Browsed by
Category: Psikologi

Tentang Elemen Air, Ninjutsu, dan Psikologis Emak

Tentang Elemen Air, Ninjutsu, dan Psikologis Emak

Wah, judulnya win.. Semacam sebuah pengakuan. Apakah selama ini penulis blog ini adalah seorang Otaku.. 😂

Bukan otaku sih. Sungguh sangat banyak anime yang belum aku tonton. Hanya saja, ada 2 anime yang begitu lengket di kehidupanku. Kalian tau apa itu? 

Yaitu Avatar dan Naruto. 

Dua anime ini, secara luas telah membuka ruas-ruas baru dalam kehidupanku. Dan ajaibnya, aku mengaitkannya dalam kehidupan psikologisku sehari-hari. 

Bukan sekedar ‘dikait-kaitkan’ tapi dijadikan sebuah pola kehidupan. Dan aku sendiri menyebutnya sebagai pola keseimbangan psikologis mak emak. 

Lantas, apa hubungannya dengan Air? Apa hubungannya dengan hari air sedunia bulan ini? 

Ada kok. 

Ada aja. Baca dulu dah.. 

Elemen Air dan Psikologis Manusia

Legenda China Kuno menggambarkan dunia dan seluruh alam semesta seperti ikatan lima unsur yakni air, logam, bumi, api, dan kayu. Begitu juga dengan kepribadian manusia yang harus memperlakukan dirinya dengan cara yang sama seperti lima elemen membangun dunia ini. Tapi, manusia hanya memiliki satu atau dua unsur yang lebih menonjol. Dan setiap elemen dapat menguraikan rincian tertentu tentang tipe kepribadian seseorang.

Well, sebagai mantan pemain ninja saga (entahlah kalian tau ini atau tidak.. Whahaha), aku sangat bisa mengerti dengan kalimat diatas. Permainan ini mengadaptasi anime naruto dan menempatkan karakter pemain untuk bisa memilih elemen yang sesuai dengannya. Setiap karakter dapat memilih 2 elemen. Entah itu elemen api, air, tanah, udara atau petir. Tidak sesederhana pola pada avatar, permainan ini juga membuat kita memilih elemen mana yang paling dominan hingga jurus  ninjutsu, taijutsu hingga genjutsu yang pas untuk setiap karakter. 

Adalah Hikari, nama karakter yang aku mainkan pada game ninja saga dahulu. Hikari artinya adalah cahaya. Aku memilih menggunakan elemen api dan air pada jurus ninjutsunya. Seiring berjalan waktu, aku dihadapkan pada 2 pilihan untuk membuatnya berkembang. Apakah aku harus membuatnya dominan menjadi ninja berelemen api atau ninja berelemen air. 

Sampai sini pembaca dibuat geleng-geleng.. 😂 Lalu bertanya-tanya apa hubungannya game ninja saga sama elemen air dan psikologi? 😆

Percayalah, game ini membuatku berimajinasi dalam kehidupan nyata. Bahwa sebenarnya, bukankah kehidupan juga dibuat seperti game? Ada kebijakan dalam memilih jalan setiap levelnya? 

Kalau dalam legenda cina kuno kepribadian manusia dipisahkan seakan menjadi 5 elemen, maka dalam kehidupanku akulah yang memilih elemen mana yang sebaiknya mendominasi kepribadianku. 

Dan aku memilih elemen air. Kalian tau artinya? 

Elemen air adalah orang yang memilih untuk mengisi kebahagiaan. Karena ia cinta dengan perdamaian. Lebih mengisi harinya dengan kekuatan spiritual dan mengurangi ambisi

Ambisi aku artikan sebagai elemen api. Yang dalam kehidupanku aku kaitkan pada pentingnya arti kekuatan. Dulu aku membanggakan elemen api yang ada pada diriku. Simple sekali alasannya, damage-nya besar. Semua orang menyukai orang yang memiliki kekuatan. Bisa dimanfaatkan, bisa menciptakan sesuatu. Tapi, juga bisa menghancurkan. 

Well, tapi mengurangi elemen api atau ambisi dan kekuatan. Bukan berarti aku menyerah. Tetapi lebih memilih untuk mencari kekuatan yang lain dari elemen air. 

Kekuatan elemen air dalam kepribadian sering dianggap tidak berarti. Padahal, tanpa disadari airlah yang paling berperan dalam charging happiness dalam diri manusia. Layaknya seorang Ibu yang mengisi cakra untuk orang-orang disekelilingnya. 

