15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

Anak adalah anugerah terbesar yang diterima. Anak adalah titipan yang dipercayakan kepada seorang ibu dan ayah agar dapat dijaga, dipelihara dan diwariskan kebaikan. Anak adalah sumber kebahagiaan dan arti hidup. Menikah tanpa dikaruniai anak merupakan kebahagiaan yang belum lengkap.

Ya, begitulah sewajarnya kita mendefinisikan pengertian anak dimata orang tua_terlebih dimata Ibu. Tetapi apakah semua Ibu merasakan demikian?

Sayangnya tidak.. 

Beberapa Ibu sempat mengalami Baby Blues dan Postpartum Depression pasca melahirkan anaknya. Kondisi psikologis yang terganggu ini menyebabkan seorang ibu tidak dapat mencintai anak dan memelihara dengan maksimal. Terkadang, Ibu yang mengalami postpartum depression sering menyalahkan diri sendiri hingga merasa tak pantas menjadi Ibu. 

Baca juga: Apa itu Babyblues Syndrome dan Post Partum Depression? Bagaimana gejala serta cara mengatasinya?

Cheryl Meyer, seorang profesor psikologi di Wright State University di Ohio telah menulis dua buku tentang pembunuhan anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Ia menganalisis bahwa ada sekitar 1.000 kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya sendiri selama tahun 1990an. Itu berarti satu kematian setiap tiga hari.

Itu masih tahun 1990an. Sekarang? Sayangnya kasus pembunuhan oleh ibu kandung kian bertambah. Bukan hanya diindonesia, beberapa kasus fenomenal juga terjadi dibeberapa negara lainnya. 

Bagaimana bisa? 

Ya, itulah yang terjadi ketika postpartum depression terlambat ditangani. Postpartum depression adalah gangguan jiwa yang secara perlahan dapat membentuk karakter Ibu menjadi monster bahkan setan sekalipun. 

Berikut beberapa nama Ibu dalam kasus pembunuhan terhadap anaknya karena Postpartum Depression. 

1. Andrea Yates

Andrea, Rusty dan keempat anaknya

Andrea Pia Kennedy Yates (lahir 2 Juli 1964) adalah mantan penduduk Houston, Texas. Ia mengaku menenggelamkan kelima anaknya di bak mandi mereka pada tanggal 20 Juni 2001.

Setelah ditelusuri, ternyata Andrea telah menderita Post Partum Depression (depresi pascamelahirkan) yang sangat parah. Selain itu, andrea juga diduga mengidap skizofrenia. 

Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah 40 tahun. Putusan tersebut dibatalkan karena naik banding.

2. Lisa Gibson

Lisa Gibson (32 tahun) ditemukan tenggelam di Winnipeg, Kanada. Tubuhnya ditemukan beberapa hari setelah kematian kedua anaknya, yaitu Nicholas yang berusia tiga bulan dan Anna yang berusia dua tahun di bak mandi mereka. 

Sebelum itu, Polisi datang kerumah Lisa setelah sebuah panggilan 911 dibuat dan kemudian ditinggalkan. Polisi menemukan kedua anaknya meninggal di bak mandi. Setelah diperiksa, kedua anak tersebut diketahui telah dibunuh. 

Setelah ditelusuri, ternyata Lisa Gibson sendiri didiagnosis telah lama menderita Postpartum Depression sebelum membunuh anaknya tersebut. 

3. Charlene Ventanilla 

Suatu pagi, Ken Ventanilla kembali kerumah dengan pemandangan mengerikan. Ditempat tidurnya tergeletak Istri dan bayi berusia 8 minggu, keduanya bermandikan darah. 

Ken langsung menghubungi 911. Anaknya, Shane diketahui meninggal karena banyak tusukan ditubuhnya. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Charline yang merupakan Ibu dari anaknya sendirilah yang membunuhnya. Charline juga yang menusukkan pisau tersebut pada dirinya sendiri. 

