Pembelajaran dalam Film Revolutionary Road

Pembelajaran dalam Film Revolutionary Road

Ada yang pernah nonton film ini? Film ini sudah lama, tahun 2008 dan diangkat dari sebuah novel karya dari Richard Yates (1961). Aku tidak terlalu tau apakah cerita ini terinspirasi dari kisah nyata atau murni imajinasi sang penulis. Yang jelas, cerita dari film ini sangat familiar disekitar kita. 

Kebetulan saya adalah salah satu penggemar film Leonardo DiCaprio. Bukan karena wajahnya yang tergolong tampan tapi film-film Leo benar-benar menginspirasi. Aku tau kalian yang cewek pasti langsung nyantolin pikiranku ke film Titanic juga Romeo n Juliet. Percayalah, itu dulu.. Ketika darah muda saya menggebu-gebu. Sekarang? Tidak lagi yay.. Hihi.. 

Jika kamu adalah orang yang mengenal Leo dari Film Titanic dan romance lainnya kusarankan kau mencoba menonton filmnya yang lain. Seperti Cacth Me If U Can, Inception serta Shutter Island. Film-film itu benar-benar keren. 

Dan Revolutionary Road? Mungkin, film ini bukan jenis yang menginspirasi. Namun, dari menonton film ini pasti kamu mendapat sebuah pelajaran berharga. Seperti pikiran saya sekarang yang mencoba menuliskannya dalam sebuah blog untuk dijadikan sebuah pembelajaran. 

Film ini bercerita tentang sepasang pengantin muda yaitu Leonardo diCaprio (As Frank) dan Kate Winslet (As April). 

Sejak mereka berkenalan, April mengungkapkan kepada Frank bahwa ia ingin menjadi Artis. Dan Frank? Hanyalah seseorang yang saat itu jatuh cinta dengan April. Singkat cerita mereka pun menikah dan langsung dikaruniai anak. Akhirnya, April fokus untuk menjadi Ibu Rumah Tangga dan Frank fokus bekerja sebagai marketing diperusahaan untuk mencari uang agar dapat mencukupi ekonomi keluarganya. 

Waktu berjalan hingga kemudian mereka memiliki dua anak yang sudah cukup besar. April memutuskan untuk merajut kembali cita-citanya yang dulu. Ya, ia ingin menjadi Artis. Namun, pekerjaan rumah tangganya telah menghapus semua impiannya. Ia tak lagi berbakat, disamping itu usianya tak lagi semuda dulu. 

April kemudian mencari pekerjaan lain. Ia ingin menjadi sekretaris dan ia ingin memulai hidup baru di Paris. Selama ini ia merasa bahwa Frank ‘terpaksa’ bekerja untuk menghidupinya dan anak-anaknya. Ia merasa Frank tak menikmati pekerjaannya. Keinginannya adalah merubah situasi dalam keluarganya agar Frank merasa hidup kembali dengan hobynya membaca dan menulis sementara April ingin keluar dari penjara kegiatan Rumah Tangga yang selama ini tak dinikmatinya. Ia ingin mewujudkan fantasinya kembali. 

Aku tak menikmati pekerjaanku, begitupula dia. Lantas bagaimana kami hidup jika terus seperti ini? 

April kemudian mengemukakan keinginannya ketika Frank ulang tahun. Ya, ia sudah merancang sedemikian rupa ‘surprise’ untuk suaminya agar kemudian Frank setuju dengan usulnya. Dan betapa senangnya ia saat usul itu disetujui. 

Hari-hari dilewati April dengan harapan dan harapan. Ia sudah tak sabar ingin ke Paris dan membuat tujuan hidup yang baru dengan suami dan anaknya. Kehidupannya pun menjadi semakin romantis dengan Frank. 

Kemudian semuanya berubah ketika Frank mendapatkan promosi di perusahaannya dengan tawaran gajih yang lebih besar. Frank yang tadinya sangat mantap ingin ke Paris lantas hanya menjadikannya sebuah pilihan. Yah, Frank sungguh bingung memilih apakah ia harus bertahan dengan pekerjaannya disini dan memperoleh kenaikan gajih atau menuruti keinginan April untuk ke Paris dan memulai hidup baru dari nol. 

