Browsed by
Month: May 2018

Bulan Ramadhan Kok Boros? Coba Cara Ini agar Tetap Hemat!

Bulan Ramadhan Kok Boros? Coba Cara Ini agar Tetap Hemat!

Tidak terasa hanya tinggal menghitung hari lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang disebut dengan bulan penuh keberkahan. Dimana pahala dihitung berlipat ganda dan masing-masing dari kita berlomba-lomba untuk amal kebaikan. Ah, ramadhan benar-benar bulan yang sangat dirindukan bagi orang-orang muslim.

Ya, saking rindunya.. Kadang, jika sudah bertebaran iklan sirup di televisi saya mulai senang. 😂

Tapi sadarkah kita bahwa di bulan Ramadhan ini justru terkadang kita seringkali khilaf terhadap berbagai hal yang sebenarnya mengurangi nilai kebaikan dari bulan Ramadhan itu sendiri. Salah satu khilaf terbesar adalah tragedi pemborosan. Betul?

Logikanya.. Seharusnya di bulan puasa itu anggaran pengeluaran konsumsi berkurang, karena tidak ada pengeluaran untuk makan siang dan kita hanya cukup mengeluarkan budget untuk makan sahur dan berbuka. Bulan puasa juga dapat disebut bulan kemenangan karena kita dinilai telah sukses mengontrol nafsu untuk hal yang tidak seharusnya. Tapi, sudahkah kita berhasil mengontrol nafsu itu?

Kenapa sih Bulan Puasa Malah Boros?

source: republica.co.id

Ada berbagai faktor yang menyebabkan pada bulan puasa manusia cenderung menjadi lebih konsumtif. Tapi, faktor terbesar yang menjadi akar dari segala keborosan adalah keinginan yang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan.

Pada saat berpuasa, idealnya hari-hari yang kita lalui diisi dengan ibadah. Namun, generasi milenial zaman now tentu tidak bisa lepas dari sosmed dan televisi yang selalu menyajikan informasi-informasi terkini. Apa dampak dari hal ini?

Ketika melihat postingan masakan di tempat kuliner, jadi pengen. Ketika melihat diskon gede-gedean di online shop, jadi pengen. Ketika ngabuburit di pasar ramadhan jadi pengen borong semua jajanan karena rasa lapar yang seakan meminta semuanya. Belum lagi kalau para teman-teman alumnus SD, SMP, SMA hingga kuliah mengajak buka bersama. 😅

Apakah semua hal itu dibutuhkan? Sepertinya tidak, kebanyakan hal yang dibeli adalah keinginan bukan kebutuhan. Mungkin kita dapat berdalih bahwa, “Karena bulan puasa harus bagi-bagi rejeki untuk orang yang berjualan dan bulan puasa adalah bulan penyambung tali silaturahim dengan para teman, kapan lagi begini?”

Ya, ketika single, saya juga termasuk salah satu yang pernah menganut paham demikian. Setidaknya sebelum saya repot dengan susahnya mengatur anggaran rumah tangga untuk IRT tulen. Ternyata, kaum emak-emak harus lebih hemat dibanding dengan kaum single untuk urusan pengeluaran bulan puasa ini. Hihi..

Baca juga: Tips menghemat pengeluaran rumah tangga ala shezahome

Lantas, bagaimana cara agar pengeluaran di bulan ramadhan dapat diminimalisir?

Cara Hemat di bulan Ramadhan

Nah, berikut ini adalah point-point penting yang saya terapkan agar tetap hemat di bulan ramadhan:

1. Buat Anggaran Kebutuhan

source: brilio.net

Tidak dipungkiri, jika segala sesuatu diatur lebih terencana maka semuanya akan lancar, termasuk soal pengeluaran kebutuhan. Ya, kita perlu mengatur anggaran pengeluaran di bulan ramadhan ini agar nantinya pengeluaran tidak kebablasan.

Biasanya, hal yang dapat saya lakukan untuk ini adalah menetapkan anggaran tetap untuk post biaya konsumsi, biaya rumah tangga, hingga biaya lain-lain. Biaya ini dihitung dari rata-rata pengeluaran satu bulannya dan khusus untuk biaya konsumsi, saya biasanya mengurangi jumlah biaya makan siang. Uang dari biaya makan siang dapat digunakan untuk keperluan konsumsi dadakan seperti misalnya buka puasa bareng (hehe.. 😅).