Setelah ditelusuri, ternyata perubahan mendadak Charlene dalam kesehatan mental dimulai saat dia mulai mengambil kontrol kelahiran segera setelah kelahiran anaknya. Ken berkata, “Malam terakhir itu, Charlene meyakinkan saya dan ibunya dan semua orang bahwa dia baik-baik saja”

4. Erin Sutherland

Erin Sutherland didiagnosis menderita postpartum depression setelah kelahiran anak pertamanya pada tahun 2006.

Depresi Sutherland menjadi sangat parah saat anaknya berusia delapan bulan. Erin mulai percaya bahwa bayinya lebih baik mati daripada memilikinya sebagai seorang ibu. Untungnya, Sutherland dirawat di rumah sakit dan sembuh setelah perawatan.

Pada tahun 2015 Sutherland menahan dan membunuh anak keduanya, Cloe yang berusia sepuluh bulan.

Erin melakukannya setelah tidak dapat mengakses layanan kesehatan mental yang sesuai di Skotlandia. Ibu berusia 37 tahun itu telah mengunjungi dokter keluarganya, namun dia tidak dapat merujuknya ke layanan kesehatan mental perinatal karena departemen tersebut tidak akan menerima ibu dengan anak di bawah umur enam bulan.

Tidak seorang pun di departemen kesehatan medis menyampaikan informasi bahwa Sutherland mengalami postpartum depression parah yang berputar lepas kendali pada delapan bulan berikutnya.  Penyelidikan berikutnya mengatakan bahwa sistem tersebut bertanggung jawab atas kematian yang sebenarnya bisa dihindari.

5. Deasia Warkins

Deasia Watkins didiagnosis menderita postpartum depression dan kemudian menjadi lebih parah.

Gejala postpartum depression memang bervariasi dan bisa berubah dengan cepat. Kebanyakan penderita mengalami bentuk mania dengan mood labil, pikiran tidak tenang  dan ketidakmampuan untuk beristirahat. Ada gejala lain yang bisa mencakup perubahan suasana hati yang tiba-tiba menjadi depresi, kebingungan berat, hilangnya hambatan, halusinasi dan delusi yang biasa terjadi.

Suami Watkins mengatakan bahwa dia telah “berbicara tentang setan” dan karena keadaan mentalnya yang tidak menentu, bayi mereka dirawat oleh Bibi Deasia. Saat berkunjung ke putrinya, Watkins menunggu sampai bibinya tertidur dan menikam anaknya beberapa kali dengan pisau koki besar. Bayi itu kemudian dipenggal dan ditata di atas meja dapur. Watkins meletakkan pisau di tangan anak itu sehingga “polisi akan mengira dia telah melakukannya sendiri.”

6. Lisette Bemenga

Pada tahun 2014, mantan guru sekolah Lisette Bemenga menghadapi hukuman penjara seumur hidup karena pembunuhan kedua anaknya pada tahun 2012. Dalam persidangannya, dia merasa terlalu terganggu secara emosional karena postpartum depression yang dideritanya. Ia  dijatuhi hukuman karena pembunuhan.

Trevor Noel berusia empat tahun dan adiknya Violet Lily Noel berusia empat bulan diracuni dengan koktail cairan pembersih kaca dan jus anggur. Setelah meracuni mereka, dia membawa mereka ke kamar mandi dan menahan mereka di bawah air di bak mandi untuk memastikan mereka telah meninggal. 

Bemenga telah didiagnosis menderita depresi pascamelahirkan dua bulan sebelumnya dan mengklaim bahwa kondisinya diperparah oleh suaminya yang merupakan seorang mantan petugas polisi NYPD yang lari ke Spanyol bersama wanita lain dan membiarkannya memelihara kedua anaknya sendirian.

7. Debra Lynn Gindorf 

Debra Lynn Gindorf menghaluskan pil tidur dan mencampuradukkannya dengan makanan anak-anaknya.  Setelah itu, anaknya Christina yang berusia 23 bulan dan Jason yang berusia tiga bulan meninggal tak lama setelah menelan overdosis pil tidur tersebut. Setelah itu, Gindorf berusaha untuk bunuh diri.

Debra sempat dipenjara lebih dari 24 tahun sebelum kemudian hukumannya diringankan. 

