Please, Aku Bosan Jadi IRT!

Please, Aku Bosan Jadi IRT!

List Harian Emak-Emak Rumahan Pada Umumnya

Senin

Bangun tidur-Masak-Nyapu-Mandiin Anak-Ngepel-Cuci Piring-Rapiin Rumah-Kepasar-Masak-Jemput Anak-Masak-Cuci Piring-Nyuci Baju-Jemur Baju-Bacakan Anak Buku Cerita-Pelukan-Ikut Bobo-Nganter Anak Ngaji-Masak-Family Time sambil Makan Malam-Cuci Piring-Family Time sambil Tiduran bareng anak suami.

Selasa

Sama kok jadwalnya kayak senin

Rabu

Sama

Kamis

SAMA

Jum’at

MASIH SAMA

Sabtu

Akhirnya suami libur, haruskah ngajak anak bolos sekolah demi jalan-jalan?

Oh enggak, katanya hari ini jadwalnya masak-masak di rumah (lagi)

Gakpapa, sabtu malam ini bisa nyetrika baju buat jalan-jalan besok. Yeay

Minggu

Finally!!

Bangun lebih pagi-Bikin sarapan spesial-Dandan Cantik…

“Sayang kayaknya ga bisa jalan hari ini deh, aku belum selesai ngerjain coding hari ini”

DUAR!
👿

Ketika Rutinitas Monoton Membuat Emak Rumahan Mulai Jenuh Dan Tak Berarti

source: nova-grid.id

Pernah melalui fase ini? Atau sedang dalam fase ini?

Pernahkah terlintas rasa iri ketika melihat para emak lainnya yang bekerja di luar sana?

Ah, Enaknya bekerja.. Punya seragam komunitas, punya semangat hidup, punya uang sendiri…

Lantas kemudian berkata, “Apalah diriku ini, punya anak satu saja masih suka depresi. Jangankan membahagiakan keluarga, membahagiakan diri saja tidak bisa”

Pernah begini? Kompakan yuk..😂

Padahal, keputusan menjadi Ibu Rumah Tangga ‘saja’ tentu sudah dipikirkan matang-matang. Seperti diriku sendiri yang ‘ngotot’ tidak mau jika anak sampai diasuh oleh mertua yang pikirannya benar-benar bertabrakan denganku. Sebagai menantu yang baik (ehm) lebih baik menghindari konflik ‘emak dulu vs sekarang’ dari pada terus-terusan memendam kejengkelan yang tidak jelas. Senang sekali ‘kengototan’ ini tidak didengar secara langsung namun terkabul begitu saja ketika suami berkata bahwa jangan sampai anak kami diasuh oleh Ibunya.

“Mama Sudah Capek Ngasuh Anak sampai 3 cucu, masa mau nambah lagi.. Ehm, Sementara Farisha kecil.. Jadi Ibu Rumah Tangga yang baik aja ya”

Setahun berlalu..

Dua tahun berlalu..

Tiga tahun berlalu..

Bukan berlalu begitu saja yang jelas ya. Kayak film aja ‘3 tahun kemudian’ berasa cuma semenit..wkwk..

Dalam tiga tahun itu tentu banyak hal yang aku alami…

Pernah nangis sendirian di kamar sambil menyusui bayi? Pernah!

Pernah marah-marah tidak jelas sampai anak takut lalu menangis dan memeluk Ayahnya saja? Pernah!

Pernah bertengkar dengan suami sampai pengen lari kerumah orang tua aja? Pernah!

Pernah merasa ijazah di lemari seakan memanggil-manggil menuntut penggunaannya? Pernah!

Pernah mencoba belajar dan membaca buku namun tidak ada satupun yang dapat melekat karena merasa ilmu telah terdepresiasi? Pernah!

Baca juga: “Baby Blues dan PPD, Aku mengalaminya”

Yah, Rutinitas monoton ini telah membuat emak mulai jenuh dan merasa tak berguna. Siapa bilang jadi Stay At Home Mom itu Menyenangkan?

Ketika Mereka Bilang, “Hei, Kamu Kurang Bersyukur!”

source: Soliha.id

“Kamu ini kurang apa? Suami kamu udah mapan kok!”

