri, seorang Ibu baru dengan satu anak.

Happy Parenting.. 😊

Dear January.. Maafkan aku.. 

Dear January.. Maafkan aku.. 

Saat baru saja aku merasakan kehidupan baru diawal tahun yang menggebu-gebu, tapi siapa sangka ia akan hilang begitu cepat?

Aku tau, tak seharusnya aku mengawali 2018 dengan kesedihan. 

Aku tau tak seharusnya aku menuliskan kesedihan di Bulan Januari yang baru. 

Tapi kesedihan itu datang begitu saja menghapus semangat baruku. 

Dan jika aku tak menulisnya. Maka aku tidak bisa melangkah dengan lebih baik. 

Maka.. biarkanlah aku menulisnya…

***

30 Desember 2017 aku berloncat kegirangan melihat hasil testpack dipagi hari. Bergegas memoto hasilnya dan menanyakan keakuratannya. Yah, bagaimanapun juga aku tidak boleh kegeeran dulu dong. Siapa tau alatnya salah? Terlebih aku adalah salah satu penganut paham ‘jangan terlalu bersemangat dengan kegeeran palsu’. Namun, memang hal itu sangat membahagiakan hingga membuatku langsung memberitahu suamiku.

Bagaimana responnya?

Ibarat bertemu dengan anak kecil yang baru saja mendapat doorprize piala dan mainan. Seperti itulah ia membuat ekspresi senang melihat kelakuanku. Bertepuk tangan sambil bilang ‘Yeaay!! Hebaaat!’

Ah, begitulah suamiku. Jangan pernah mengharapkan hal romantis keluar dari mulutnya. 

Bagaimanapun juga itu moment yang menyenangkan. Terlebih saat satu-dua-tiga-empat teman-temanku meng’iya’kan keakuratannya sambil mengucapkan selamat. Aku senang sekali, sudah setahun yang lalu aku ingin hamil. 

***

Setahun lalu aku sudah memantapkan diri melepas KB. Walau sebenarnya suamiku masih ingin menundanya. Yah, aku tak tau jelas kenapa ia tidak terlalu suka dengan kehamilan. Mungkin dia trauma melihat aku dulu terkena babyblues. Takut anak berikutnya akan menimbulkan dampak psikologis yang sama untukku. Maka, walaupun aku melepas kb tapi ia bersikeras masih ingin menundanya. Kesepakatannya, kami melakukan kb alami saja. 

Bulan September dihari ulang tahunku. Akhirnya ia menyetujui proposal program hamilku. Senang rasanya. Bagaimana tidak? Farisha sekarang sudah berumur 4 tahun dan sudah sekolah. Perlahan-lahan ia menjadi anak yang mandiri. Walau ia masih tergolong menggemaskan dengan seribu pertanyaan anehnya tapi aku tau masa-masa romantis ini sebentar lagi akan hilang. Saat ia beranjak SD mungkin ia sudah tidak terlalu menggemaskan lagi. Aku butuh sosok mungil baru yang harus membuatku tetap sibuk. 

Baru kali ini aku merasakan ingin benar-benar hamil. Ironis rasanya mengingat kehamilan pertamaku terlalu banyak diisi dengan air mata karena ketidak-siapanku menjadi seorang Ibu. Aku sempat meminum pil tuntas dengan kebodohanku, saat mengetahui hamil aku bahkan mengatakan “Oh, kenapa ini terjadi terlalu cepat?” dan hingga ia lahir aku bahkan sempat berpikir begitu tak pantas bayi ini berada dipangkuanku. Namun, siapa sangka aku merindukan masa-masa itu lagi? Masa yang dulu sering kuisi dengan tangisan sambil menyusuinya? Betapa rindu dengan sosok mungil dengan bau minyak telon berada lagi dipangkuanku. Aku rindu masa-masa itu. 

Bayi baru.. Cepatlah datang.. 

September.. Oktober.. November.. 

Sayangnya promil kedua tidak selancar kehamilan anak pertama. Tadinya aku berpikir bahwa aku ini makhluk paling subur didunia. Ternyata tidak, kehamilan pertama memang sudah takdir-Nya. Begitupun yang kedua. 