Ya, Gubernur Illinois Patrick Quinn membebaskannya karena pengakuan bahwa dia sakit jiwa saat itu. 

8. Felicia Boots

Perancang perhiasan, Felicia Boots mencekik putrinya yang berusia 14 bulan bernama Lily dan anak laki-lakinya yang baru berumur sepuluh minggu bernama Mason beberapa hari setelah keluarga tersebut pindah rumah.

Pada malam tragedi tersebut, suami Felicia pulang dari tempat kerja dan mendapati Felicia sedang duduk di tangga dalam kegelapan, memeluk dirinya sendiri dan meratap ‘Anakku yang cantik, anak perempuanku yang cantik. Mereka telah pergi. Bantu aku, tolong aku, tolong aku.’

Felicia telah didiagnosa menderita postpartum depression, sebelumnya dia yakin bahwa anak-anaknya akan dibawa jauh darinya oleh petugas perlindungan anak. Hakim di Inggris mengatakan: ‘Meskipun hasil tindakan Nyonya Boots sangat tragis mengingat hilangnya dua nyawa muda, kejadian yang terjadi bukanlah tindakan kriminal. Apa yang dia lakukan adalah hasil dari faktor fisik dan biologis yang tidak terkendali. Dia melakukannya karena cinta”

9. Shwe Hitoo

Shwe Hitoo mencoba bunuh diri setelah membunuh bayi laki-lakinya yang berusia dua minggu diapartemennya. Ia memberi makan bayinya dengan satu botol susu yang dicampur dengan gula, pil tidur dan racun serangga. 

Hitoo kemudian meminum campuran yang tersisa agar dapat mati dengan anaknya. Ternyata, racun itu tidak bekerja kepadanya maupun anaknya.  Maka Hitoo mencekik anaknya dengan memegangi tangannya di atas mulut anaknya. Setelah yakin anaknya sudah mati, ia memasukkan mayatnya kedalam mobil suaminya.

Setelah berkeliling dengan mayat anaknya, ia mencari tempat untuk kecelakaan. Dia menabrak tiang lampu agar dapat membunuh dirinya sendiri. Sayangnya ia tidak mati karena kecelakaan tersebut, polisi menahan Hitoo setelahnya.

10. Janet Thies-Keogh

Kejadian berawal ketika suami Janet Thies-Keogh meninggalkannya sendirian dengan bayi mereka Colin selama satu jam. Dia pergi bermain tenis dengan seorang teman lalu menelpon istrinya untuk mengetahui bagaimana keadaannya.

“Tidak baik. Sebaiknya kau pulang saja,” katanya.

Suaminya yang panik langsung menelepon 911 dan mengatakan kepada staf bahwa dia takut istrinya mungkin telah melakukan sesuatu pada bayinya. Dalam panggilan kedua 911, saat melaju ke rumah mereka, dia memberi tahu petugas operator “Istri saya mencekik bayi saya.”

Janet sudah menunjukkan perilaku ingin bunuh diri karena mengalami postpartum depression, ia sempat dirawat karenanya. Tapi saat dia ditinggalkan sendirian dengan anaknya, penyakit psikologisnya menimpa dirinya lagi dan dia dengan tega mencekik anaknya. Suaminya menemukan Thies-Keogh duduk di ruang depan sambil menatap ke luar angkasa, dan dia sama sekali tidak menanggapi saat suaminya menemukan anaknya meninggal di kaki ranjangnya di kamar tidur utama.

***

Diindonesia sendiri sudah banyak kasus pembunuhan anak oleh Ibunya sendiri. Beberapa diantaranya juga disebabkan oleh postpartum depression. Berikut adalah beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu yang terjadi di indonesia.

1. Mutmainah

Seorang ibu bernama Mutmainah, 28 tahun, warga Cengkareng, Jakarta Barat, membunuh dan memutilasi anak kandungnya berinisial AJ, yang baru berusia 1 tahun.

 “Menurut keterangan, ibu itu menderita depresi,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono pada Senin, 3 Oktober 2016.

