Browsed by
Category: Travelling

Family Time di Banjarmasin, Kemana Aja Ya?

Family Time di Banjarmasin, Kemana Aja Ya?

“Mama, minggu ini kita jalan kemana?”

Itulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan anakku saat hari sabtu mulai tiba. Sebagai keluarga yang tidak terlalu suka berjalan jauh tentu pertanyaan ini sering dijawab seadanya saja seperti…

“Ke Super market”
Atau..
“Masak-masak di rumah nenek ya..”
Atau..
“Nemenin Mama kepasar aja ya..”
Atau..
“Ke Mall ya?”

Bisa ditebak dong diantara jawaban diatas yang mana jawaban paling memungkinkan menimbulkan senyum sumringah di wajah anakku. Ya, ke mall. Hahaha.

Sebagai emak yang mencintai aura belanja dan kesejukan ruangan ber AC, jawaban mengisi family time dengan jalan-jalan di mall adalah alternatif terbaik. Namun, sesungguhnya jalan-jalan di mall kadang membosankan juga loh. Apalagi nih, kalau saat jalan-jalan anak mulai merengek-rengek meminta mainan ataupun barang-barang mahal lainnya. Duh, mak.. Dompet mana dompet..

Padahal ya, family time itu lebih mengasyikkan jika diisi dengan berlibur ke tempat wisata. Di Banjarmasin sendiri sebenarnya cukup banyak loh tempat wisata yang bisa dijadikan tempat liburan untuk mengisi Family Time. Hmm.. Dimana aja sih? Ini dia..

1. Pasar Terapung

Masih ingat gak sih iklan ‘RCTI OKE’ era 90 an dulu? Eh, udah lupa? Eh, enggak tau?

Oke, saya mengaku tua disini.. 😂

Nah, seperti terlihat pada iklan jadul di atas, pasar terapung ini adalah pasar unik dimana tempat berjualannya ada di atas perahu dan para penjualnya biasanya adalah ‘acil-acil banjar’ . Para pembeli pun bisa membeli barang dagangannya dengan menaiki papan ulin yang disediakan disekeliling pasar terapung. Sensasi berbelanja di pasar terapung ini berbeda loh dengan pasar-pasar pada umumnya.

Dulu, pasar terapung ini adanya cuma di Jl. Pangeran saja loh. Tapi, sekarang kita sudah bisa menjumpai pasar terapung kekinian di area siring tandean Banjarmasin.

Aku sudah beberapa kali family time dengan keluarga disini. Selain menyenangkan, dengan mengajak anak kesini aku bisa mengenalkannya pada berbagai kuliner khas banjar dan betapa uniknya sunscreen kepunyaan ‘urang banjar’ klasik, yakni pupur basah yang rata-rata dipakai penjualnya.

2. Siring Banjarmasin

Nah, jika kita mengunjungi pasar terapung yang terletak di siring tandean. Maka, sekalian saja jalan-jalan pagi di area siring. Apa asiknya ya? Asyik dong, di kawasan siring ini kita bisa melihat keindahan sungai Banjarmasin, berfoto-foto ria sambil sesekali singgah untuk menikmati wadai khas Banjarmasin dan Soto Banjar. Lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan tempat olah raga. Family Time yang benar-benar berkualitas deh.

Yang paling aku suka adalah di kawasan Menara Pandang Siring. Nah, dari atas sana kita dapat melihat pemandangan Banjarmasin yang indah. Di bawah menara pandang pun juga ada berbagai pertunjukan khas daerah Banjarmasin. Aku sering mengajak anak kesini untuk menikmati budaya Banjarmasin.

Selain itu, juga ada Taman bermain kecil di kawasan siring sini loh. Jadi, kalau emak capek dan mau eksis update di sosial media.. Bolehlah si anak disuruh main disini ya. 😂

3. Pulau Kembang

source image: www.antahbaras.blogspot.com

Nah, kalau obyek wisata yang satu ini pastinya tidak asing lagi ya. Pulau kembang adalah salah satu tempat wisata yang lumayan terkenal di Banjarmasin. Kita dapat kesana dengan menaiki kelotok yang ada di kawasan siring maupun yang ada di jalan Pangeran. Untuk biaya menaiki kelotoknya dikenakan tarif 35ribu per orang.

Ada kembang apa aja sih disana? Kok dinamakan pulau kembang?

Well, sebenarnya disini lebih banyak monyet dibanding kembangnya, Hihihi.. Tapi biarlah, sebut saja pulau kembang.

Oya, jangan membayangkan pulau ini seperti pulau pada umumnya ya. Banjarmasin ini adalah area rawa, jadi tentunya tanah disana tidak padat seperti pulau biasa. Kita dapat berjalan disana diatas titian yang terbuat dari beton. Tapi, saranku harus berhati-hati berjalan disini karena titiannya ditumbuhi lumut dan agak licin.

Disana juga ada patung Monyet yang merupakan salah satu khas dari pulau kembang ini, jadi tidak heran ya banyak monyet disana. Saranku, bawalah cukup banyak makanan monyet jika kesana (baca:pisang). Karena monyet-monyet di pulau ini cukup agresif dan berjiwa preman kalau melihat pengunjung datang.

4. Taman Edukasi Lalu Lintas

Nah, di Banjarmasin juga ada taman edukasi yang lumayan kece loh buat mengajak anak jalan-jalan sekaligus belajar. Namanya adalah Taman Edukasi Lalu Lintas. Letaknya tidak jauh dari Siring Banjarmasin. Bahkan, kadang aku dan keluarga mengunjungi taman ini jika sudah puas berjalan mengelilingi siring.

Ditaman ini kita dapat mengedukasi si kecil tentang pentingnya berlalu lintas yang tertib. Ada beberapa sarana dan permainan yang cukup menyenangkan disini. Diantaranya adalah kereta api, jembatan penyebrangan, kantor polisi, dan berbagai permainan anak lainnya. Selain itu, juga tersedia beberapa spot foto yang cantik.

5. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin

Mesjid tempat wisata juga?

Ya, mesjid Sabilal Muhtadin bagi kami adalah Mesjid Wisata. Hehe.