Setiap rumah tangga itu unik, kita tidak bisa meniru anggaran yang ditetapkan oleh keluarga lain. Hal ini karena pengeluaran prioritas dari keluarga tentu berbeda-beda. Seperti halnya keluarga kami yang lebih memprioritaskan uang untuk keperluan silaturahmi dan idul fitri maka kami lebih suka untuk mengurangi biaya konsumsi agar bisa menabung untuk post lain. Hal penting dari point anggaran ini adalah selalu buat perencanaan agar pengeluaran tidak membengkak (jangan lupa untuk dipraktikkan juga tentunya). 😊

2. Memasak di rumah dengan menu sederhana

source: teropongbisnis.com

Ibu manapun pasti setuju bahwa memasak di rumah jauh lebih hemat dibanding dengan membeli makanan di luar. Selain itu, menu yang disajikan pun lebih terjamin kebersihan dan kesehatannya. Tetapi, tidak selamanya memasak di rumah saja dapat hemat loh.

Ya, jika menu yang disajikan memakan biaya lebih dari jajanan diluar tentu saja hal ini malah membuat post pengeluaran untuk konsumsi menjadi bengkak. Bagaimana tidak? Setiap hari bahan makanan untuk memasak dibeli di tempat yang mahal dengan menu yang rumit dan memuat berbagai bahan-bahan mahal lainnya. Akhirnya, niat untuk mengurangi biaya konsumsipun tidak berhasil.

Sama halnya dengan Ibu yang memiliki hoby baking. Jika hoby baking tersebut belum dapat dijadikan lahan bisnis tentu hal ini lumayan menghabiskan pengeluaran. Ya, biaya untuk membeli telur, gula, butter dan lain-lain tentu bukanlah biaya yang murah.

Karena itu, ada baiknya jika pada bulan ramadhan ini para ibu membuat menu sederhana saja. Logikanya, menu sesederhana apapun jika disajikan saat dalam keadaan lapar tentu akan dimakan bukan? Haha.. Sayangnya, kita seringkali dikontrol oleh nafsu agar memuaskan lidah kita dengan menu buka puasa yang enak dan mahal.

Yuk, dari sekarang susun resep-resep sederhana yang akan disajikan di bulan ramadhan nanti agar pengeluaran tetap stabil. 😊

3. Kurangi aktivitas jalan-jalan dan perbanyak ibadah di rumah

Siapa hoby jalan-jalan?

Yuk, libur dulu di bulan puasa. Karena hoby jalan-jalan di bulan puasa banyak berdampak negatif. Termasuk didalamnya jalan-jalan untuk berbelanja kepasar. Sebisa mungkin berbelanjalah dalam jumlah besar untuk keperluan satu minggu atau lebih karena jika kita setiap hari kepasar bisa-bisa akan semakin banyak godaannya. 😉

Benar, jalan-jalan di bulan puasa membuat kita lapar dengan semua wisata kuliner. Rasanya ingin jajan terus. Padahal ketika bedug telah tiba mungkin akan banyak sekali makanan yang tidak termakan karena sudah kekenyangan.

Nah, salah satu tips untuk waktu berbelanja kepasar yang pas di bulan ramadhan adalah di pagi hari. Tentu banyak pasar pagi yang kita kenal bukan? Kenapa pasar pagi? Karena saat pagi hari perut kita masih kenyang sehingga tentu tidak banyak menginginkan berbagai khayalan makanan yang sebenarnya hanyalah nafsu saja, Betul?

Di bulan puasa ini, akan lebih baik jika kita memperbanyak ibadah di rumah dan bersilaturahim dengan keluarga dan tetangga dekat. Selain mata lebih terpelihara hal ini juga dapat lebih mendekatkan kita dengan Allah dan memperbanyak pahala juga rejeki.

4. Gunakan THR untuk hal yang seharusnya

source: tulisanwanita.com

Seringkali saat THR sudah didapatkan kita malah khilaf untuk membelanjakannya kepada hal-hal yang kurang penting. Contohnya saja seperti membelanjakannya untuk membeli baju lebaran yang mahal dengan model kekinian. Biasanya model baju yang sedang trend harganya lebih mahal dibanding dengan baju biasa yang sedang tidak trend. Betul?