Awi mengatakan pembunuhan tersebut terjadi hari ini sekitar pukul 01.00. Mutmainah membunuh anaknya di rumahnya di Jalan Jaya Nomor 24, RT 04 RW 10, Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat. Setelah anaknya tewas, perempuan itu memutilasi tubuh bocah malang tersebut. 

Meskipun Mutmainah belum tentu mengalami postpartum depression, karena ia belum pernah memeriksanya secara langsung, tapi tetap ada kemungkinan bahwa ia mengalami gangguan ini.

2. Nurlela

Nurlela, tega menganiaya anak kandungnya Nur Qoidatul Zakiyah sampai tewas. Ketika ditetapkan menjadi tersangka, polisi belum mengetahui motif Nurlela menganiaya anaknya karena masih depresi berat.

Nur Qoidatul Zakiyah, bocah berumur 1,5 tahun meninggal setelah menjalani perawatan di RS Waled Cirebon. Pada bagian wajah dan kepalanya ditemukan luka lebam yang diduga akibat dianiaya ibu kandungnya Nurlela.

Penganiayaan terhadap korban yang merupakan anak kandungnya diduga sudah lama dilakukan tersangka. Hal ini karena proses persalinan melalui operasi caesar dinilai terlalu menguras biaya yang mengakibatkan sang Ibu stress dan mengalami postpartum depression. 

3. Anik Qoriah Sriwijaya

Anik mengontrak rumah bersama suami, Iman Abdullah, dan 3 anak, Abdullah Faras Elmaky alias Faras (6), Nazhif Aulia Rahmatullah alias Najib (3), dan Muhammad Umar Nasrullah (9 bulan) di Jalan Margahayu Barat Margacinta Kota Bandung. Keluarga ini terlihat hidup damai, tak pernah ada masalah berarti. Anik merupakan ibu rumah tangga, sedangkan sang suami bekerja di sebuah yayasan.

Minggu pertama bulan Juni, kejadian menggemparkan terjadi. Beralasan ingin menenangkan diri, Anik meminta suaminya menginap di kantor. Malam itu, ia membekap satu per satu anaknya hingga kehabisan nafas dan tewas.

Pengacara Anik saat itu, Iwan, menyebut Anik terlalu takut tidak bisa membahagiakan anak-anaknya di masa depan. Ia merasa menjadi ibu yang gagal. “Ia (Anik) merasa bersalah dan menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa (menghidupi anak-anak),” kata Iwan.

Anik mengatakan, “Tidak punya harapan lagi. Ya sudah putus asa saja dengan kehidupan nanti.” Pada 15 Januari 2007, majelis hakim membebaskan Anik dari segala tuntutan dan memasukkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Ia diduga mengalami postpartum depression. 

4. Dedeh Uum Fatimah

Dedeh Uum Fatimah (38) membunuh anaknya sendiri Aisyah Vani (2) dengan cara menenggelamkannya di dalam tangki air, Selasa subuh (11/3/2014). Dedeh membunuh Aisyah di rumahnya di RT 05 RW 22 Kampung Cijeungjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

Dedeh menyatakan menyesal karena tidak sekalian membunuh dua kakak Aisyah yang juga anak kandungnya. 
Penyebab pembunuhan ini diyakini karena Dedeh punya gangguan kejiwaan atau postpartum depression. Alasan kedua, Dedeh diduga mengikuti aliran sesat. 

5. Pretty Hasibuan

MA, balita usia 2 tahun 6 bulan meninggal dunia secara tragis. Dia tewas di tangan ibunya sendiri, Pretty Hasibuan (32). Pelaku diduga tega mengakhiri hidup darah dagingnya tersebut karena depresi. 

Peristiwa tragis tersebut terjadi di kontrakan pelaku, Jalan Dahlia Ujung, Lingkungan V, Desa Suka Makmur, Deli Tua, Minggu (15/1). Pelaku melukai perut korban menggunakan pisau. Bocah itu meninggal dunia dalam pelukan pelaku.