Ditengah kebingungan Frank, April kemudian mengungkapkan bahwa ia hamil (lagi). April sungguh kecewa dengan kehamilan ketiganya, ia ingin sekali ke Paris untuk mengejar impiannya. Frank ingin mempertahankan kehamilan April sementara April secara positif ingin menggugurkan bayinya. 

Frank semakin marah ketika ia mendapati alat penggugur bayi di lemarinya. Pertengkaran demi pertengkatan mulai terjadi hingga akhirnya ia mengungkapkan akan tetap tinggal disini dan bekerja dengan gajih yang lebih besar. April sangat shock mengetahuinya, semua impian yang dirancangnya kini hilang. 

Aku hanya tidak ingin disini lagi. Mengerjakan hal yang sama setiap hari (lagi) dan melihatmu tak menikmati hari-harimu(juga). 

Well, kusarankan kau menonton untuk tau lanjutannya. Yang jelas I feel u April. 

Andai April adalah tetanggaku mungkin yang kulakukan adalah menjadikannya temanku. Aku ingin membuatnya bahagia dengan versiku. Karena aku pernah merasakan hal sepertinya. Mungkin bukan cuma aku, semua full time mother merasakannya. Betul? 

Tapi, bagaimana juga membuatnya bahagia jika berada dalam zamannya? Tak ada sosial media, tak ada blog untuk mencurahkan segalanya. Tak ada pelarian. Disamping itu, April sepertinya bukan seseorang yang agamis. Inilah yang paling fatal. 

Problematika dalam hidup April adalah ia tak bisa menerima dan menikmati hidupnya. 

Bukan cuma April, Frank juga adalah penyebabnya. Keduanya sama-sama tak menikmati hidup. Problematika seperti keluarga April dan Frank adalah problematika yang umum terjadi. Namun, hanya beberapa orang yang bisa menerima dan bertahan. Beberapa pembelajaran yang bisa dipetik menurutku dari film ini adalah:

1. Rumah tangga di awali dengan kesiapan Psikologis yang matang. 

Faktor kedewasaan dan kesiapan psikologis adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan pasangan. Hal ini berkaitan dengan masa pra nikah dan belajar. 

Aku adalah salah satu tipe perempuan yang tak suka dengan persepsi yang terlalu simple dan kolot dalam menikah. Seperti, berkenalan seminggu kemudian menikah atau ketika dilamar (langsung) iya dan menikah. Aku adalah tipe penyelidik, penelusur, dan pencuriga. Karena itulah aku menyetujui pacaran yang tentunya memiliki batasan dalam versiku. 

Dalam islam, mungkin kau mengenal istilah Ta’aruf. Begitulah, sesuatu itu tak bisa langsung cap cus. Apalagi urusan menikah yang notabene nya adalah kunci kebahagiaan seumur hidup. 

Kedewasaan seseorang pun juga tak bergantung pada umur semata. Namun, bergantung dari pencapaian kepuasan hidup dan kematangan sikap. Ada yang masih berumur 19-21 tahun namun sudah sangat matang dan dewasa. Ada pula yang berumur 22-30 tahun baru merasa siap menikah karena baru saja merasa siap secara psikologis.

Yang gak lucu itu adalah seseorang yang menjadikan menikah seolah-olah seperti musim saja. Melihat semua menikah, jadi kepengen juga kemudian lantas memilih calon dengan prinsip ‘siapa aja asal ada’. Ini benar-benar langkah yang harus diwaspadai karena bisa saja tujuan berumah tangganya hanyalah ‘asal ada’. 

2. Rumah Tangga itu fleksibel, tak usah dianggap terlalu serius dengan menciptakan tangga demi tangga yang tiada habisnya

Ada beberapa orang tak beruntung yang mengawali kehidupan rumah tangganya dengan kondisi psikologis yang belum matang. Terkantung-kantung dalam kegalauan setiap harinya. Selalu bersedih setiap mengetahui hidupnya begitu begitu saja. Kemudian berusaha merajut tujuan baru untuk menambal lubang didalam hati. 

Entah itu menambalnya dengan berdagang, bersosialita, menyanyi, menulis dan menggambar. Semua dilakukan agar hati yang kosong memiliki makna hidup yang baru. 