Akan lebih baik jika kita menggunakan uang THR seperlunya saja untuk diri sendiri dan keluarga. Termasuk halnya baju lebaran. Coba bayangkan, betapa anehnya jika seluruh muslim merayakan lebaran dengan baju jenis trend yang sama? Ya, bukankah lebih baik jika kita memiliki style sendiri dengan gaya baju. Berbelanja baju dengan memanfaatkan promo dan diskon saat lebaran adalah salah satu hal yang bijak untuk menghemat pengeluaran. Tapi, jangan lupa untuk tidak khilaf dengan diskon dan beli baju sesuai kebutuhan saja.

Khilaf THR selanjutnya adalah berbelanja aneka cookies dan cemilan lain untuk idul fitri. Nah, sebelum berbelanja makanan idul fitri secara berlebihan akan lebih baik jika kita memperhitungkan dan membandingkan pengeluarannya dengan membuat kue sendiri. Jika dengan jumlah uang yang sama kita dapat memperoleh jumlah makanan yang lebih banyak jika membuatnya sendiri kenapa tidak mencobanya? Selain lebih hemat, kita juga dapat membagi-bagikan kue pada tetangga dian keluarga bukan?

Hemat aja semuanya, terus uang THR buat apa?

Jika kita sudah sukses menghemat uang THR dan akhirnya memiliki sisa dari uang tersebut maka belanjakanlah THR kepada yang seharusnya, apakah itu?

Ya, Kapan lagi kita bisa bersedekah lebih? Kapan lagi kita bisa memiliki biaya untuk mudik dan bersilaturahmi dengan orang tua kita? Kapan lagi? Ya, manfaatkan THR untuk mencari keberkahan. Karena sebenarnya, semakin banyak harta yang kita beri tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. 😊

Nah, punya solusi lain untuk berhemat di bulan Ramadhan? Sharing yuk!

Tulisan ini merupakan post untuk #KEBloggingCollab kelompok Ghea Panggabean yang diawali dengan trigger post dari Tian Lustiana.

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

“Setiap orang akan berubah, lihatlah.. Pohon saja tumbuh.. Rumput saja selalu tumbuh seberapapun seringnya ia dipotong..” Kata seseorang padaku.

“Ya, tapi kurasa perubahan itu bukan hanya jenis pertumbuhan saja. Kadang memang ada sesuatu yang cukup berubah dari segi warna dan bentuk lalu selesailah urusannya..” Sahutku membela diri.

“Tapi biarpun begitu, semuanya berjalan. Tidak pernah sesuatu hal berguna akan tamat begitu saja. Seperti halnya buku. Bagi penulisnya, buku itu mungkin sudah tamat. Tapi manfaatnya akan terus mengalir. Kurasa tidak mungkin ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan tanpa perubahan sedikitpun hingga tak ada manfaat sedikitpun.”

Aku menatap dua mata penuh yang penuh optimis itu. Tak pernah sebelumnya aku merasakan aura sedemikian nyaman saat aku mulai cengeng. Saat itulah aku memutuskan hal yang terbesar dalam hidupku.

Aku ingin menjadi energi dalam setiap langkahmu..

Karena di dunia ini.. Hanya kamu satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuanku..

***

Menjadi Ibu adalah fase perubahan terbesar nomor 3 dalam hidupku. Untuk nomor 1 dan 2 adalah rahasia. Karena kedua perubahan masa lalu itu adalah perubahan termanis sekaligus terburuk. Tak apa, tiap orang tentu punya masa kelamnya masing-masing. Dan aku ingin bercerita tentang perubahanku sekarang. Ya, perubahan sejak menjadi Ibu.

Awalnya aku mengira sejak awal menyandang status Ibu maka aku akan menjadi wanita paling sempurna. Ya, seakan lengkap sudah tujuan hidup ini. Ah, ternyata menjadi Ibu itu sulit. Aku kira awalnya, suatu saat aku akan menjadi Ibu yang sempurna. Ternyata, aku merasakan hal sebaliknya dalam prosesku menjadi Ibu.

Hmm.. Inikah titik terendah dalam hidupku?

Ya, seharusnya titik kebahagiaan seorang wanita itu ketika ia sudah menjadi Ibu. Ternyata tidak, justru itu awal dari konflik kehidupan sesungguhnya. Banyak cerita yang telah aku alami sejak menjadi Ibu.