Apa pasal? Karena ini adalah mesjid terbesar di Banjarmasin. Disekeliling area mesjid ada hutan kota yang menyejukkan. Kami sering berjalan-jalan diarea ini untuk sekedar duduk-duduk santai sambil makan dan minum (dan berfoto-foto juga tentunya.. Haha).

Kadang kala, Mesjid Sabilal Muhtadin sering mengadakan pengajian. Jadi, aku sering sekali mengajak anakku kesini, baik di malam hari maupun di minggu pagi.

6. Museum Wasaka

Banjarmasin juga punya museum loh. Namanya Museum Wasaka. Dan as we know, ngajak anak ke museum itu banyak manfaatnya. Satu diantaranya adalah ia dapat mengenal peninggalan bersejarah dan budaya di daerahnya.

Wasaka sendiri merupakan singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang merupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, yang artinya mengerjakan sesuatu harus sampai tuntas. Museum yang terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin adalah museum dengan gaya arsitektur rumah bumbungan tinggi khas banjar.

Di museum ini, ada berbagai koleksi senjata-senjata modern hingga tradisional khas rakyat Banjar. Walaupun bentuk museum ini terlihat mungil, tapi di dalamnya tersimpan sekitar 400 benda-benda bersejarah selama perang Kemerdekaan. Biaya untuk memasuki museum ini pun cukup murah, hanya 3000 rupiah saja loh untuk biaya parkir.

7. Taman Satwa Jahri Saleh

Well, tidak banyak yang tau bahwa Banjarmasin juga punya kebun binatang loh. Namanya adalah Taman Satwa Jahri Saleh. Taman yang terletak di area jahri saleh ini memiliki berbagai jenis satwa didalamnya. Mulai dari berbagai unggas, reptil, ikan kecil, beruang, monyet, hingga buaya.

Biaya masuk ke Taman Satwa ini juga cukup murah, hanya 3000 rupiah saja loh. Keluarga kami sudah 3 kali kesini. Dan anakku sangat senang jika bertemu dengan ular phyton Albino disana.

Nah, tertarik jalan-jalan berwisata ke Banjarmasin? Ingin Family Time disini juga? Cuss booking hotelnya yuk. Zaman sekarang kita tinggal main jari aja kok buat hunting hotel di Banjarmasin.

Main jari? Iyes, Kalau aku sih biasanya hunting lewat aplikasi Pegipegi. Di Pegipegi ini kita bisa dapat harga yang jauh lebih murah karena memang banyak promo disana loh. Apa pasal? Karena Pegipegi bekerja sama dengan ribuan jaringan hotel. Selain hunting hotel kita juga bisa hunting tiket pesawat di Pegipegi loh. Kalau sudah begini tinggal cuss deh berwisata ke Banjarmasin. Ssst.. Jangan ketinggalan berwisata ditempat-tempat yang sudah aku sebutin tadi ya..

Happy Travelling!

Perjalanan Menyenangkan dari Rawa Pening ke Borobudur

Perjalanan Menyenangkan dari Rawa Pening ke Borobudur

Siapa sih yang enggak kegirangan saat diajak oleh suami jalan-jalan?

Tentunya bagi emak-emak rumahan sepertiku hal ini termasuk moment yang amat sangat langka. Terlebih jika tau bahwa suamiku cenderung introvert kelas berat. Apaan tuh introvert kelas berat? Itu tuh, cowok yang kebahagiaannya terletak di dunia kotak alias homing banget. Kerjaannya kalau ‘libur tlah tiba’ itu adalah ngadem di rumah sambil main game dan baca buku. Ada yang punya suami begini? Toss!

Yang namanya bulan madu itu bagi kami hampir enggak ada. Tapi, di tahun ke tiga pernikahan kami akhirnya dia berinisiatif ingin membawaku ke Semarang-Yogyakarta. Dalam rangka apa ya? Ehm, Spesial buat aku?

Enggak pemirsa.. Dia tuh ngajak aku jalan kesana karena sekalian jadi dosen pembimbing saat study tour ke Politeknik Negeri Semarang. Hahaha, gubrak banget kan. Tapi biar bagaimanapun aku senang banget lah. Apalagi jalan-jalan bareng mahasiswa begini. Aku berasa jadi mahasiswi kembali. *Ciee…

Mungkin, aku akan skip cerita tentang study tour para mahasiswa ini. Karena aku sudah pernah cerita tentang detail perjalanannya di blog post yang lain. Nah, kali ini aku akan bercerita khusus tentang perjalanan sehabis dari Politeknik Negeri Semarang. Yup, kami memutuskan ke Rawa Pening keesokan harinya.

Perjalanan ke Rawa Pening

source: wikipedia

Kalian tau Rawa Pening? Bukan, bukan rawa yang bikin kepala pusing. Haha.. Rawa Pening adalah salah satu danau alam di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Luasnya sekitar 2.670 hektar. Ia terletak di wilayah Kecamatan Ambarawa. Rawa Pening ini ada di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran.

Sebelum berangkat ke rawa pening, salah satu guide kami bercerita tentang legenda rawa pening ini. Kalau tidak salah rawa pening ini terbentuk karena kemarahan dari pemuda miskin bernama Jaka Baru Klinting. Saking miskinnya semua warga sepakat mengusirnya dari kampung. Bukannya langsung pergi, tapi si Jaka malah menantang warga. Ia menancapkan sebuah daun diatas tanah, katanya jika ada yang bisa mencabut sebuah daun yang tertancap di atas tanah ini maka Jaka Baru akan pergi meninggalkan tempat itu untuk selama-lamanya. Bisa ditebak dong, gak ada yang bisa kecuali putri cantik (haha.. Salah deng ini bukan jenis cerita sefantasi itu). Ya, ya.. Finally Semua warga tidak ada yang berhasil mencabutnya. Akhirnya, jaka sendiri yang mencabutnya dan setelah dicabut dari tanah langsung keluar pancuran air yang tiada habisnya hingga membentuk sebuah danau.

Nah, itu dia cerita tentang asal usul rawa pening ini. Saat masuk ke dalam area rawa pening serta menaiki perahu kecil untuk bertualang di rawa tersebut, kalian tau apa yang aku rasakan?