Skill Ninjutsu Psikologis dalam Elemen Air

Setiap elemen memiliki kelebihannya masing-masing. Api memiliki kelebihan pada kekuatannya untuk mendapat penerimaan dari orang lain, tanah memiliki kelebihan pada kuatnya pikirannya sehingga tidak gampang baper, petir memiliki kelebihan pada kekuatannya untuk bisa mengubah orang lain, sementara angin si jiwa bebas yang memiliki jalan hidupnya sendiri bisa diterima dimana saja, serta air yang konon bisa menyembuhkan dan mengisi kedamaian serta ketenangan. 

Jika elemen lain melibatkan persentasi passion yang dominan untuk bisa berkembang, maka air memiliki jalan ninjanya sendiri. Orang yang memilih untuk mendominasi cakranya dengan elemen air berarti sudah menyadari bahwa skill basic untuk mengeluarkan ninjutsunya adalah dengan adanya rasa ikhlas dan rela berkorban. Sungguh, ini adalah pilihan yang pernah sekali menimbulkan perasaan labil. Bahkan sampai sekarang. Makanya, ninjutsuku tidak pernah benar-benar sukses keluar. *sudah ngayal kek ninja bener dah.. 🤣

Orang yang memilih untuk mendalami air dan menambah point eksperience ke elemen air maka memiliki kelebihan bar cakra yang sangat besar, bisa menyembuhkan diri sendiri, hingga memiliki skill bertahan bahkan melumpuhkan. Tetapi ia memiliki kelemahan terbesar yaitu memiliki damage yang rendah serta memiliki bar kekuatan yang rendah sehingga gampang lelah yang kemudian berefek pada lemahnya kesabaran.

Tapi, segalanya dapat teratasi jika sudah menguasai skill ninjutsu air, yaitu:

-Water Healing: Skill ini memungkinkan berpindahnya bar cakra untuk meningkatkan kekuatan agar tidak kelelahan dan tidak mudah baper. Akhirnya stok kesabaran terus ada. 

-Water Protector: Skill ini memungkinkan berpindahnya bar cakra untuk terus memikirkan hal positif dibalik adanya kejadian negatif atau serangan negatif dari orang-orang. Sehingga hati tetap terjaga dan tidak berburuk sangka. Something like dinyinyirin orang bisa tetep move on dan gak nyinyir balik justru malah mendoakan kebaikan untuk orang demikian. Haha

-Water Attack: Skill ini memungkinkan pengguna untuk memiliki kekuatan. Walau damage pengguna elemen air itu sangat kecil tetapi akan efektif jika digunakan untuk hal-hal yang baik. *membersihkan rumah sambil leyeh-leyeh misalnya. Whahahaha.. Becanda dink🤣

-Water Control: Percaya gak percaya, walau kekuatan elemen air itu lemah tapi jika semua cakra tidak pernah digunakan dengan baik maka segalanya akan lose control. Jika tidak pernah bisa menggunakan skill healing maka cakra akan meledak ke hal yang tidak diinginkan ketika kesabaran sudah hilang. Layaknya stunami, orang yang memutuskan untuk mendalami elemen air akan meledak tak terkendali. Karena itu, sangat penting untuk mengeluarkan cakra ke skill yang lain.

Cakra: Mengisi Elemen Air dengan Jiwa yang Bahagia

Dari tadi kamu ngomong cakra.. Cakra.. 

Emang cakra apaan sih win? 

Wah, kalian belum pernah nonton naruto? 😂🤣

Sini ya aku ceritain, cakra itu adalah..

Cakra adalah kata yang berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti roda atau lingkaran, yang menggambarkan sebuah tempat berisi energi yang letaknya di pusat tubuh kita. 

Sesungguhnya, banyak ilmu tentang cakra ini. Ada yang menyebutnya menjadi 7 elemen dsb. Bahasanya sedikit rumit tapi sepemahaman sederhanaku bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperoleh cakra. Salah satu hal yang sederhana adalah dengan terus membahagiakan diri sendiri dan melanjutkan arusnya dengan membahagiakan orang lain. 