Baca juga: Baby Blues, aku mengalaminya

Baca juga: Sepenggal Cerita tentang Ibu yang mencari kebahagiaan

Baca juga: Please, aku bosan jadi IRT

Baca juga: Revolusi 2018, Menjadi Pribadi yang seimbang

Sudah membaca semuanya? *ah, ga penting.. Hahaha 😂

Percayalah, jika kalian melihat judul blog shezahome dengan mengernyitkan dahi maka tidak denganku..

Blog shezahome aku buat sebagai tuangan wadah untuk berevolusi, karena itu judulnya “Proyek Evolusi Mamah Muda”. Blog ini berisi segala tuangan ekspresi dengan harapan suatu hari nanti aku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan hari ini, aku ingin membuat penghargaan kecil untuk diriku sendiri. Ya, sebuah tulisan “curcolan lagi” yang merupakan hasil dari gabungan-gabungan pujian dari sang suami tercinta. *mana gayung? Lebay amat yah.. 😂

Kurasa hal ini perlu ya. Mengukur sudah sejauh mana sebenarnya perubahan diri? Nah, berikut adalah perubahan-perubahan positif yang aku rasakan sejak menjadi Ibu:

1. Aku menjadi Mandiri

Sejak menjadi Ibu, aku belajar untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan siapapun. Mungkin hanya hal kecil tapi ini adalah perubahan besar untukku yang dulunya merupakan anak perempuan satu-satunya diantara 4 bersaudara. Perubahan kecil ini dimulai dari menyingkirkan rasa takutku akan dunia sosial dan ketergantunganku dengan sosok Mama.

Dulu, aku sangat mengekor pada mama. Ya, hingga remaja. Hal ini mungkin karena aku merasa mama adalah satu-satunya teman untukku di rumah. Hmm, ya aku tidak terlalu akrab dengan saudara laki-lakiku. Hingga hal sepele seperti mendaftar les dan bla bla mama selalu mendampingiku. Aku tidak peduli di cap sebagai anak mama. Tapi karena hal negatif yang terus berkelanjutan ini maka aku sedikit takut dengan dunia sosial.

Tapi sejak memiliki anak? Entah kenapa rasa malu itu langsung muncul. Aku malu jika kemana-mana harus bersama mama. Sampai membawa anak Imunisasi saja dengan mama? Hallo? Haha..

Memutuskan Ikatan yang tidak biasa dengan mama telah membuatku berubah menjadi sosok yang mandiri.

2. Aku belajar arti Memberi tak hanya menerima

Kasih Ibu kepada Beta..

Tak terhingga sepanjang masa..

Hanya memberi.. Tak harap kembali..

Bagai Sang surya menyinari dunia..

Dulu, aku hanya bisa menyanyikan lagu ini sambil tersenyum melihat wajah lelah Mama. Tentu saja lagu ini tak aku nyanyikan hingga besar. Aku sewaktu kecil begitu jujur dan polos dalam mengungkapkan perasaanku. Namun menginjak usia dewasa, aku mulai malu mengungkapkan perasaan sayang pada Mama dengan ekspresi berupa nyanyian atau pujian. Entahlah sejak kapan aku begitu berubah menjadi non ekspresif seperti itu.

Kini, aku telah merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu. Menjadi orang yang ‘hanya memberi’ dan tak mengharapkan balasan apapun. Ya, itu betul.. Menjadi Ibu itu tak mengharapkan imbalan berupa materi atau hal yang prestise. Tapi, kiranya aku salah..

Saat anakku mulai besar dan dapat bernyanyi serta memujiku, aku merasakan betapa besar energi rasa sayang dari pujian itu mengalir pada semangatku. Aku senang sekali sekaligus merasa menyesal.

Menyesal kenapa saat beranjak dewasa aku tak semanis wujud kecilku dulu. Betapa lelah mama telah membesarkanku namun balasannya hanyalah wujud flat dari ekspresiku yang merupakan kebalikan dari perasaanku.

Kini, sejak menjadi Ibu. Aku mengerti perasaan itu. “Hanya memberi.. tak harap kembali..

3. Aku menjadi serba bisa

Sewaktu remaja dulu, apakah aku pandai memasak?