Ya ampun, ini sih kayak balik ke Banjarmasin lagi. Hahaha..

Serius, kalian tau kan bahwa Banjarmasin itu juga daerah rawa dan memiliki banyak sungai. Bagi kalian yang pernah berkunjung ke pasar terapung hingga menempuh perjalanan ke Pulau Kembang, pemandangan sungai yang kadang dibeberapa spot dipenuhi dengan eceng gondok ini tentu familiar sekali. Tapi lagi-lagi yang namanya pergi liburan bareng para mahasiswa tentu rasanya beda ya.

Banyak spot foto yang lumayan kece disini. Namun, karena saat itu aku tidak terlalu konsentrasi untuk foto-foto dan sangat terbawa suasana.. Akhirnya, hanya beberapa foto ini saja yang bisa kuambil.

Perjalanan ke Borobudur

Jujur aja ya, ini pertama kalinya aku jalan-jalan ke borobudur. Ya ampun, spesies indonesia mana yang baru menginjak keajaiban dunia di negerinya sendiri di umur 25 tahun? Hahaha.. Oke, aku mulai berlebihan.

Perjalanan ke borobudur sendiri kami tempuh dalam waktu lumayan lama dengan memakai bus. Memang ya, naik bus dengan para mahasiswa itu asik. Mereka selalu ceria dan suka bernyanyi. Tapi, ini bencana bagi makhluk introvert macam suamiku.

Yes, dia mabuk transportasi darat. Apalagi kalau di dalam mobil ataupun bus itu ribut sekali dan banyak yang bernyanyi. Bukannya tambah rileks malah tambah pusing. Jadi, perjalanan selanjutnya sukses membuat dia sakit kepala.

Belakangan aku tau kalau sekarang Traveloka juga menyediakan tiket bus, dari Semarang ke Magelang juga ada tentunya. Mungkin ya, next time kalau kami jalan-jalan lagi kami akan mencoba fitur ini. Oya, kalian penasaran bagaimana caranya? Bisa klik di sini.

Finally, setelah perjalanan penuh drama pusing dan bau balsam akhirnya kami sampai di borobudur.

Uhuk, mungkin sudah banyak yang tau tentang candi megah yang satu ini. Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta

Yang aku senangi saat ke borobudur adalah sok-sok menjadi arkeolog saat melihat relief candinya. Aku dan suami menerjemahkan secara ‘ngasal’ saat melihat relief-relief di candi tersebut sambil bersuka ria. Tak lupa juga untuk berfoto-foto di sana. Sepertinya, saat di borobudur kami mulai sadar dan peka tentang pentingnya foto. Karena disini itu keren banget. Moment langka seperti ini harus terus diabadikan.

Bicara tentang relief, relief pada candi borobudur ini banyak menceritakan tentang perjalanan hidup sang budha dan ajaran-ajarannya serta kemajuan peradaban masyarakat jawa pada masa itu. Sebenarnya, untuk mengikuti cerita dan alur dari relief yang terpahat di dinding candi Borobudur ini, kita harus berjalan searah jarum. Masuk melalui pintu sebelah timur berjalan searah jarum jam agar posisi candi bisa selalu di sebelah kanan, hingga sampai di tangga timur dan naik ke tingkat berikutnya. Berjalan seperti itu dilakukan secara berulang-ulang hingga semua tingkat dapat terlewati dan sampai ke puncak candi yang berupa induk stupa.

Tapi, apakah kami melakukannya. Tidak.. Hahaha. Kami bahkan sempat terpisah dan tersesat. Maklum, pengunjung udik yang sangat jarang jalan-jalan.

Nah, itu dia keseruan perjalananku saat ke Rawa Pening dan Borobudur. Punya pengalaman unik yang sama saat berkunjung ke dua tempat ini? Sharing yuk!

Happy Travelling!

Berkunjung ke Kalimantan Selatan? Jangan Lewatkan Keindahan Pulau Pinus yang tersembunyi ini

Berkunjung ke Kalimantan Selatan? Jangan Lewatkan Keindahan Pulau Pinus yang tersembunyi ini

“Indonesia itu luas! Jangan di rumah terus!”

Itulah kata-kata salah seorang temanku saat tak sengaja membaca statusnya. Ia adalah seorang traveller yang tentunya hoby sekali jalan-jalan. Melihat berbagai foto-foto serta tulisan pengalamannya dalam jalan-jalan kemana saja tentu telah membuatku iri. Hei, kalau aku sudah kemana saja? Mungkin, bagian bumi yang pernah kupijak hanyalah 0,000000000000000000 (entah berapa nol lagi) yang ujungnya tentu saja satu. 😅

Aku pernah berkata padanya, “Kamu sih enak, masih single. Punya penghasilan dan (bla bla), sementara aku?”

Dia hanya tertawa dan berkata padaku bahwa sesungguhnya hampir sebagian besar tempat-tempat yang ia jelajahi adalah kawasan surga alam perawan, yaitu tempat indah yang tidak banyak orang yang tau. Sehingga hal yang dibutuhkan untuk jiwa penjelajah hanyalah satu hal ‘penasaran’.

“Kalau menjelajah tempat yang sudah banyak orang tau itu gak asik. Terlalu ramai, terlalu berisik dan sesak. Terakhir, budgetnya lumayan.. Hahaha.”

Ia kemudian bercerita tentang tempat-tempat indah di kalimantan selatan yang masih terbilang ‘perawan’. Pada beberapa tempat tentu saja memiliki jalan tempuh yang ‘mengerikan’, kalau tidak pastilah dibumbui oleh mitos-mitos menyeramkan. Aku, sebagai orang yang lumayan ‘worry’ tentu selalu bilang tidak pada beberapa sarannya. Dan setelah lama berbincang, akhirnya aku tertarik pada satu tempat. Namanya adalah Pulau Pinus.

Tentang Pulau Pinus

Di banjarmasin ada pulau?

Bukan di banjarmasin tepatnya sebenarnya, namun mengarah ke banjar baru di waduk riam kanan. Semua orang banjar tentu kenal bahwa waduk riam kanan adalah salah satu PLTA terbesar di kalimantan selatan. Namun, tidak banyak yang tau bahwa waduk riam kanan ternyata merupakan danau besar yang memiliki beberapa pulau-pulau kecil yang indah didalamnya, salah satunya adalah Pulau Pinus.