Cakra tidak terisi otomatis begitu saja, seperti sehabis tidur langsung terisi.. Bukan begitu. Cakra beda dengan tenaga luar atau energi. Cakra terisi oleh hal-hal yang tidak kita sangka. Pengalaman baru misalnya, berhasil melakukan sesuatu juga, sebuah pujian pun bisa mengisi cakra. Bahkan, hal receh seperti menonton drama korea bisa pula mengisi cakra. Untukku, hal receh seperti menulis pun bisa mengisi cakra dengan maksimal. Jangan salah, bahkan orang yang mengupdate status di sosmed pun bisa saja mengisi cakra. 

Hal receh seperti selfie dan menggunakan filter instagram bisa saja otomatis mengisi cakra. Hanya saja, warna cakra setiap orang berbeda-beda. 

Orang yang memutuskan untuk menguasai elemen air dengan dominan maka harus memiliki cakra yang banyak. Makanya, jangan salah kalau ketika seseorang sudah mendedikasikan dirinya untuk berkorban maka dia juga punya sesuatu untuk mengisi dirinya sendiri. 

Well, segala hal tentang cara ibu bahagia dan passion pernah emak tulis di blog ini. 

Arti Keseimbangan Psikologis dalam Jalan Ninja Dominan Elemen Air

Apakah memilih jalan ninja dengan elemen air berarti mengabaikan elemen lainnya? 

Oh tidak.. 

Kehidupan itu harus seimbang ferguso.. 

Dalam setiap kenaikan level, seorang ninja dihadapkan pilihan untuk mengisi exp kearah yang mana. Ninja yang memilih untuk mengisinya pada satu elemen saja bukanlah seorang ninja yang bijak. 

Sisakan minimal 2 point untuk setiap elemen, agar kehidupan berjalan seimbang. 

Ada sebuah artikel yang mengatakan bahwa zodiak Capricorn, Virgo dan Taurus termasuk lebih cocok menggunakan elemen tanah. *mamak zodiaknya virgo btw.. Haha

Dan setiap orang yang memiliki elemen tanah bawaan (layaknya hokage pertama 🤣) biasanya hebat dalam skill taijutsu. Jadi mari imajinasikan saja demikian, bahwa memang bar energi fisik orang jenis begini lebih panjang dan kekuatan taijutsunya emejing. 

*Baca ulang dan artikel ini makin ngawur aja jalannya ya.. 😅

Artinya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dominan air boleh tapi jangan lupa untuk mengisi point ke elemen yang lain. Agar kehidupan berjalan seimbang. 

Itulah jalan ninjaku.. 😊

***

Artikel ini ditulis untuk FBB kolaborasi dalam rangka hari air dunia. Entah kenapa memorable tentang game online ninja saga yang emak mainkan 10 tahun yang lalu menginspirasi untuk membuat tulisan ‘ngaco’ ini. Karakter Hikari pada game itu telah mempertemukanku pada pembelajaran kehidupan sebenarnya. 

Bahwa hidup kadang membuat kita seperti air. Terus mengalir tanpa malu dari tempat tinggi ke tempat rendah.

Berjalan dengan caranya sendiri. Mengisi kehidupan yang lain bahkan tanpa diapresiasi keberadaannya.

Jangan larut dengan hal itu. Bangkit dengan cara sendiri. Temukan jalan ninjamu sendiri. 

Temukan ‘Cahaya’ dalam jalan itu. 

Selamat hari air dunia. Air adalah penyembuh. Air adalah pelindung. Maka, hargailah keberadaannya. ❤

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

“Sayang banget ya kalau udah tinggi-tinggi sekolah, eh ujung-ujungnya cuma jadi IRT..”

“Iya… Bukannya apa ya. Dulu kamu kan punya cita-cita jadi bla bla. Sayanglah. Kan kamu pinter..”

“Kalau punya mimpi kejarlah mimpi itu. Jangan jadikan anak sebagai alasan. Itu terlalu klise..”

Perkataan-perkataan itu, sering sekali kadang mengelilingi kehidupanku. Lalu aku bertanya pada makhluk-makhluk yang mengeluarkan statement tersebut didalam hati. 

“Memangnya.. Kalian sendiri sudah menggapai mimpi kalian yang dulu?”

Dear Diriku: Masihkah ada Mimpi yang dulu? 

Jika ditanya sebuah mimpi atau itu cita-cita atau itu rancangan masa depan maka bisa dibilang aku adalah makhluk ‘terlabil’ dalam merancang sebuah mimpi. 