***

30 Desember hatiku dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga. Ucapan selamat datang silih berganti. Seakan tak cukup dengan ucapan itu akhirnya pada tanggal 31 Desember 2017 aku mempublikasikan kabar gembira itu di instagram.

Katakanlah aku pamer.. Ya katakan saja.. 

Sepertinya aku memang punya sifat senang saat mempublikasikan hal yang menyenangkan. Mungkin aku harus mengakui bahwa aku punya pribadi yang agak narsis. Aku tak tau persis bagaimana membedakan benang tipis antara rasa percaya diri-semangat-bangga-sombong-narsis-hingga riya. Jadi maklumi saja jika kalian mungkin salah tafsir dengan postingan instagramku @aswindautari. Tapi serius, aku sepertinya perlu dukungan lagi dan lagi. Dan lebih utamanya, aku perlu Doa. 

Mungkin ini bawaan innerchild yang kumiliki. Sejak kecil aku tidak terlalu ekspresif dalam menggambarkan gembira-senang-sedih-kecewa. Mungkin karena lingkungan keluargaku begitu hingga terbawa keteman-temanku. Namun sejak remaja aku mulai belajar bagaimana berekspresi dengan benar. Dan ekspresi sedih adalah keahlianku. Aku hanya mengenal mengungkapkan ekspresi senang disosial media. Jadi, yah.. Katakanlah aku narsis dengan foto tersebut. 

Katakan aku terlalu ekspresif sehingga Tuhan mengujiku. 

Sebenarnya aku pun tak tau kenapa kehamilan kedua tak pantas kumiliki sekarang, Tuhan? 

***

Beberapa hari yang lalu suamiku sempat mengirimkanku sebuah artikel. Tentang betapa tidak berartinya Susu Hamil. Yah, aku mempercayainya. Toh, Kehamilan pertama dulu juga aku cuma kadang-kadang saja minum susu. Dan bayiku lahir dengan cukup besar dan sehat. 

Sudah beberapa minggu yang lalu aku batuk. Saat belum tahu dengan kehamilanku aku meminum obat batuk biasa beserta obat langganan untuk rhinitis. Namun, ketika mengetahui bahwa aku hamil maka aku berhenti meminum obat dan hanya meminum jeruk nipis dan air hangat untuk mengurangi batuk. 

Tanggal 31 Januari aku memutuskan untuk mudik ke Pelaihari, kampung halamanku. Aku bahkan berencana ingin jalan-jalan. Bagaimanapun juga aku perlu semangat baru bukan untuk mengawali tahun 2018? Aku perlu berfoto dengan keluargaku dengan background yabg menyenangkan untuk kukenang di Banjarmasin nanti. 

Senang rasanya bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Farisha dapat bermain dengan sepupunya Muthia sembari bertanya seribu pertanyaan dengan Neneknya. Aku bahkan menikmati kecemburuannya dengan Hanzo sepupu kecilnya saat kuasuh. Kok rasanya senang sekali membuatnya menangis begitu? 

Kami menikmati 1 Januari 2018 dirumah Mama dengan kesenangan berkumpul bersama.. 

“Sebentar lagi cucu nenek ada empaat” ucap kakakku bercanda

“Hah? Siapa hamil?” kata Mamaku. 

Aku nyengir. Memang sih, aku sengaja tidak memberi tahu Mama. Ingin surprised. Dan keceriaan keluarga kami berlanjut malam itu. 

Aku lalu merasakan perutku sedikit mengeras saat batuk berkali-kali. Aku kemudian langsung menanyakan Obat Batuk dengan Kakakku yang kebetulan adalah Dokter. Dengan sigap ia langsung memberiku Obat yang aman untuk Ibu Hamil. 

Tapi malam itu aku masih batuk. Air hangat, obat dan jeruk nipis sepertinya tidak mempan untuk batukku. Aku melihat diriku dicermin besar dikamarku. Membuka perutku sembari bergumam, “Kenapa ya.. Kok rasanya besar sekali.. Padahal baru 1 bulan” 

***

Paginya aku terbangun dan kaget melihat bercak coklat dicelanaku. 

“Kok aku M ya?” Tanyaku panik pada kakakku

“Banyak kah?” Tanyanya.. 

“Dikit sih” Kataku cemas. 

