Pengalaman Seru Menjadi Nara Sumber Webinar CIMSA Mercy

Pengalaman Seru Menjadi Nara Sumber Webinar CIMSA Mercy

“Kamu tau hal paling menakutkan dalam hidup itu apa?”

“Apa? Hantu? Kiamat?”

“Mengetahui bahwa kita hidup di dunia hanyalah melaluinya begitu saja. Tanpa menggali potensi. Tanpa apa-apa. Meaningless..”

“Ah, kan kita hidup didunia memang hanya layaknya kapal. Asalkan kita beribadah… .. “

“Omonganmu terdengar familiar sekali.”

“Iya, kan memang sering kita mendengar bla bla..”

“.. Seperti pikiran lainnya yg memandang hidup hanya perlu iman dan islam. Lantas pergi dan memandang yang kurang bersyukur seperti tidak paham dengan arti iman dan islam. Padahal.. Bukankan arti syukur dan ikhlas perlu sebuah perjalanan yang luas?”

***

Obrolan itu kembali terngiang ditelingaku. Obrolan lama, mungkin waktu itu aku masih sekolah SMA dan sedang memasuki salah satu kegiatan ekstra di sekolah. Jangan tanya apakah aku menjadi si A atau si B dalam obrolan tersebut. 

Aku, pernah menjadi keduanya.. 🙂

Pembicaraan yang terasa biasa. Namun artinya baru aku pahami ketika sudah memiliki anak. Bahwa hidupku ternyata begitu sederhana. Begitu banyak hal yang belum sempat aku gali sendiri. Aku belum memaksimalkan diriku sendiri namun kehadiran buah hatiku yang pertama telah mengubahku menjadi orang lain. 

Ya, pernahkah kamu merasa dirimu berangsur menghilang? Seperti digantikan sosoknya oleh sebuah topeng cantik. Layaknya seekor siput. Memiliki rumah dengan corak indah dan pola yang unik. Namun ternyata, makhluk mungil yang ada di dalamnya sudah hilang. 

Aku pernah menjadi cangkang kosong. Kehilangan diriku. Kehilangan arti hidupku. Jangankan menanyakan semangat yang dulu. Diriku yang dulu saja sudah hampir hilang. 

Saat itu, aku tidak menyadari bahwa diriku terkena Post Partum Depression. 

Ceritanya sudah sering aku tulis di blog. Dan tidak ku sangka, karena cerita-cerita receh itu aku mendapat sebuah undangan. 

Aku? Menjadi seorang nara sumber untuk acara webinar? Dengan tema sedemikian? Apakah ini tidak salah? 

Jantungku berdegup kencang. Kubaca ulang undangan tersebut. Rasa minderku masih tersisa rupanya. Dan aku meninggalkan pesan itu begitu saja. Berusaha untuk tidur siang dan mendamaikan diri. Berbicara kepada diri sendiri, “Hei, kamu siapa? Tau diri dong. Sudah, masuk keong saja sana!”

Kali Pertama Aku ‘Curhat’ dengan CIMSA

Undangan tersebut hadir bukan tidak ada sebab. Sebelumnya aku pernah mengisi narasi cerita untuk microblog instagram CIMSA dengan tema cerita Post Partum Depression. Aku dengan senang hati membagikan pengalamanku untuk barangkali bisa bermanfaat bagi para pembaca atau yang sedang mengalami gejala hingga memperjuangkan diri untuk sembuh dari PPD

https://www.instagram.com/p/CA-hHZzAQE5/

FYI, CIMSA sendiri adalah kepanjangan dari Center for Indonesian Medical Students Activities. CIMSA merupakan organisasi non profit, non politik, dan non pemerintah yang mewadahi mahasiswa kedokteran di indonesia dalam memberikan dampak bagi kesehatan Indonesia melalui berbagai aktivitas.  CIMSA dibuat sebagai wadah untuk memberdayakan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa kedokteran indonesia yang siap ikut andil dalam meningkatkan kesehatan indonesia. 

Sebagai saudara perempuan dari kakak yang kebetulan merupakan seorang dokter dan adikku sendiri yang keduanya merupakan mahasiswa kedokteran tentu ada sedikit rasa minder mengingat ilmu yang aku miliki sangat tidak sebanding untuk memberikan cerita pada mereka. Ya, aku pernah bercerita bukan bahwa aku mungkin merupakan satu-satunya anak mama yang memiliki kapasitas keenceran otak paling sedikit. Tapi, aku tak menyangka curhatan receh itu sedikit berdampak. 