Sesuai dengan namanya, pulau ini ditumbuhi oleh banyak pohon pinus besar. Dan pulau yang aku kunjungi adalah pulau pinus 2. Dimana disana kita dapat berjalan hingga kebukit batas dan menikmati pemandangan indah disana. Sayangnya, walau sudah 2 kali kesini aku tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa ke bukit batas. Perjalanan pertama kesini alasannya adalah waktu yang sempit. Sementara perjalanan kedua kesini alasannya adalah kehamilan mudaku yang tentunya harus dijaga. Yah, tidak mungkin kan bumil harus naik bukit dan mempertaruhkan kesehatannya demi melihat panorama nan menawan hati.

Jadilah aku dan keluargaku terdampar disini, Pulau Pinus 2. Sekilas, lokasi ini terlihat seperti ditengah-tengah laut. Tapi sebenarnya, ini adalah danau riam kanan. Untuk sampai kepulau ini kami sekeluarga menyewa 1 kelotok dengan harga 450.000. Dalam satu kelotok, maksimal ditempati oleh 11 orang. So, lumayan banget kan kalau berangkatnya rombongan. Hehe

Memasuki pulau pinus pun tidak perlu budget yang mahal. Cuma 3000 rupiah saja kita dapat berkeliling pulau ini dan berfoto-foto ria sepuasnya. Lokasi disini sangat instagramable. Jadi, yakinkan bawa alat-alat berfoto yang maksimal ya termasuk alat dandannya.. *halah

Ingin lebih puas menikmati keindahan alam nan perawan ini? Yuk, naik saja ke bukit batas. Diatas bukit sana kita dapat menikmati maha karya pemandangan alam yang ‘waaw banget’. Suamiku sudah 2 kali mendaki bukit batas ini. Sebenarnya banyak sekali dokumentasi foto yang indah yang sudah tersebar di google. Suamiku sendiri tidak begitu mendapatkan banyak foto yang bagus karena saat mendaki cuaca sedikit berkabut dan faktor selanjutnya tentu saja kameranya tidak canggih. Hihi..

Di Pulau Pinus Bisa Ngapain Aja?

Jadi, kamu kesana jauh-jauh cuma buat foto-foto doang?

Ya enggak lah. Foto itu kenangan. Sisanya yang terbesar adalah kebahagiaan batin. Charge batin emak yang bisa tahan sampai berminggu-minggu lamanya sambil senyum-senyum mengenang foto. *halah.

Sebenarnya, kami termasuk kategori keluarga yang tidak suka piknik di tempat ramai. Seperti di siring, atau mengantri naik hiburan di mall. Itu membosankan. Kami tipe keluarga yang mencintai kesunyian dan keindahan hakiki. *tsah.

Jadi, selain ‘foto-foto doang’ banyak kok hal yang bisa dilakukan di sini, baik diperjalanan maupun di pulau pinus. Apa aja sih? Ini dia:

1. Menikmati keindahan perjalanan dan mampir ke pulau lain

Kesana naik kelotok? Apa asiknya?
Asik dong, soalnya pemandangannya ‘tcakep’. Airnya terbilang jernih dan bersih dan selama naik kelotok kita juga dapat melihat keindahan pulau-pulau kecil lainnya selain pulau pinus. Mau mampir ke dua pulau? Bisa banget.

Bagi penduduk kota yang jenuh melihat bangunan di kota. Pemandangan alam saat menaiki kelotok ini sangat berkesan sekali.

2. Berenang di pinggiran pulau pinus

Lebih tepatnya, merendam diri mungkin. Karena aku jelas tidak bisa berenang (hahaha.. 😂). Tapi aku cukup berbakat menjaga anakku untuk tidak tenggelam. Pokoknya, kalau dia ketengah danau sedikit aku teriak.. Ketengah dikit.. Aku teriak..

Lumayan kan teriak-teriak ‘sok panik’ begini, bisa mengurangi stress. Hahaha.

Air disini bagaimana? Kotor?

Enggaak, bersih. Bener. Jauh banget deh pokoknya dengan pantai-pantai yang pernah aku kunjungi di kalimantan selatan ini. Kalau pun di foto terlihat coklat itu karena endapan tanah liatnya bercampur air karena kami injak-injak.

3. Kuliner Alam
Kalian mau makan-makan disini? Berharap ada yang jualan ikan bakar, sambel, nasi hangat dll? Lupakan saja. Disini adanya cuma warung yang jualan mie instan. 😂

Jadi, kami makan mie instan disini? Ya enggak dong. Mama mertuaku adalah penganut paham homemade garis keras. Bayangkan, dari rumah nih beliau bawa nasi, terasi, lombok, tomat, bawang, bumbu ikan bakar yang baru diulek, kertas nasi, sampai ke tikarnya juga pemirsa.. Iya, sampai minyak goreng juga. Hahaha.

Ikannya gimana? Kami mancing? Ya enggak lah.

Namanya juga di danau. Disana banyak penjual ikan segar loh. Dari mulai nila, patin, hadungan, bawal, sampai lobster segar juga ada loh. Sayangnya? Aku lupa moto proses masak dari membersihkan ikan disini sampai memanggangnya. Kenapa? Karena aku keasikan main air tentunya. Hahaha.

Oya, FYI kalian kesini kalau mau bakar-bakar ikan begini gak usah bawa bara, minyak tanah, dll. Karena biji pinus merupakan bahan bakar yang bikin bara banget. Dan ranting-ranting kering juga banyak disini. Iya, namanya juga ‘kuliner alam’ lebih tepatnya sih.. Masak ala primitif. 😂

4. Berkemah

Aku berkemah disini? Enggak lah. Takut. Hamil berani banget bermalam di pulau pinus. Kan serem. Hihi

Tapi, suamiku dan ipar-iparku berkemah disini semalaman. Yah, lokasinya memang enak banget sih buat malam-malam barbeque. Tapi serem sih. Konon di pulau ini ada ‘penunggunya’. Bener loh. Tapi suamiku semalaman berjaga kepingin ‘moto makhluk gaib’ malah gagal. Ckckck.. 😂

5. Naik Pohon

Ya, silahkan ya. Bagi yang punya bakat terpendam salurkan saja disini. Karena selain pohon pinus disini juga banyak pohon lain. Silahkan kalau mau adegan loncat-loncat pohon kayak film twilight dan bermesraan diatas pohonnya sambil memandang pemandangan yang aduhai.. Silahkan kalau bisa.. 😂

Kalau aku? Skip lah.