Pelaku juga sempat mengejar dua anak saudaranya sambil menghunus pisau. Beruntung keduanya selamat

Tetangga dan kerabat pelaku menyatakan janda beranak satu itu suka menutup diri, dan tidak nyambung saat berkomunikasi sejak berpisah dengan suaminya. Dia pun tinggal di salah satu kamar bersama saudaranya. 

***

Demikian beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya yang disebabkan oleh Postpartum Depression. Tentu masih banyak beberapa kasus yang lain. Kenapa tidak ditulis disini? Karena kurasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa jangan pernah menganggap remeh postpartum depression. Ya, anak anda taruhannya!!! 

Mengertilah, menjadi ibu itu sulit. Beberapa Ibu diatas adalah daftar nama tak beruntung yang telah memberikan kita sebuah pembelajaran bahwa manajemen stress pada Ibu adalah awal pondasi dari terciptanya rumah tangga yang sehat. 

Ibu yang berbahagia akan membuat sekelilingnya merasakan bahagia. Ibu yang tidak bahagia_akan membuat sekelilingnya menjadi bencana. 

Postpartum depression tentu dapat ditanggulangi dan dicegah. Pada artikel sebelumnya saya sudah menjelaskan secara detail tentang penanggulangan awal babyblues dan postpartum depression. 

Namun, ada beberapa orang yang memiliki kondisi psikologis yang ‘berat’. Mungkin karena inner child yang buruk, skizofrenia, bipolar, dan berbagai gangguan psikologis lainnya. Maka, pengobatan dengan psikiater lebih dianjurkan. 

“Belajarlah Bahagia Ibu”  

Sumber tulisan:

babygagadotcom

detiknewsdotcom

Komentari dong sista

27 thoughts on “15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

  1. Iya, betul sekali.. Sepertinya kalau dluar lebih aware dengan kasus PPD ini. Soalnya disana pengetahuan tentang PPD sepertinya sudah meluas, tidak seperti disini.. Semoga kasus-kasus ini membuat kita belajar ya.

  2. Sedih sekali bacanya 🙁
    Dari contoh kasus yang mbak kasih, kalau di luar negeri kebanyakan ibu sudah didiagnosa post partum depression ya. Kayaknya disana lebih aware, jadi mungkin pencegahannya bisa lebih baik. Kalo disini, udah kejadian baru ketahuan bahwa sang ibu menderita depresi. Sayang sekali…

  3. Amin.. Semoga dengan baca tulisan ini para ayah dan keluarga lebih aware dengan kondisi psikologis ibu yang baru melahirkan. Karena itulah tujuan dari tulisan ini.. 🙂

  4. Benar sekali mba vicky..3 Faktor ini benar-benar pemicu PPD. Apalgi kalau inner child dr Ibu sudah dari sononya kelabu sehingga psikologisnya terganggu. Makanya PPD ini jangan pernah diremehkan. Akibatnya fatal.. Hiks.. Terima kasih ya udah mampir.. 🙂

  5. Itulah pentingnya komunikasi yang baik, bukan hanya antara suami dan istri, tapi ibu dan keluarga ibu atau ibu dan teman-temannya. Menjadi ibu perlu kesiapan yang besar, lahir dan batin. Ngeri banget baca pembunuhan yang dilakukan oleh ibu kepada anak-anaknya. Semoga ke depan sudah tidak ada lagi ya,

  6. Ada beberapa macam pemicu penyakit post partum depression:

    1) Lingkungan sekitar ibu (orang tua, mertua, keluarga, tetangga, teman-teman) menghasut si ibu dengan berkata bahwa ibu ini bukan ibu yang baik. Sehingga ia percaya (apalagi kalau yang ngomong adalah orangtuanya sendiri) dan memutuskan bahwa ia lebih baik membunuh anaknya sendiri supaya anaknya tidak usah dicelakai oleh dirinya yang bukan merupakan ibu yang baik.

    2) Kepribadian ibunya sendiri yang aslinya sudah merupakan penderita depresi. Tidak bisa membangkitkan rasa percaya dirinya sendiri dan sulit menemukan solusi untuk stressnya sendiri.