“Mungkin flek saat plasentanya melekatkan diri dirahim win,” kata Iparku, Fika

“Fika pernah begini waktu hamil?” tanyaku

“Enggak pernah sih.. Tapi katanya bisa begitu aku pernah baca di artikel” Kata Fika. 

Sinyal di kampungku sangat payah. Namun aku berusaha untuk browsing mengenai flek saat hamil. Alhamdulillah aku mendapatkan artikel yang bisa menenangkanku. Seingatku dahulu, kehamilan pertamaku juga pernah flek 2-5 hari. Tapi, itu saat aku meminum pil tuntas. 

Aku memutuskan untuk tidak memeriksa diri lebih lanjut. Dan menyenangkan hatiku dengan berjalan-jalan hingga berfoto bersama ditempat kuliner dan rekreasi Bon Sawit yang tidak jauh dari rumahku. Pulangnya aku langsung tertidur. 

Sore hari aku tidak mendapati flek keluar lagi dan aku sangat lega. Sepertinya artikel yang aku baca benar. Akhirnya, malam itu pikiranku tenang. Walau aku tak berhenti batuk malam itu padahal sudah minum obat. Aneh, mengingat biasanya obat dari Kakakku langsung manjur. 

Paginya aku dikejutkan dengan begitu banyak darah yang keluar. Ya, Darah segar. Dengan sigap kakakku langsung membawaku ke UGD. 

Pikiranku tidak karuan. Aku tau ini hal buruk. Banyak sekali darahnya. Oleh pihak UGD aku langsung diberi obat penenang Rahim. Tapi aku tidak optimis. Aku tau ini tidak baik-baik saja. 

“Kantung Hamilnya sudah Kosong Bu.. Ini Abortus Complete” Kata Dokter. 

Aku langsung terdiam. Yah, padahal begitu banyak pertanyaan yang muncul tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Karena setiap pertanyaanku diawali dengan “Kenapa?? ” 

“Ibu kecapean mungkin nih? Tahun baruan?”

Aku mengelak “Tahun baru dirumah aja Dok saya enggak jalan” *memang begitukan kenyataannya bukan? 

“Tapi pasti kecapean ini” Kata Dokter menegaskan. 

Aku mengingat aktivitasku 3 hari ini. Tidak ada sedikitpun aktivitas yang membuatku lelah. 

“Nanti seminggu lagi kontrol disini ya.. Obatnya dihabiskan” Kata Dokter lagi

“Oh iya Dok.. Nanti saya Kontrol di Rumah Sakit Banjarmasin saja, kebetulan saya tinggal di Banjarmasin” Ucapku

“Nah, iyakan.. Ibunya kecapean.. Harusnya bulan awal itu ga boleh jalan Bu.. Banjarmasin-Pelaihari itu jauh loh bu” Kata Pak Dokter membenarkan pernyataannya. 

Aku tak tau harus berkata apa, hancur rasanya. Bagaimana bisa aku dikatakan kelelahan? Aku tidak kelelahan! 

Tapi kandunganku? Ya Allah.. Aku ceroboh sekali.. Egois sekali.. 

***

Tiga hari yang lalu aku mengabarkan berita itu, namun tiga hari kemudian aku kehilangannya. 

Siapa sangka? Titipan memang tak sama.. 

Atau mungkin inilah Takdir-Nya.. 

Mungkin sesekali aku harus merasakan bagaimana perasaan kehilangan. Mungkin Ia menyuruhku untuk belajar menghargai bentuk titipan. Dan rasa kehilangan akan membuatku mampu untuk bersyukur dengan cara yang lebih baik. Manusia memang hanya bisa berharap. 

Tapi tak semua harapan akan sesuai dengan kehendak-Nya. 

La Tahzan.. 

Jangan Bersedih.. 

Karena banyak hal yang harus disyukuri dibanding ditangisi. 

Aku pulang dan mendapati anakku menemukanku dalam kondisi remuk. Ia bertanya, “Mama kenapa? Mama Sakit?”  

Aku memandang matanya dengan penuh syukur. 

Ialah Bidadariku..

Hal yang harus kujaga dan kurawat dengan baik..

Bersyukurlah masih memiliki seseorang yang dapat kau peluk..



Banjarmasin, 3 Januari 2018

Ditulis oleh Ibu yang merindukan.. 

IBX598B146B8E64A