Naik rumah pohon 3 kali bolak balik aja kepalaku benjol 3 kali. 😂

Kelihatan senang sekali, padahal kepala benjol..Haha

Nah, itu dia keseruanku dan keluarga saat berwisata di pulau pinus. Tertarik kesini juga? Yuk, visit kalsel.. 😉

Mudik Pake Motor Bawa Bocil? Why Not!

Mudik Pake Motor Bawa Bocil? Why Not!

source: mudikgratis.com

Masih dalam suasana lebaran gak sih? Pastinya masih dong ya. Bicara lebaran, tentu sudah hal biasa kalau kita mengaitkannya dengan mudik. Ya, kapan lagi kita dapat bersilaturahmi dengan sanak saudara dikampung halaman? Libur panjang dengan suasana lebaran adalah moment yang sangat pas.

Nah, emak juga terbiasa mudik dikala lebaran tiba. Namun, mudik emak beberapa tahun lalu sebenarnya memakai motor loh. Iya, bawa bocil ini. Gimana rasanya? Hmm.. Aku sih enak dan nyaman aja. Hihi

Bahkan sebenarnya, kalau boleh memilih aku lebih suka mudik memakai motor loh. Beberapa alasan emak mudik pakai motor akan emak tulis dengan lengkap disini:

1. Praktis

Mudik memakai motor menurut emak jauh lebih praktis. Walau sebenarnya memang terlihat ribet dalam pemandangannya. Haha

Iya, kalau mudik dengan memakai mobil biasanya aku lebih rempong mempersiapkan perlengkapan dimobil. Mulai dari cemilan, obat anti mabuk, minyak kayu putih dan perintilan lainnya hingga kantong plastik kecil. (eh, iya aku plus family orangnya memang mabukan kalau dimobil.. So perlengkapannya ribet.. 😂)

2. Terhindar dari Macet

Ke mall pake mobil makan waktu 30-40 menit. Ke mall pake motor cuma makan waktu 20 menit paling lama (sudah termasuk mampir beli bensin plus bla bla.. ✌). Kenapa pake mobil lama? Itu, body mobil yang lumayan gede bikin rawan macet dijalan, hihi.

Kekampung halaman naik mobil dalam arus mudik yang hmmm… Begitulah.. Kira-kira memakan waktu berapa lama? Yah, lumayan.. Sampai 2 episode mimpi tidur yang bersambung mungkin. Sementara kalau pakai motor? Emak gak bisa tidur. Malah asik terbawa curcolan ngobrol dengan suami atau asik melihat pemandangan kanan kiri.

3. Pemandangan Lebih Menyenangkan

Iya, bagi emak pemandangan mudik pakai motor itu lebih menyenangkan dibanding pemandangan mudik pakai mobil. Ini sih mungkin karena efek dari suka mabuk dimobil jadi pemandangannya cuma minyak kayu putih plus plastik aja. Haha.

Bahkan asiknya lagi, kalau berangkat pakai motor itu bisa foto-foto pemandangan. Iya, kampung aku kan lumayan pedesaan. Jadi memandang gunung dan hamparan permadani hijau itu dengan udara segar sekeliling itu benar-benar moment yang menyenangkan kalau dinikmati mamakai motor.

4. Terhindar dari Drama Pusing dan Mual

Ah, ini sih gak perlu dijelaskan lagi. Dari point 1 dst sudah disisipkan dikit-dikit. *dasar penulis yang tak terstruktur.. 😅

Aku sampai sekarang gak ngerti kenapa tiap mobil itu baunya sama. Bau pusing. Biar pakai parfum mobil yang begini begitu tetap aja baunya pusing. Aduh mak, ngebayangin baunya aja aku udah pusing beneran sambil nulis. Serius. 😂

Konon, untuk mengobati permanen mual dan pusing saat naik mobil itu adalah dengan punya mobil. Manjur gak sih? Menurut aku gak terlalu manjur ya kalau cuma punya doang kecuali mungkin kalau udah bisa nyetir sendiri. 😂

Dulu, sejak kecil sampai besar aku kan tinggal dengan orang tua. Orang tua aku punya mobil, tapi aku jarang ikutan naik. Alhasil ya tetap aja ya.. Hahhaha.

6. Gampang Mampir dan Parkir dimana Saja

Salah satu drama paling membosankan saat ikut naik mobil adalah sulitnya dapat tempat parkir. Kalah pakai motor? Cuss.. Tinggal taroh. Gampang.

Mau makan dipinggir jalan? Kalau naik mobil, harus mikir beberapa kali soal tempat parkir. Bahkan pengalaman dulu, sempat dilewatin dulu tempat makannya. Dijalan sambil mikir, eh, kayaknya didekat situ bisa parkir. Terus dulu tuh, lurussss sampai ketemu belokan baru bisa parkir. Eh, iya kalau yang nyupir orangnya gak ngelamun. Haha..

7. Lebih Irit

Ini jelas ya. Irit. Kekampung halaman naik motor cuma makan bensin 1, 5 liter. Sementara pakai mobil? Hmmm..

Nah, tapi nih.. Mudik pakai motor itu enggak bisa sembarangan. Apalagi kalau membawa bocil. Harus banyak hal-hal yang perlu kita perhatikan, diantaranya adalah:

1. Yakinkan kondisi motor dalam keadaan baik

Ini adalah point utama yang penting banget. Sebelum berangkat kita harus sudah memastikan kondisi motor dalam keadaan baik. Akan lebih baik lagi kalau kita membawa perlengkapan kecil dalam memperbaiki motor untuk berjaga-jaga kalau saja di jalan nanti terjadi sesuatu.