    3) Tidak ada lingkungan yang suportif terhadap ibu (misalnya, melahirkan tanpa didampingi suami, cucu yang tidak diinginkan mertuanya, dan lain-lain).

  7. Ya Allah asli sedih dan merinding mbak.
    Saya pun kyknya pernah ngrasa lelah ngurus dua anak yg jaraknya berdekatan.
    Mungkin mereka begitu krn tdk ada yg bisa dijaka bicara dan mau mendengar.
    Bersyukurlah para ibu yg punya suami, keluarga, dan sahabat utk berkeluh kesah… TFS

  8. Benar sekali. Peran suami dalam membantu menghilangkan PPD sangat besar. Semoga banyak para suami yang tergerak membantu istri pasca melahirkan ya.. 🙂

  9. 15 kasus ini yang heboh mba ruli.. Yang tercium karena terkesan kejam. Yang ringan dan menciptakan inner child buruk buat anak-anak kita tidak tau.. Hiks

  10. PPD Ini serem banget kalau sampai berkelanjutan mba antung.. Apalagi kalau dari sononya inner child si ibu kurang baik sehingga punya gangguan psikologis bawaan seperti andrea..

  11. Tulisan ini tujuannya supaya para ayah dan calon ibu bisa mencegah babyblues hingga postpartum depression. Karena kalau terlambat mencegah maka hasil akhirnya bisa seperti ibu dan anak diatas. Mengerikan memang, tapi semoga menjadi pukulan keras buat yang selama ini menganggap remeh gejala PPD.. 🙂

  12. Huawaaaaa Bunda seremmmmm. Apalagi, aq orangnya parnoaaannn. Hebat ikh berani mengangkat tulisan tentang ini. Walaupun serem tapi tulisan ini penting untuk mengedukasi banyak orang

  13. Kalau dulu aku mikirnya ibu yang bunuh anaknya itu tega banget. Tapi kemudian baru tahu ada yang namanya ppd ini dan ternyata lumayan ngeri juga ya

  14. Mba leha punya bukunya ya?? Aku pinjem.. Udah lama pengen baca.. Selama ini baca cerita n dramanya di content aja.. Hiks

  15. Sedih bacanya 🙁
    Aku nangis pas pertama baca buku ttg Andrea Yates itu. Betapa kadang perasaan halus kita sebagai wanita yang berlebihan mikirin anak bisa menjadi berbahaya dan membunuh.
    Semoga persalinanku berikut2nya normal dan dijauhkan dari baby blues, apalagi PPD ini 🙂

  16. Hmm.. Kalau kubilang kepribadian introvert lebih rentan kena PPD dibanding ekstrovert.. Jadi harus benar2 waspada..

  17. Aku juga pernah mba.. Saranku kalau sendirian dirumah selalu sediakan kuotaaa.. Hihihi.. Karena itu satu2nya media pelarian untuk mewaraskan diri..✌

  18. Kena baby blues aja sudah nggak enak, apalagi kalo sampai kena PPD. Saking takutnya, aku sampai hampir tiap hari wanti-wanti suami supaya waspada sama keadaanku setelah melahirkan anak kedua. Takutnya kena. Semoga kesadaran tentang bahaya PPD semakin meningkat di Indonesia. Memang benar, nyawa anak bisa-bisa jadi taruhannya.

  19. Iya ya, banyak banget orang depresi abis melahirkan ini. Mulai dari faktor ga siap, kelelahan mengurus anak, belum lagi dukungan suami yg kurang dan hal lainnya.

    Awalnya dulu, mengira orang kayak gini emang gangguan jiwa tetapi karena memang beberapa faktor pendukung yg mengakibatkan dia melakukan hal kayak gini.

  20. Aku bacanya sambil gemeteran…. Pernah sekali – semoga jd yg terakhir- merasakan PPD jadi aku tau gimana kalutnya “ibu yg tidak beruntung” itu. Ya alloh…. semoga kita dijauhkan dari hal2 yang begitu (bingung mau ngomong apa, takut menyinggung yang pernah mengalami persis)

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A