Aku pernah bercita-cita menjadi Guru TK yang cantik, menjadi model yang cantik, menjadi sailor moon, menjadi detektif, hingga kemudian aku masuk kedalam lubang materialisme saat remaja. Lalu tujuan hidupku mulai abstrak. 

Saat melihat kakakku sukses kuliah di kedokteran dan dipastikan masa depannya secerah intan berlian, aku si anak biasa-biasa saja cuma punya satu mimpi saat itu. 

“Apapun yang terjadi, aku ingin lebih sukses dibanding kakakku..”

Terjunlah aku kedunia ekonomi di kampus karena berharap menjadi orang kaya dimasa depan. Tapi, bukan jurusan ekonomi akuntansi di universitas ternama, melainkan di D4 Ekonomi syariah lebih tepatnya. Aku terjatuh mental 2 kali untuk masuk di jurusan akuntansi yang kuinginkan. Mungkin keberuntunganku sudah habis, mungkin juga stoknya masih bersisa untuk dua hal..Jodoh dan rejeki. Saat itu, aku percaya pada opsi terakhir. Keberuntunganku hanya tertunda. 

Saat lulus aku bermimpi untuk sekolah lagi. Entahlah kurasa dunia kampus itu menyenangkan sehingga aku berkeinginan untuk bekerja di kampus. Apapun, asal itu di dunia pendidikan. Tapi, jodoh memanggilku dengan cepat. Ia adalah asisten dosen dikampusku sendiri. 

Orang bilang, hidup ini bukan ditentukan tentang bagaimana kita memilih sebuah pilihan. Tapi, tentang bagaimana kita melihat sebuah kesempatan. 

Aku, melihat jodohku bukanlah sebuah pilihan. Melainkan kesempatan. Aku, memilih menjadi ‘bucin’ dibanding mengejar cita-citaku. Dan aku? Menikah. 

Impianku pun labil lagi. Aku sangat puas bisa menikah layaknya putri di negeri dongeng. Pernah berperan layaknya menjadi cinderella, lalu putri salju, lalu aladin. Setidaknya, adegan disetiap dongeng itu pernah aku alami. *tentunya adegan yang biasa saja, namun imajinasiku melebih-lebihkannya. Haha. 

Aku sempat ingat dengan mimpiku dikala remaja. Sempat bersemangat lagi. Tapi kemudian, aku hamil dan harus LDR dengan suami. Tidak adanya support sistem membuat mimpi itu tertunda. Lantas, seiring berjalan waktu.. Coba tebak apakah mimpi itu masih ada? 

Masihkah aku seambisius dulu? Setelah beberapa tahun berlalu? 

I’m a realistic person.

Pernahkah kalian menonton film start up? Apakah kalian bisa paham perasaan Dal Mi? Kenapa dia lebih memilih tidak kuliah dan memakai uang neneknya untuk membuat toko baru untuk neneknya?

 

Karena itulah langkah yang bijak dimatanya. 

Dan itulah aku yang sekarang. Kuliah? Bekerja di bidang pendidikan? Its not me anymore. 

Apa boleh buat, ternyata berkorban itu candu. Termasuk mengorbankan impian. Dan tahukah? Ternyata candu itu tidak jelek. 

Ketika Mimpi Itu Menemukan Cabangnya

“Aku percaya, setiap pilihan seorang Ibu itu baik. Mau bekerja atau hanya menjadi IRT. Semuanya baik. Asalkan.. Ambisi dan Semangatnya selalu terisi. Bukan sekedar terisi karena bahagia. Tetapi terisi karena mimpi itu masih ada.” -Shezahome

Krisis pencarian jati diriku memiliki nasib seperti Do San. Segalanya abstrak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohku maka segalanya terasa jelas jalannya. 

“Mimpiku dulu selalu sendirian. Tapi, sejak tangan itu ada. Mimpiku jadi bercabang. Dan aku menjadi bersemangat.”

Delapan tahun aku berumah tangga dari ekonomi yang down hingga bisa membantu ekonomi orang lain. Dari mendukung suami menjadi dosen, hingga mendukung suami mendirikan perusahaannya. Dan yang terpenting, aku menikmati proses itu. Tanpa kusadari, aku pun sedang membangun mimpiku sendiri. 

“Ketika manusia kehilangan impian, maka segala semangat itu hilang. Manusia harus punya mimpi untuk bersemangat hari ini.”-My Hubby. 