Tidak, masakanku hancur rasa dan hancur segalanya.

Sewaktu remaja dulu, apakah aku jijik melihat pup n pee bayi?

Ya, walau dulu aku memiliki adik saat umur 8 tahun. Tapi setiap melihat adikku pi*is aku selalu bergumam ‘hiiiiiiy.. Jijik’

Sewaktu remaja dulu, bisakah aku membersihkan rumah sambil mencuci dan memasak dalam waktu bersamaan?

Tidak bisa, karena tanganku sibuk dengan chit chat dunia maya dan tugas. Bahkan menyapu kamar saja malas. Haha

Tapi sejak menjadi Ibu?

Aku bisa melakukan semuanya..

Aku bisa memasak dengan kayu bakar. Aku bisa menyediakan kue hingga makan siang para tukang saat rumah direnovasi dengan anak yang masih kecil dan menyusu. Aku bahkan bisa membersihkan rumah sambil mengerjakan 2-3 pekerjaan lainnya. Aku bahkan sempat berjualan. Kusadari, semua hal yang dulu tak bisa kukerjakan sendirian kini telah serba bisa kukerjakan.

Kiranya benar bahwa setiap wanita itu sebenarnya punya kekuatan super jika ia sudah memiliki hal yang benar-benar dicintainya.

4. Aku tidak se-melankolis dulu

Ini adalah perubahan besar dalam hidupku. Aku mulai menunjukkan pribadi yang lain selain dari sisi melankolisku yang terbilang akut.

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Awalnya aku mengira bahwa sikap baruku yang muncul itu hanyalah wujud dari ‘kepura-puraan’ ku saja. Ternyata, lambat laun aku menyadari bahwa aku menikmatinya.

Aku mulai menikmati munculnya sisi-sisi sanguinis dalam kepribadianku. Bukan hanya itu, aku kini merasa bahwa terkadang aku bisa sangat bersemangat jika menemukan hal baru. Jika sudah begitu maka aku dapat bercerita dan tertawa dengan lancar hingga berjam-jam lamanya. Dulu, aku tidak pernah seekspresif ini.

Apakah aku menikmatinya?

Ya, aku sangat menikmatinya.

5. Aku tidak pemalu lagi

Dulu, aku sangat pemalu. Bahkan teman-teman sekelasku dulu mengelariku ‘siput pais’ karena sifatku yang selalu diam apapun yang terjadi. (FYI: Pais adalah sebutan bahasa banjar untuk masakan pepes. Siput pais adalah sebuah majas sarkasme yang artinya sudah dari sananya pendiam seperti siput lalu kemudian dimasak pepes jadilah benar-benar diam.. Haha)

Sewaktu sekolah dulu, aku sangat anti dalam mengacungkan jari. Jika Guru bertanya tentang jawaban maka aku selalu diam biarpun aku tau jawaban yang tepat. Jika Guru bertanya adakah yang tidak dimengerti maka aku tidak akan bertanya walaupun aku sangat ingin bertanya. Jika kemudian Guru iseng bertanya padaku maka aku akan mengeluarkan keringat dingin karena gugup, walaupun aku bisa dan aku tau jawaban yang benar tapi kata-kata yang keluar dari mulutku sangat berantakan.

Sekarang? Ku akui aku berubah.

Aku tidak terlalu mengerti kapan lebih tepatnya perubahan ini muncul. Dalam acara event blogger beberapa bulan dan minggu yang lalu aku tidak sungkan mengangkat tangan dan bertanya. Kurasa, pertanyaan yang aku lontarkan pun tidak ada nada gugup didalamnya. Ada sebuah dorongan semangat yang tidak jelas asalnya menyuruhku untuk melakukan itu.

Saat sudah melakukan itu, ada perasaan bangga yang muncul pada diriku. Seakan-akan hal yang selama ini tertanam dalam hati dan tertimbun bertahun-tahun baru bisa keluar semenjak aku menjadi Ibu. Ya, sejak menjadi Ibu aku telah menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.

Kenapa Hal ini Bisa Terjadi?

Salah seorang temanku berkata padaku ketika sekian lama kami tidak bertemu..

“Kenapa kamu bisa sedemikian berubah? Aku senang dengan kamu yang sekarang win..”