Kisah April adalah salah satu dari seni menutup lubang dengan membuat tangga. Ya, tangga yang diharapkannya mampu membawanya kedunia yang baru nyatanya malah membuatnya terperosok kedalam lubang yang tak pernah ditutupinya dengan baik. 

Salah satu Guruku pernah memberi sebuah pelajaran padaku tentang sebuah penerimaan sejati dalam kehidupan, yaitu belajar dari Air. Air tak pernah protes ketika turun dari tempat tinggi ketempat rendah, bersatu dengan zat cair lain yang merubah dirinya, tergenang di sebuah lubang, berubah bau dan warnanya. Ia terus mempercayakan takdirnya dan fokus pada satu hal yaitu percaya bahwa ia berguna. Nyatanya benar, air adalah sumber kehidupan bagaimanapun kau menganggap remeh dirinya. 

April tak bisa menerima dirinya yang baru. Ia haus. Haus akan segala hal yang membuatnya merasa berbentuk dimasyarakat. Padahal, dia lebih berharga seandainya dia bisa berprinsip seperti air. 

Menjadi air bukan berarti sebuah kepasrahan. Namun, berkorban. Menjadi Ibu berarti kau siap berkorban. Jika tak bisa maka carilah passion yang mengisi hatimu,  jika tak puas? Panggillah Tuhan. 

3. Rumah Tangga harus memiliki tujuan lebih luhur dibanding pencapaian Duniawi. 

Apa tujuanmu menikah? Punya anak? Apa tujuan punya anak? Memperbanyak keturunan? Mewariskan kekayaan? Investasi masa depan? 

Pertama kali, tujuanku menikah adalah ingin berubah. Yah, simple. Kurasa hidupku terlalu begitu-begitu saja dengan sendiri karena itu aku ingin memiliki pasangan yang bisa mengubahku. Butuh waktu lama untukku menyadari bahwa tujuan ini terlalu selfish

Karena itu Tuhan menegurku dengan langsung memberiku tanggung jawab, yaitu dikaruniai anak. Apa tujuanku saat pertama kali menyandang status Ibu? Aku ingin anakku menjadi yang terbaik. 

Berumah tangga, memiliki anak, memiliki rumah, memiliki pekerjaan tetap, memiliki bisnis, memiliki investasi dimana-mana, menjadi pemimpin dimasyarakat, bla bla bla.. Tujuan hidup tak pernah ada batasnya dan tak pernah ada puasnya jika hanya sebatas tujuan Duniawi semata. 

Karena itu kita memiliki Tuhan dan Agama agar menjadi penerang jalan kita. Untuk  menyadari bahwa hidup kita hanyalah dari-Nya dan akhirnya kembali kepada-Nya.  

Ketika Tuhan mengaruniakan anak kepada kita berarti Tuhan percaya kepada kita bahwa kita akan mewariskan kebaikan kepadanya. Bukan sekedar membuatnya menjadi pintar, kaya dan populer. 

Kasus April dalam film Revolutionary Road adalah dampak dari tidak memiliki pegangan agama. April tak pernah menyirami kehausan hatinya akan tujuan yang lebih luhur dibanding kepuasan duniawi. Ia mengejar segalanya agar dirinya bisa lebih baik. Ia menggenggam dunia dihatinya bukan ditangannya. 

Anyway.. Siapa pun yang sudah menonton film ini dan merasa bahwa hidupnya mirip dengan April kusarankan jangan baper. Ambil film ini sebagai sebuah pembelajaran bahwa Rumah Tangga tidak akan menjadi sama dengan film ini andai kita menikmatinya. 

April tak pernah merasa dirinya sungguh bahagia. Maka jika kau merasa hal yang sama tutuplah matamu dan menangislah. Menangis adalah hal yang akan membuatmu sadar bahwa hidupmu hanya memiliki satu tujuan hei perempuan. Yaitu menularkan kebaikan. 

*Ditulis oleh seorang Ibu yang mengambil bagian dunia dihatinya kemudian menaruhnya ditangannya. Sebagian masih dibiarkannya menginap dihatinya. Agar sebagian itu bisa melihatnya menjadi baik dan tertular oleh kebaikannya. 

Komentari dong sista

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A