Aku percaya, bahwa setiap perempuan memiliki mimpinya masing-masing. Adalah tidak apa-apa jika ia bermimpi karirnya harus sedemikian. Juga tidak apa-apa jika ia merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan. Selama ‘impian rumah tangga’ selalu mendapatkan tangga teratas, kenapa tidak? Selama ibu tidak ambisius menurunkan mimpi gagalnya pada anaknya.. Kenapa tidak? Jangan takut untuk meneruskan mimpi. Dan ya, hidup harus punya mimpi. Bukan sekedar mimpi membahagiakan orang yang disayang. Tapi juga mimpi untuk merawat keinginan diri sendiri dan mengontrol batasannya. 

Mengejar Mimpi, Adakah Batasnya? 

Mengontrol batasannya? Apa maksudnya? 

Sesungguhnya, aku menulis ini terinspirasi dari film Soul. Ada yang pernah nonton? Sungguh, film ini menarik sekali. Apalagi untukmu yang sedang mengejar mimpi. 

“Ketika kecil kita memimpikan sungai, ketika remaja kita memimpikan laut, lantas.. Ketika sudah semakin tua, Laut mana lagi yang kau cari? Itu tidak ada batasnya. Carilah zona aman yang produktif. Yang membuat dirimu senang dan bisa menyenangkan.”

“Kita terlalu lelah mengejar hari esok. Merancang rencana-rencana masa depan. Hidup seakan menerka nerka sebuah kemungkinan, mencegah hal buruk terjadi di masa depan. Tapi kemudian kita lupa, lupa akan hal yang paling penting. Yaitu menikmati masa sekarang.”

Kalau pada teori ekonomi islam ada istilah, “Kebutuhan manusia terbatas, keinginan manusia yang tidak terbatas..”

Maka, mungkin dalam teori psikologis mungkin ada istilah, “Impian manusia sebaik-baiknya adalah yang merasa cukup akan apa yang sudah ia gapai. Melupakan sejenak tentang ambisi di masa depan dengan memberikan yang terbaik saat ini, waktu ini, hari ini.”

Terdengar seakan menyerah, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Zona aman itu tidak selamanya jelek. Sejauh dalam zona aman, kita selalu bisa membahagiakan orang lain. Kadang, mimpi yang tiada batasnya itulah yang tidak baik. Saat kita tidak bisa menikmati saat ini karena terlalu berpikir untuk masa depan. 

“Ketika manusia terlalu banyak bermimpi, berambisi.. Ia menjadi egois. Ia abaikan kasih sayang dihadapannya. Ia tak kenal ‘rasa cukup’. Ketika manusia kehilangan jiwa sosialnya, lalu kehilangan kasih sayang karena mengejar mimpi maka ia tak lagi menjadi seorang manusia yang hangat. Ia layaknya seekor ikan yang tak kunjung puas dengan perairan di terumbu karang. Terus berjalan mencari laut hingga tersesat di palung hitam.”

Ya, mimpi itu harus memiliki batas. Sudah mengerti bukan tentang batas yang aku maksud? I mean, berhentilah hidup untuk perencanaan demi perencanaan yang tiada habisnya. Hidup harus seimbang. Hiduplah dengan maksimal di hari ini. Maka, di hari-hari berikutnya akan ada mimpi tak terduga. 

Aku, selalu percaya akan hal itu. 

Dan apalah yang kita kejar di dunia ini? 

Bukankah kita lahir untuk belajar, lantas berbagi kasih sayang. Lalu ‘mewariskan kebaikan’. Jika mimpi kita berlebihan dan membunuh semuanya. Cukupkan sampai disini. 

Hiduplah dengan Maksimal Hari ini Kemudian Mimpi Itu akan Datang. 

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Mengejar mimpiku dan meninggalkan hal yang seharusnya aku jalani?” Aku bertanya padanya. 

“Bukan meninggalkan. Tapi mencoba memilih opsi yang lain. Kamu mengagumkan win. Hidupmu tak seharusnya berputar antara dapur, sumur dan kasur saja..” Temanku berkata. 