Ya, kadang kita tak sadar bahwa kita sudah berubah kecuali kita bertemu dengan teman lama yang benar-benar mengenal kita. Betul?

Kupikir, ada dua hal dominan yang telah menyebabkan perubahan ini.
1. Acting Ibu yang kebablasan

source: www.rdiconnect.com

Sejak memiliki anak, aku membuat prinsip baru dalam parenting versiku sendiri. Kalian mau tau bagaimana prinsip parenting versiku dulu?

Menjadi Ibu adalah seni berpura-pura.

Jika melihatnya menangis, berpura-pura lah untuk tertawa maka ia akan ikut tertawa..

Jika ia marah dan berontak berpura-pura lah untuk sabar dan lihatlah ia sebagaimana kita berkaca dengan masa lalu kita..

Jika kita bosan menghadapinya, berpura-pura lah untuk tidak bosan. Jangan pernah memasang mode flat face pada anak kecil atau ia akan menirunya saat besar nanti.

Aku memang bukanlah ibu yang baik. Tapi aku selalu berusaha untuk berpura-pura baik atau berakting menjadi tokoh terbaik di depan anakku. Karena aku tau bahwa ia adalah peniru ulung. Aku adalah role mode pertama dalam hidupnya.

Tanpa kusadari, karena sifat dan prinsip parenting versiku ini maka aku telah memiliki kepribadian yang.. Hmm.. Bisakah dibilang berkepribadian ganda?

Sejak menjadi Ibu, aku telah membuat senyum dan tawa yang ikhlas untuk membuatnya tersenyum. Dulu, aku hanya bisa memasang mode flat face dimanapun berada. Oh, kurasa hal ini dialami semua ibu yang awalnya merupakan orang yang dingin. Betul? Ibu macam mana yang bisa mengaplikasikan mode flat didepan anak kecil nan lucu.

Bagaimana bisa seorang lulusan akuntansi yang dulunya hanya mengenal seonggok kertas membosankan kini harus pura-pura senang dengan setumpuk mainan yang berantakan? Dan setumpuk boneka? Serta crayon warna-warni?

Kini aku tau kenapa dulu aku sempat ingin menjadi Guru TK. Ternyata hal itu karena aku senang memiliki 4 varian suara yang berbeda. Dari 4 varian suara itu, aku berpura-pura untuk menjadi 4 teman Farisha melalui bonekanya. Finally, aku ketagihan untuk bermain dengannya. Aku baru menyadari bahwa teman sejatiku yang benar-benar lucu adalah dia.. Ya.. Anak ini.. Anak ini benar-benar merubahku menjadi karakter warna-warni.

Nak, Acting Mama kini sudah kebablasan. Mama benar-benar merasa bukan diri mama yang dulu lagi. Mama merasa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hal itu salah satunya adalah karenamu…

2. Dorongan semangat dari Suami

Dibalik istri yang cemerlang itu_Selalu ada suami luar biasa, betul? He

Eh, emang aku sudah cemerlang? 😂

Belum yah, tapi lumayan sudah mau berubah sedikit.. Eh banyak..😜

Sedikit curcol, blog shezahome dibuat oleh suamiku yang merupakan seorang programmer sekaligus konsultan IT dari Sharesystem. Belum tau sharesystem? Kenalan dulu dong yah sebagai blogger. Mba langit amaravati aja udah kenalan kok.. Hehe.. *numpang tenar dari mba langit saya.. 😂

Terus kenapa? Blog ini bisa bikin berevolusi ternyata?

Oh bukan sekedar berevolusi, blog ini sudah menjadi salah satu semangat hidup aku. Dari blog shezahome aku kini dapat menuangkan ekspresi lebih baik selain itu aku juga mendapat banyak teman di dunia blogging. Salah satu komunitas yang dekat denganku adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB).

Tanpa dorongan suami untuk ngeblog? Kehidupanku hanyalah seperti IRT pada umumnya. Kini, sejak menjadi Blogger, kehidupan warna-warni mulai menghampiriku dan mengubah diriku yang dulu.

Ya, Proyek Evolusiku dapat dibilang 70% telah berhasil..

Jadi, siapa bilang jadi Ibu itu hidupnya malah ga seru?

Semuanya punya jalan perubahan masing-masing.. Apa perubahanmu? Sharing yuk! 😊

IBX598B146B8E64A