Memutuskan untuk ‘Berani’ Menampilkan Diri

Tidak kusangka, curhat kecil berujung seperti ini. Aku toh sudah terbiasa untuk menulis. Tapi, jujur aku merasa skill verbalku tidak sebagus skill ku dalam menulis. Temanku sewaktu SMA pernah berkata padaku bahwa aku ini sangat pendiam layaknya seekor siput yang sedang dipepes. Bayangkan, siput saja sudah sebegitu unpotential. Dipepes pula. Seakan mengejek bahwa skill verbalku sama sekali tidak bisa diandalkan. 

But, Time flies.. 

Siapa sangka aku yang dulu begitu pendiam berubah menjadi sedikit periang ketika kuliah. Persentasi di depan kelas adalah moment favoritku. Bahkan, aku ingat sekali suatu hari ketika ada pelajaran Komunikasi Bisnis.. Aku diberikan penghargaan karena telah menjadi MC terbaik di kelas. Aku berubah total dalam jangka waktu 2 tahun setelah SMA. Aku sangat ingat moment itu. 

Meski sudah hampir 10 tahun berlalu, aku masih ingat penghargaan itu. Dan itulah yang memberanikanku untuk menjawab ‘bersedia’ pasca 3 jam undangan itu datang. Meski mungkin skill itu sudah hampir terkubur tapi bukankah itu hal yang menarik dalam kehidupan? 

Ketika kita berani menjawab sebuah tantangan dan kita merasa berdebar akan semangat yang baru. Itulah rasa nikmat syukur kehidupan. 

Andai hormon adrenalinku bisa bicara, mungkin selama 8 tahun ini ia akan protes memukulku karena tak pernah berani mengeluarkan skill verbalku lagi. PPD yang pernah aku alami memang sedikit memberikan rasa trauma. Takut ini, takut itu. Padahal toh, bukannya aku sudah mendapatkan pelajarannya? Bahwa segalanya akan sembuh dengan ‘keberanian berekspresi’. 

Serunya Webinar Bersama CIMSA

Aku tidak menyangka hari itu banyak peserta yang hadir. Aku mengira peserta webinar hanya berkisar pada angka 50an. Ternyata ada lebih dari 100 orang. Dan kebanyakan adalah para mahasiswa kedokteran. Sekilas, rasa minder itu datang apalagi ketika melihat CV dari narasumber pematerinya. Hmm? Siapa aku kok berani sekali nyemplung disini? 😌

Jujur, ada sebuah perasaan lucu hari itu. 

Bagaimana kalau aku closed saja semuanya. Matikan wifinya. Biarkan selama 5 jam. Nanti kalau mereka menghubungi, bilang saja mendadak ada gangguan. Bla bla.. 

Syukurlah aku tak melakukan hal itu, karena sungguh jika aku melakukannya. Aku sudah kalah oleh diriku sendiri. Dan, kalian tau? Ada satu hal yang membuatku tertegun menyimak materi dari awal sampai waktuku tampil. Karena aku, seperti merasa kembali ke masa lalu. 

Ya, masa dimana aku tidak mengerti apa itu depresi dan menolak pernah mengalaminya. Materi yang dipaparkan oleh dr Natalia begitu mengunggah diriku. Sampai ingin rasanya aku mengeluarkan air mata. Merasa beruntung bahwa diriku sudah melalui masa-masa suram itu. Begitu banyak kasus menyeramkan terkait ppd dan pembunuhan anak hingga dampak lainnya adalah mengakibatkan luka disana sini. Innerchild yang memutar dan tak kunjung berakhir.

Baca juga: Dampak Negatif dari Post Partum Depresion Pada Anak dan Caraku Memperbaikinya

Menariknya, saat sesi pertanyaan dibuka aku baru menyadari bahwa mungkin sekitar 30% peserta adalah ibu-ibu. Ada pula yang merupakan masyarakat umum yang ingin tau tentang babyblues. Antusias mereka luar biasa. Dan dr Natalia menjawab dengan sangat lengkap tanpa jeda sama sekali. Aku sampai tercengang dibuatnya. 