“Kamu tahu? Seorang wanita ketika menikah dihadapkan pada 2 pilihan dalam membangun mimpi. Tidak ada yang salah. Yang satu membangun mimpinya sendiri. Sedangkan yang lainnya mencoba menguatkan mimpi suaminya, mendukungnya, ikut bersamanya. Meraih dahaga yang berbeda untuk menyegarkan dirinya sendiri. Kamu sungguh sangat beruntung memiliki opsi untuk mimpimu sendiri. Tapi aku? Aku berbeda. Aku tidak bisa sepertimu. Aku adalah seorang partner. Bukan lagi winda yang individualis. Apa boleh buat. Aku sudah berkenalan dengan cinta. Tetaplah hidup dengan mencintai versimu sendiri, aku hidup dengan cinta versiku sendiri. Tidak ada yang salah dalam langkah kita. Keduanya mengagumkan.”

Dan setelah bertahun kemudian. Aku bertemu dengannya lagi. Masih dalam mata yang sama. Kasus yang sama. Tapi, status yang berbeda. 🙂

Dan akhirnya, aku membenarkan kata-kata ini:

“Tidak ada yang namanya pilihan yang salah jika didasari oleh Cinta..” – 

Anne Of the Green Gables

Aku, seorang Ibu biasa. Delapan tahun aku menjalani hari-hari ‘biasa’ layaknya Ibu Rumah Tangga. Awalnya membosankan, lalu aku sempat depresi, kehilangan mimpi. Kehilangan diriku sendiri. 

Tapi, segalanya berubah sejak aku menemukan ‘jalan ninjaku’ sendiri. Menikmati hari-hariku sendiri. Tidak selalu bertumpu pada masa depan. Selalu berkata ‘tidak apa-apa’ ketika target hidupku lepas. Setidaknya, aku selalu memiliki orang yang bisa kupeluk dan aku semangati. Orang itu, telah membawaku menjadi aku yang sekarang. Dan aku tidak pernah menyesal mendukungnya dari awal. 

Ya, aku tidak menyesal. 

Jika saja dulu aku bersikeras untuk bisa mengambil beasiswa dan terikat di kampus yang memiliki jarak berbeda dengan suami. Maka besar kemungkinan aku dan dia akan LDR. Meski status ekonomi pasti sangat baik dari awal pernikahan, tetapi aku tidak bisa menjamin pernikahanku akan baik-baik saja. Atau suamiku akan baik-baik saja. Dan entahlah bagaimana dengan anakku. Aku bukanlah seseorang yang multitasking. Jika aku mengejar ambisiku, maka mungkin aku tidak akan berada di titik yang sekarang. Begitupun suamiku, tidak akan sesukses sekarang. 

Aku memilih langkah berbeda. Menjalani hidup dengan maksimal ‘di masa sekarang’. Melupakan tentang masa depan. Menekuni hobi yang abstrak. Memasak, berdandan, menulis, bercerita, belajar, mengikuti komunitas, belajar lagi. Tidak menghasilkan uang tentu. Dipandang biasa saja? Tentu saja. Hal biasa itulah yang mengubah masa depanku. 

Kini, aku bersyukur. Semua mimpiku sudah hilang. Tapi digantikan oleh mimpi yang baru. Tanggung jawab yang baru. 

Aku bersyukur mendedikasikan hidupku untuk keluargaku. Karena keluargaku telah membantuku menemukan jati diriku. Kalian tau? Aku tidak pernah berhasil menemukannya sendirian. Ketika single dulu selama 22 tahun.. Tidak pernah berhasil. 

Jadi, Haruskah seorang Ibu mengejar Mimpinya? 

Jawabannya bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri. 

Cara kita tak selalu sama. Tapi satu hal yang sama.. 

“Hiduplah dengan maksimal hari ini”

NB: Please jangan cuma baca judul, headline, dan secuil-cuil kalimat saja lantas ehm.. komentarnya seperti menghakimi penulis seakan ‘menyerah’. Sungguh ini jauh sekali bukan tentang itu..:)

Jadi Mamak Super Galak Sejak Pandemi, Gini Solusi Recehku

Jadi Mamak Super Galak Sejak Pandemi, Gini Solusi Recehku

Jadi galak sejak pandemi? Sepertinya bukan cuma aku sih yang merasakan. Eh, ya gak sih? 

Gimana gak makin galak kalo kenyataannya pandemi ini bikin kita gak bisa keluar rumah secara normal lagi? 

Gimana gak makin galak kalo tiap hari musti ngajarin anak sendiri sambil diganggu bayi pula. Belum lagi kerjaan rumah yang tiada habisnya. Jangan lupakan pula berbagai kerjaan sampingan. 