2. Selalu gunakan helm dan pengaman lain yang mendukung

Mudik bawa bocil pakai motor memang rempong dalam segi pakaian tempur mak. Iya, mulai dari membawa helm, pengaman, jaket, masker, tisue dan lain-lain. Bahkan kalau diperhatikan, eh kok tiba-tiba anak udah kayak power ranger aja kostumnya. Haha

3. Jangan membawa penumpang maupun barang terlalu banyak

source: litbang-kemendagri.go.id

Nah, tips ini juga penting banget. Sebisa mungkin, bawalah barang seminimalis mungkin karena mudik pakai motor itu kita gak bisa bawa barang seenaknya aja. Seperti alat pel, jemuran, ya ditinggal aja lah. *eh, ya eya laah.. Haha

Kalau masih memiliki anak satu seperi keluarga kecil saya mungkin mudik membawa motor masih bisa dilakukan, tapi kalau sudah punya banyak pasukan lebih baik jangan memaksakan muatan motor karena dampak negatifnya jauh lebih buruk.

4. Yakinkan tubuh pengendara dalam kondisi fit dan tidak mengantuk

Sebelum naik motor untuk mudik, maka yakinkan dulu bahwa anda sudah cukup beristirahat. Naik motor untuk mudik itu cukup melelahkan loh. Kalau membawa bocil mungkin saja dijalan ia akan merengek dengan keluhan-keluhan seperti capek, mau minum susu dan sebagainya. Jari kita sebagai orang tua harus dalam keadaan prima juga untuk menghadapinya.

5. Sebaiknya kampung halaman yang dituju tidak terlalu jauh

Nah, ini juga pertimbangan penting. Seberapa jauh kampung halaman?

Kalau kami hanya pulang kekampung halaman dengan jarak tempuh yang cukup dekat. Sekitar 2 jam dengan kecepatan 60 km/jam sudah sampai kekampung halaman sehingga anti capek. Kalau jarak kampung halaman sangat jauh sebaiknya tidak memakai motor ya. 😊

6. Yakinkan arus mudik tidak terlalu padat

Sebelum memutuskan kapan dan tanggal berapa kita mudik, ada baiknya untuk memantau arus mudik. Hal ini agar kita terhindar dari kemacetan dan resiko kecelakan.

Terbayang kan mak, kalau kita bawa bocil mereka sumpek dan cerewet melihat kemacetan dimana-mana. So, cari jadwal keberangkatan yanh strategis demi kenyamanan si kecil diperjalanan. 😉

7. Jangan ngebut dan berhati-hati

Kalau tips ini tentu semua sudah sangat paham dan mengerti. Biasanya para laki-laki kalau berkendara suka lepas kontrol. Nah, sebelum itu yakinkan suami untuk terus berhati-hati karena lebih baik terlambat asal selamat.

8. Beristirahatlah jika lelah

Anak menangis dijalan, pinggang sudah terasa penat, mata mulai berkunang-kunang. Lebik baik kita mulai berhenti dan beristirahat. Yakinkan tubuh sudah fit kembali saat ingin memulai perjalanan.

Nah, itu dia kilasan tips dan alasan emak mudik bareng bocil memakai motor saja. Kalian punya tips mudik yang menarik lainnya? Boleh sharing juga ya..
Tulisan ini merupakan post untuk #KEBloggingCollab kelompok Ghea Panggabean yang diawali dengan trigger post dari Faridilla Ainun.

Kenangan Semarang dan Yogyakarta: Study Tour Bareng Mahasiswa D3 Kompak Poliban

Kenangan Semarang dan Yogyakarta: Study Tour Bareng Mahasiswa D3 Kompak Poliban

Yogyakarta memang kota istimewa. Ya, itulah yang pertama kali aku ucapkan saat menginjakkan kaki di sana. Sebagai Ibu yang bisa dibilang sangat jarang travelling, maka memandang kota Yogyakarta bagaikan memandang surga dunia dengan segala obyek wisata yang menggugah minatku. Minatku? Ya, aku punya minat terselubung dibalik profesi Ibu Rumah Tangga, yaitu ingin berkeliling dunia.

Agaknya mustahil ya. Dari segi persiapan psikologis dan jasmani sebenarnya aku termasuk pribadi yang agak lemah dengan travelling. Bagaimana tidak? Aku jarang sekali naik pesawat dan aku tidak pernah naik pesawat sendirian. Selain karena punya sisi agoraphobia, hal ini juga karena aku tidak pernah merasa tertantang untuk mencoba naik pesawat sendirian.

Setelah 4 tahun lamanya menjadi Ibu Rumah Tangga Sejati yang jarang piknik, maka ajakan suami untuk traveling aku terima dengan senang hati dan sedikit lebay. Ya, jika diingat-ingat lucu sekali ketika aku terlalu bersemangat hingga packing barang jauh-jauh hari. Panik dan bingung dengan adegan menitipkan anak, juga perasaan deg degan bukan main saat melihat pesawat seraya berkata dalam hati, “Bagaimana jadinya kalau Pesawat ini begini dan begitu..”

Tapi kurasa aku cukup menutupi rasa gugupku dengan baik. Aku dikelilingi oleh para mahasiswa D3 Komputer Akuntansi Poliban yang dengan asing menatapku malu-malu. Ah, apa kata dunia kalau aku terlihat mabuk di pesawat nanti? Wajah jutekku nan manis ini akan hilang imagenya. Hahaha.. *cuss minum antimo.

***
Ya, ini memang bukan perjalanan piknik biasa. Aku diajak untuk ikut menemani suamiku karena program study tour yang dilaksanakan mahasiswa Kompak (Komputer Akuntansi) di Politeknik Negeri Semarang. Kenapa aku diajak? Apakah tiket gratis berlaku untukku?

Aku diajak karena suamiku kasihan. Haha..

Serius, sejak kami menikah kami tidak pernah berbulan madu seperti pasangan pada umumnya. Selang beberapa bulan setelah menikah, aku ditinggalkan suamiku kuliah di UGM Yogyakarta selama 2 tahun. Kenapa tidak menyusul? Karena eh karena kami punya hal yang diproritaskan untuk masa depan rumah tangga. Sehingga kami harus berkorban untuk hal ini. Ini adalah babak pahit dalam awal rumah tangga kami.