“Syukurin aja langsung punya anak, dari pada ga dapet-dapet kayak si anu dan si anu”

“Aku senang-senang aja kok jadi Ibu Rumah Tangga, kok kamu gitu sih?”

“Seorang Ibu itu ya begitu lah.. Hidup buat anak dan suaminya.. Masa mau memprioritaskan kebahagiaannya sendiri dulu sih.. Harusnya kamu bla bla bla”

Ya, itu sih kalian.. Masa mau menyama-ratakan diri kalian dengan orang lain? Memangnya kita kayak cookies satu cetakan gitu? Wkwkwk..

Bahkan cookies satu cetakan aja distribusinya beda-beda. Jalan hidupnya beda-beda, ga semuanya bisa beruntung bisa dimakan dan dibilang enak. Kadang mejeng di toko berbulan-bulan ga laku, kadang cuma di foto-foto aja tanpa dimakan, kadang di’ilerin bayi lalu dibuang emaknya..hahaha.. *malah ngelantur

Bagiku, berusaha berbakti dan merawat keluarga adalah wujud dari rasa syukur. Ketika seorang Ibu merelakan waktu mudanya yang mungkin saja dapat ia habiskan dengan memaksimalkan potensinya di luar namun ia rela melepasnya adalah wujud dari rasa penerimaan yang besar atas jalan hidupnya. Jika hal yang telah lama ia lakukan dengan berusaha senang hati mengerjakannya namun sesuatu mulai terasa salah kemudian keluhan demi keluhan mulai muncul.. Apakah itu artinya kurang bersyukur?

Apakah mengeluh berarti tidak bersyukur?

Mengeluh itu bukan butuh Ceramah Mom.. Kadang Ibu hanya butuh tempat pengaduan..

Ya, Ia hanya butuh pendengar yang bersimpati.

Karena Hidup Emak Perlu Banyak Rasa

source: dreamstime.com

Kok Berasa Familiar ya sama kalimat ini? Apa yah?

Astaga, Ini kan Iklan Good Day.. Wkwkwkkwk.. LOL

Pernah menyadari kenapa rata-rata Stay At Home Mom ini kadar kebahagiaannya lebih sedikit dari pada Mommy jenis lain? Bahkan terkadang terkesan lebih susah move on dan suka mengeluh?

Baca juga: 8 Alasan stay at home mom gagal move on

Ya, karena hidupnya itu Ga seru!

Ga ada tantangan, lurussssssss aja…

Trus ada ajah tuh yang nyinyir “Ya hidup kan emang harus kembali ke jalan yang lurus” #GUBRAK

Padahal emak-emak itu butuh loh yang namanya tantangan dan cerita hidup layaknya drama korea (loh???). Kenapa begitu? Karena dengan begitu hidupnya terasa menantang, ada jadwal harian baru yang harus dilakukan dan membuat emak bahagia dengan sesuatu yang baru itu. Enggak lurussss aja.

Lantas, Bagaimana kalau tantangan tak juga datang?

Ya ajak aja suami berantem. 😂 *LOL

Suatu hari aku pernah bertanya soal tantangan hidup ini. Hal yang membuat emak mungkin bisa move on dari rutinitasnya yang lurus-lurus saja. Seseorang pernah menjawab bahwa ia ingin memberiku tantangan. Tapi kemudian..

“Apa?” Kataku.

“Tidak Ada. Tantangan itu tidak ada. ” Katanya dengan percaya diri.

“Lalu?”

“Hanya kamu yang bisa membuat tantanganmu sendiri.”

Ya, hanya kita. Hanya kita yang tau bagaimana membuat hidup menjadi banyak rasa. Jika melakukan aktivitas yang sama setiap hari membuat kita bosan lalu kenapa tidak mulai mencoba bereksplorasi dengan hoby baru?

Tapi aku sarjana teknik, masa ujung-ujungnya bikin kue?

Tapi aku sarjana fisika, masa ujung-ujungnya jualan?

Tapi aku ini sarjana hukum loh, masa ujung-ujungnya pengen dalemin ilmu parenting?