Terus, gimana kepala gak makin keriting mikirin perekonomiannya di masa pandemi yang begitulah.. 

Dibalik pandemi corona ini. Tekanan psikologis merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Apalagi kalo sudah jadi mak emak. Kalau kitanya sendiri mulai jadi monster, gimana anaknya mau seneng plus happy belajar di rumah? 

Solusi Receh Menghilangkan Kegalakan Emak Kala Pandemi

Nah, Aku punya beberapa tips (konyol) yang mungkin bisa diaplikasikan agar monster-monster setan galak di kepala bisa sedikit freeeze dan menghilang selama pandemi ini. Cara-cara itu antara lain adalah:

Cuci Mata Belanja Online

Sejak pandemi entah kenapa jempol jariku ini suka sekali iseng membuka aplikasi market place. Mulai dari shopee, lazada, tokopedia dsb. Jempol ini otomatis bergerak seketika sambil menunggu anak mengerjakan tugas. Setidaknya, pekerjaan jadi tidak membosankan. 

Bahkan, kadang aku sering tertidur jam 1 malam hanya untuk melihat update flash sale terbaru. Duh, segitunya. 

Pertanyaannya.. Apakah aku sering shopping

Jawabannya adalah.. Tidak juga.. Haha

Aku hanya suka melihat trend harga terbaru dari berbagai brand. Aku juga senang membandingkan harga asli dan promonya. Dari seringnya memantau harga-harga tersebut, aku jadi bisa membayangkan titik BEP suatu harga dan titik yang benar-benar murah. Ini seru. Mainan barunya manager keuangan rumah tangga. 

Jadi, ketika aku menemukan harga-harga menarik di market place tersebut. Aku selalu iseng memasukkannya ke keranjang. Apakah dibeli? Oh tidak. Hanya dilirik-lirik manja. Sementara sambil dilirik-lirik, mini spongebob mulai bekerja diotakku. 

Sponge Bob 1:”Ih bagus ya?”

Sponge Bob 2: “Ih kira-kira diskonnya boongan gak ya?”

Sponge Bob 3: “Coba lihat disini dulu..” (Buka market place berbeda) 

Sponge Bob 4: “Nah kan boong”

Sponge Bob 5: “Nanti coba kalo jalan kita sekalian mampir ke toko anu. Kira-kira berapa harga aslinya kalo disini..”

Sponge Bob 6: “Jangan. Disini harganya titik rendah nih. Buruan checkout. Nih hampir habis..”

Sponge Bob 7: “Memangnya ada budgetnya?”

Yaa.. Kira-kira begitulah yang terjadi. Receh dan ketegangan yang menyenangkan. Setidaknya bisa sedikit meredakan setan squidword yang sedang galak dan ingin mendominasi otak sponge bob. Haha

Terapi Drama Korea

Mamak galak itu butuh belaian dan sentuhan. Lalu pelukan kemudian emm.. eh.. Bukaan.. Bukan itu! 

Mamak galak itu butuh drama! 

😂

Karena hidupnya terlalu ‘flat’ dan membosankan. Jadi, tidak ada salahnya terapi diri dengan menonton drama korea. Setidaknya, ada ketegangan dan campur aduk emosi agar kegalakan itu bisa diredakan. 

Iya, psikolog bilang kalau manusia itu gak bisa stuck pada jenis emosi yang itu-itu aja.

Kalau kopi Good Day bilang tuh “Karena Hidup Perlu Banyak Rasa”

Jadi, karena hidup emak sejak pandemi ini rada-rada hambar begitulah.. Maka emosi-emosi yang ada pada drama korea merupakan terapi tersendiri. 

Minggu ini film action yang dibintangi oppa nganu. 

Minggu depan film lope lope yang dibintangi oppa nganu. 

Minggu depannya lagi, film lucu yang dibintangi oppa nganu. 

((Inilah alasan kenapa tulisan shezahome jarang update pemirsa)) 

Begitulah kiranya, hidup santuy sambil makan mie instan tapi sesungguhnya ketahuilah bahwa hidup emak itu banyak drama.. 😎 *walau kenyataannya flat sekali.. 😂

Minta Tambahin Jatah Bulanan (Kalo ada yaaa.. ) 

Keranjang shopee emak udah 99+ tuh. Tambahinlah jatah bulanan.. Yah.. Yah.. *pasang mata kucing

“Aduh mamah ini. Lagi corona gini jangan belanja mulu ah kerjaannya. Banyak yang lebih susah nih hidupnya. Bla bla bla.. “

Oke. Proposal ditolak. Wkkw.. 