Karena aku sudah terlalu lama kurang piknik dan mulai mengeluarkan tanda-tanda ketidakwarasan itulah akhirnya suami rela mengeluarkan budget khusus untuk mengajakku mengikuti study tour bareng mahasiswanya. Aku senang sekali tentunya. Saat melihat rombongan mahasiswa di bandara. Aku merasa seakan kembali ke zaman mahasiswa dulu.

***

Rute 1: Politeknik Negeri Semarang

Bagaimana rasanya saat emak-emak masuk ke ruang kelas mahasiswa politeknik semarang? Mengambil tempat duduk paling depan pula. Lantas sang Dosen pun bertanya, “Mba Mahasiswa? Dosen?”

Hahaha..

Awkward Moment banget. Lantas suamiku sebagai perwakilan dosen pun menjelaskan bahwa aku adalah Istrinya. Dalam hatiku berkata, “Seharusnya tadi membawa almameter saja supaya tidak awkward”

Politeknik Negeri Semarang itu keren. Studytour kesana memang tidak sia-sia. Mahasiswa Komputer Akuntansi Poliban sangat antusias disana. Apalagi mengingat bahwa ada program studi lanjutan untuk kuliah mereka disana. Wah, entahlah sudah dimana para mahasiswa itu sekarang. Aku masih ingat berbagai sinaran mata semangat mereka. Ya, kehidupan masa muda itu memang menyenangkan ya.

Rute 2: Simpang Lima Semarang

Setelah sampai di hotel pada malam harinya kami lalu memutuskan untuk jalan-jalan ke Simpang Lima Semarang. Akupun langsung antusias minta foto di deretan lampu besar yang membentuk tulisan simpang lima semarang. Yah, maklum.. Emak rumahan baru keluar kandang, agak udik dan norak.

Kenapa hanya ada fotoku saja? Mana Suaminya?

Sebenarnya ada loh fotoku dengan suami di sini, tapi karena pakai kamera mahasiswa jadi lupa minta atau sebenarnya agak gengsi minta. Hahaha.. Maklum, suamiku sangat sulit diajak kalau urusan berfoto.

Oh Iya, disini ada berbagai becak hias dengan lampu juga. Dalam sekali putaran kawasan simpang lima dikenakan biaya 35k. Nah, kalau sepeda tandem hias bisa disewa dengan harga 25k untuk 30 menit.

Apakah kami menaiki becak atau sepedanya?

Tentu Saja Tidak, terlalu kekanakan kata suamiku. Haha

Rute 3: Rawa Pening

Rawa Pening apaan sih ya? Eh, ternyata itu adalah danau seluas 2670 hektar yang ada di Jawa Tengah. Dan ketika kami sampai disini…Wah…

Berasa jalan-jalan ke sungai Banjarmasin pemirsa..

Bagaimana Tidak? Keadaan Danaunya mirip sekali dengan kawasan sungai dibanjarmasin yang dipenuhi dengan tanaman eceng gondok. Pokoknya ketika kesini saya berasa balik ke banjarmasin lagi. Haha..

Cuma.. Bedanya kalau di banjarmasin kiri dan kanan ada rumah penduduk. Disini adem, angin sepoi-sepoi dan enak sih ya, namanya juga jalan-jalan. Hihi..

Rute 4: Candi Borobudur

Tidak mau membuang-buang waktu di Rawa Pening terlalu lama maka kami akhirnya memutuskan ke Candi Borobudur yang berada di Magelang. Sebagai emak yang cukup udik dan baru pertama kali menjejakkan kaki di Borobudur maka mohon maklumi tingkah narsisnya yang kelewatan. Hahaha

Suamiku berkata, “Kalau ke Peninggalan bersejarah itu jangan cuma foto-foto saja, ngapain foto-foto kalau tidak bisa menikmati indahnya sejarah. Coba lihat relief-relief ini mengandung cerita yang sangat bersejarah”

Dengan santai aku menjawab, “Jalan-jalan begini 5 tahun sekali juga mungkin enggak lagi. Kapan lagi menciptakan kenangan yang menyenangkan untuk di bawa pulang?”

Dan sang Suami pun pasrah dengan kelakuan sang Istri.. Hahaha..

Setelah puas berfoto ria, barulah aku dan suami asik menterjemahkan relief candi dengan bahasa kami sendiri. Saking bersemangatnya, kami turun lagi kebawah tingkatan candi untuk menemukan relatednya lalu menyimpulkan berbagai posisi budha dan keragaman relief yang sama. Yah, seperti Arkeolog saja, sok tau dan pura-pura pintar dalam menterjemahkan relief. Haha..

Hmm.. Kami akhirnya mengerti bahwa makna relief ini dalam sekali, ingin ditulis kesimpulan dari pengamatan relief versi kami? Janganlah ya, bisa-bisa tulisannya jadi banyak banget. Yah, bagi kami borobudur memang sangat pantas untuk dijadikan salah satu dari 7 keajaiban dunia.

Rute 5: Goa Pindul

Esok harinya kami memutuskan berjalan-jalan ke Goa Pindul. Belum tau Goa Pindul?

Nah, konon diantara beberapa wisata cave tubing, Goa Pindul ini adalah Primadonanya. Yang membuat aku sangat ingin kesana adalah karena konon salah satu stalaktit yang terletak ditengah goa adalah stalaktit terbesar no-4 di dunia. Wow banget kan?

Sayang sekali aku sangat sedikit memiliki dokumentasi di wisata ini. Pemandangan dalam Gua tidak sempat aku abadikan karena kamera HP ku tak bisa dipakai disana. Sedih banget lah pokoknya, padahal pemandangannya keren sekali. Berasa kayak di film adventure gitu. Banyak kelelawar sih dalamnya (namanya juga gua deng) tapi entah kenapa malah menambah kesan natural banget dengan adanya hewan serem itu. Hihiy

Jangan takut soal perjalanan masuk gua. Disini ada pemandunya kok dan kita sudah dijamin keamanannya dengan berbagai perlengkapan seperti pelampung dll. Jadi, buat kita-kita yang enggak bisa berenang tetep aman kok.