Tapi aku sarjana akuntansi, masa mau jadi blogger? *eh

Apapun hobynya kalau ngadem di rumah aja jadinya sama aja..!

Please.. Aku mau kerja di luar ajah! Bosaaaan!

Looooh?

Apakah Bekerja Di Luar Adalah Solusi Terbaik?

Jika rumah sudah membuat emak-emak mulai tidak waras, lantas apakah bekerja di luar adalah solusi terbaik?

Hal pertama yang perlu disadari adalah Apakah ini benar-benar hal yang diinginkan ataukah hanya keinginan karena rasa bosan saja? Benarkah passion emak hanya bisa berkembang jika bekerja di luar?

Jawabannya hanya emaklah yang tau.. Hihihi..

Iya, seperti diriku yang setahun silam pernah ngotot sambil nangis bombay mau kerja di luar karena bosan di rumah. Apa yang dilakukan suamiku? Tentu saja mengelus-ngelus manja sambil menjadi pendengar yang baik lalu ikut membantu mengajukan lamaran. Namun…

Hal ini masih maju mundur. Bukan, ini bukan karena aku terlanjur tidak percaya diri dengan ilmu yang sudah lama tidak digunakan. Tapi, aku sadar bahwa passionku sebenarnya sudah melekat di rumah. Hal yang aku butuhkan sebenarnya hanyalah mengekspresikan passion ke ‘wadah’ yang benar. Karena itu, blog dan sosial media telah menjadi tuangan ekspresi untuk itu.

Jika bekerja di luar adalah solusi terbaik maka mari kita mulai menanyakan hal itu kepada para working mom. Salah satu temanku yang merupakan Ibu Pekerja sempat curhat dan mengaku iri denganku. Ia mengaku tidak punya cukup waktu untuk keluarganya karena terikat dengan kewajiban di luar yang memakan banyak waktunya. Pekerjaannya di luar tidaklah menyenangkan sesuai ekspektasinya dahulu, ia merasa stress dengan deadline demi deadline. Bahkan, ia merasa bahwa bonding antara ia dan anaknya terasa sangat tipis jika dibandingkan dengan hubungan anak dengan neneknya ataupun dengan pengasuhnya. Dibalik itu semua ia merasa sudah berusaha maksimal untuk menjadi ibu yang baik.

Di sisi lain, salah seorang temanku yang merupakan Working Mom merasa bahwa hidupnya sudah sempurna. Memiliki passion yang tersalur dengan baik serta anak yang memiliki bonding erat dengannya. Selalu menangis saat ia mulai berpisah untuk bekerja yang membuat sensasi menyenangkan baru untuk kesehariannya atas rasa rindu dan keterikatan itu. Berbeda dengan teman yang iri denganku seperti di atas, Ibu yang satu ini terus menanyakan hal sama padaku, “Apakah Tidak Bosan di rumah saja?”

Ada dua hal yang aku pelajari dari dua temanku di atas. Teman pertama bekerja tidak sesuai passionnya dan sangat terikat dengan pekerjaannya. Sementara teman kedua bekerja dengan passion sehingga ia bekerja seakan sedang ‘piknik batin’ hal ini tentu menghasilkan output kebahagiaan yang berbeda.

Sementara aku? Aku memiliki hal yang tidak dimiliki keduanya. Ya, kebebasan memilih.

Apapun Pilihannya, Seorang Ibu haruslah Bahagia

Masih berpikir ingin bekerja diluar?

Benarkah itu hal yang benar-benar Anda inginkan?

Dapatkah keluarga mendukung keinginan Anda dalam menggeluti passion di luar?

Apapun itu, setiap Ibu harus memiliki cita-cita yang membuatnya bersemangat. Jangan sampai rasa jenuh dan bosan menghalangi semangat seorang ibu. Jenuh itu pasti, bosan itu? Hanya kita yang tau persis apa solusinya.

Baca juga: Sepenggal Cerita Tentang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Pilihlah pilihan yang benar, hanya Anda yang tau hal itu. Ingatlah, seorang Ibu harus benar-benar bahagia, bukan sekedar pura-pura bahagia. 😊

Komentari dong sista
7 Shares

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A