Pikiran itu kembali datang, 

“15 menit lagi win, sebelum terlambat dan malu-maluin. Closed semua tab dan matikan wifi. Masuk ke dalam selimut”

Humaira pun menangis masuk ke dalam kamarku. Disusul oleh kakaknya si Pica yang kesal karena bingung menerjemahkan apa kemauan adiknya. Makin mantap bisikan itu menemukan eksistensinya. 

Tapi, tepat 5 menit sebelum aku tampil. Suamiku sudah dengan sigap mengambil Humaira dan membawanya ke kamar. Dia tersenyum licik padaku dan berkata, “Anggap saja ujian skripsi.”

😂

Dan 5 menit pun berlalu.. 

Ternyata, Bercerita Verbal Itu Melegakan

Aku tidak tau persis apa yang harus aku ungkapkan. Awalnya, aku bahkan membuat slide tayangan untuk memperjelas sebuah cerita. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku hanya mengisi talkshow. Bukan pemberi materi atau nara sumber ahli. Tugasku hanya bercerita dan memberikan solusi nyata dari apa yang sudah aku alami. 

Jujur, moment itu adalah kali pertama aku bercerita secara verbal tentang PPD yang sempat aku alami. Sebelumnya, aku hanya menulis rintihan receh di blog maupun instagram. Itupun sebagian kecil telah aku hapus karena aku sendiri merasa tulisanku tidak menginspirasi dan sedikit toxic. Maklum saja, saat itu aku menulis untuk menyembuhkan diriku  bukan untuk menginspirasi dengan pengalaman. 

Ternyata, bercerita itu melegakan. Aku tidak menyangka ceritaku akan lancar mengalir begitu saja. Seakan aku menemukan seorang teman curhat sambil meminum kopi di sebuah cafe. Kurasa, dr Salma sang moderator memiliki aura friendly untuk berbagi cerita. Maklum, jika ingat fase dimana aku mencari teman cerita saat terkena PPD dulu maka aku akan ingat dengan sebuah grup di facebook dimana saat aku menanyakan tentang pumping ASI yang tak mau keluar.. Anggotanya begitu fanatik ketika aku menceritakan depresinya aku ketika terpaksa meminumkan anakku susu formula. Judge demi judge aku terima di kolom komentar. Itu adalah kali pertama aku takut bersosial media dengan grup yang kebanyakan memiliki member emak-emak perfect. *loh kok jadi curhat lagi?🤣

Yah, begitulah. Intinya aku tidak akan menceritakan ulang bagaimana proses sembuhnya aku dari PPD. Bagaimana efek yang sempat aku alami karena meremehkan gejala babyblues. Microblog singkat yang aku tulis di CIMSA dan tulisan receh di blog sudah pernah mewakilinya. Hanya saja, ternyata bercerita verbal menjadi sensasi baru yang nyaman untukku mengerti apa arti kata berarti dan berada. Dalam durasi satu jam aku merasa menemukan diriku di kampus yang dulu. Berpegangan pada microphone dan menatap seisi kelas dengan penuh makna. 

Aku, kangen dengan cita-citaku dahulu. Mungkinkah aku bisa menjadi seorang guru atau dosen? Aku rindu suasana kelas. Aku rindu menjadi Winda yang seimbang dalam dunia nyata dan maya. Winda yang dahulu. 

Tapi kemudian, aku kembali menatap Pica dan Humaira. Mereka memelukku dan ingin berbaring denganku untuk tidur siang. Ku usap kedua kepala mereka berdua. Lantas tersenyum. 

Aku lebih menyukai diriku yang sekarang. Semenjak jadi Ibu dan menemukan arti ikhlas serta syukur..

Aku merasa bisa meraih semuanya.. 

Namun sabar memang harus menggiringinya.. 

Komentar disini yuk
0 Shares

One thought on “Pengalaman Seru Menjadi Nara Sumber Webinar CIMSA Mercy

  1. Aku mewek bacanya kak membayangkan waktu mengalami PPD. Aku memang belum menikah kak tapi aku belajar banyak tentang persiapan menjadi ibu itu nggak mudah. Salut sama kakak bisa melewati semua itu, semoga bisa jadi pembelajaran orang lain ya 🙂

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A