Hah? Kita? Kamu aja kali win…Haha

Rute 6: Pantai Baron

Konon kata Suami pantai di Yogya itu Indah banget beda dengan Pantai di Pelaihari. Nah, ini dia yang bikin penasaran, Seindah apa sih?

Kami memutuskan untuk ke Pantai Baron yang terletak di Desa Kemadang Kecamatan Tanjung Sari. Pantainya emang indah sih, airnya biru dan.. Wah.. Ini pertama kalinya aku lihat menara suar. Haduh, Udik banget ya.. Haha..

Tanpa memperdulikan pemandangan pantai apalagi berpikir untuk mandi, aku langsung saja memanjat bukit di dekat pantai sana bersama suami dan rombongan mahasiswa. Keren lah rasanya melihat menara suar itu, berasa syuting film Shutter Island. Hahaha..

Tinggi banget lah.. Tapi yang paling penting itu.. Foto-foto… Eaaa..

Sayang sekali tangga terakhir di menara suarnya agak horror. Akhirnya emak yang takut ketinggian ini menyerah tepat ditangga terakhir. Sayang banget ya, tapi bagaimana lagi? Aku merasa kekuatan angin seakan menggoyangkan menara suarnya. Daripada pingsan disana dan digendong suami mending tahan aja adegan romantis itu. Eaa..

Rute 7: Keraton Yogyakarta

Awal memasuki keraton ini aku langsung merasakan betapa kental adat jawa di dalamnya. Tanpa memperdulikan isi-isi didalamnya aku dan suami teralihkan pikirannya saat melihat mereka. Taukah kalian siapa yang kami maksud?

Ya, sang abdi dalam.

Bagi kami letak keistimewaan Yogyakarta sangat terasa ketika memasuki dan mengenal budaya keraton. Zaman begini budaya dahulu masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat disana. Bagaimana bisa ya sangat banyak abdi dalam yang lalu lalang didalamnya. Salah satu dari abdi dalam yang memandu kami pun mengaku sudah puluhan tahun disini.

source: hipwee.com

“Apakah ini perbudakan” Pikirku lugu dan polos. Haha

Abdi dalam adalah mereka yang rela dan sepenuh hati mengabdikan diri untuk keraton dan juga raja dengan segala peraturan yang berlaku. Uniknya, bukanlah pihak keraton yang menyuruh mereka untuk menjadi abdi dalam namun mereka lah yang mengajukan diri.

Ternganga? Ya, saya juga..Haha.. Anehnya itu adalah hal terhormat bagi mereka.

Abdi dalam terbagi menjadi 2 bagian yaitu abdi dalam keprajan dan punakawan. Keprajan biasanya bertuga di dinas dan instansi pemerintahan sedangkan punakawan bertugas di keraton saja.

Setelah bertanya cukup banyak tentang abdi dalam dengan guide kami kemudian suami saya iseng bertanya dengan tukang becak disana, “Sampeyan mau jadi abdi dalam mas?”

“Mau banget mas, seumur hidup juga aku mau.. Ini jabatan terhormat mas”

Wah, kalian tau berapa gajih dari abdi dalam? Sepengetahuan singkat kami gajih mereka hanya 15 ribu sebulan. Berdasarkan wawancara kami mereka yang sudah berstatus S2 dan S3 saja mengajukan diri sebagai abdi dalam. Dan kalian tau apa jawaban mereka?

“Ini bukan soal gajih, tapi tentang hati”

Ya, mereka percaya ada berkah luar biasa dalam pengabdian mereka.

Rute 8: Taman Pintar

Suatu hari nanti aku ingin sekali membawa Farisha jalan-jalan kesini. Ya, Taman Pintar benar-benar tempat belajar anak yang sangat edukatif. Sayangnya saat berjalan-jalan di taman ini baterai hpku mati dan dokumentasi itu nol besar. Yah, sayang banget. Padahal sekali seumur hidup aja mungkin kesini..huhu..

source: jejakpiknik.com

Setelah sampai ke hotel lagi barulah emak nangis bombay dan menyesal kenapa pakai acara gengsi minta foto dengan mahasiswa. Ya, beginilah emak-emak jaim. Huhu

Rute 9: Malioboro

Malam itu adalah malam terakhir di Yogyakarta. Suamiku dengan keras hati menyuruhku untuk istirahat di Hotel saja malam itu. Tapi Bagaimana bisa? Aku belum ke Malioboro loh.

Akhirnya berkat rayuanku bersama dengan para mahasiswa yang gatel banget pengen jalan pak dosen luluh juga untuk mengajak kami ke Malioboro. Haha..

Sebenarnya ada loh dokumantasi foto di malioboro ini. Tapi entah kenapa setelah aku cari ternyata tidak ada lagi. Yah, mungkin karena hasil fotonya jelek semua karena cahaya malam. Tapi serius, jalan-jalan di Malioboro memang berkesan.

Rute 10: Candi Prambanan

Pagi harinya kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan dikenal sebagai candi yang unik dengan bentuk dan jumlahnya. Karena baru pertama kali kesini aku sih ga menghitung apa benar jumlahnya ada seribu. Hihi..

Tapi kalau dilihat bangunan candi ini sudah beberapa kali dilakukan pemugaran seperti halnya borobudur. Konon puing-puing candi tempat saya berfoto ini merupakan salah satu puing candi yang tidak bisa direnovasi lagi. Jadi, candi ini tidak utuh seperti awalnya lagi.

Aku senang sih disini, pemandangannya keceh dan sangat instagramable. Untungnya suamiku sedang dalam mood bagus untuk berfoto-foto disini. Huft, jarang-jarang kan dia begini? Haha

Nah, itu dia destinasi wisata kota semarang dan surabaya yang kami jelajahi dalam rangka study tour. Hah? Study Tour? Apa mungkin lebih tepatnya ini piknik murni? 😂

Apapun itu, setiap perjalanan adalah langkah yang berharga. Sekian lama tidak pernah piknik jauh begini aku akhirnya membuat tulisan ini untuk mengenang memory manis perjalanan kami. Semoga suatu saat bisa kembali kesana. 😍

IBX598B146B8E64A