Jangan sedih atuh kalau proposal ditolak. Harus legowo. Intinya kalau sesungguhnya kebutuhan pokok masih cukup saja ya belajarlah untuk bersyukur. Karena istri yang tetap setia mendampingi suami saat ekonomi sedang down adalah istri yang luar biasa. 

Baca juga: Menghadapi suami yang lemah soal nafkah lahir

Memang sih tidak dipungkiri ya kalau bahagia itu butuh duit. Tapi sesungguhnya itu adalah solusi instan. Yang mana sesungguhnya serba instan itu tidak baik. 

Tidak melulu sedih, marah dan rada galak itu solusinya duit kok. Percaya deh. 

Gunakan Imajinasi Kehaluan Tingkat Tinggi

Sejak pandemi ini, aku mengatasi kejenuhan di rumah dengan kehaluan tingkat tinggi. Kehaluan ini aku ciptakan agar monster dalam diriku tidak kambuh lagi. 

Beberapa kehaluan konyol itu diantaranya adalah

Makan Mie Instan Rasa Ramen

Udah sekian lama deh rasanya enggak pernah makan diluar lagi. Kangen sekali rasanya sensasi makan bakso ketika lagi hangat-hangatnya. Ditambah dengan angin sepoi-sepoi plus jalan-jalan setelahnya. 

Karena itu, untuk mengatasi rasa kangen itu aku kadang suka sekali menonton drama berbau makanan. Kalau sudah adegan makan ramen, jajangmyeon dsb. Aku langsung berlari ke dapur. 

Bikin sendiri? 

Enggak. Mana sempat. Haha. 

Ya makan mie instan donk. Tapi, makannya sambil menonton drama makan. Setidaknya rasanya jadi 11-12 lah. Puas sendiri jadinya. Makan mie instan tapi serasa ramen berkat kehaluan.

Piknik di rumah

Beruntung sekali rasanya membelikan Humaira hadiah tenda mini di ulang tahunnya yang pertama. Karena sesungguhnya, yang mau main tenda itu bukan Humaira.. Tapi emaknya..😭🙄

Iya, jadi semenjak pandemi ini.. Keinginan piknik tak kunjung terjadi. Akhirnya, aku sering bermain di tenda bersama anak-anak. Senang banget rasanya. Memasak ayam plastik, telur plastik hingga memancing ikan plastik.. Dan konyolnya kadang Humaira bersikeras menjajalkan makanan-makanan plastik itu kemulutku. 😂

Adegan lebih konyolnya adalah Pica dan Humaira bahkan tidak tau kalau kadang tenda kecil itu aku pakai berhalu ria kala mereka sedang tidur. Memasak plastik lagi? Oh tidak, menonton vlog jalan-jalan sambil berhalu ria melengkungkan badan di tenda. Lalu tersipu malu sendirian di tenda. Hahaha.. 

Berbincang dengan Boneka

Please. Ini kehaluan yang astaga.. Luar biasa aneh. 

Tolong jangan anggap aku sedang ‘miring’ ya. 

Kehaluan ini bermula dari keseharianku yang sering berbincang dengan Humaira menggunakan boneka. Akhirnya, boneka-boneka tersebut jadi teman sehari-hari. Seakan pengganti kegiatan sosial harian, boneka-boneka tersebut aku beri nama memakai nama panggilan emak-emak di sekolahan. *Ops.. 😂🤣

Iya, kadang aku juga kangen dengan komunitas macan ternak (mamak cantik antar anak) di sekolah. Walau jarang ikut nimbrung, tapi senang saja kalau sesekali ada yang mengajak bicara. 

Dan kala malam tiba, boneka-boneka itu aku susun di rak dinding sambil berkata, “Dul, kamu besok ke sekolah pakai baju apa? Kita samaan ya.. “

😂😂😂

Nyetok Banyak Coklat di rumah

Sejak pandemi, aku membeli coklat batangan 2 bijik gede sebulan. Bagiku ini termasuk banyak dibanding bulan-bulan biasanya. 

“Wah, rajin banget bikin kue win?”

Percayalah aku tidak serajin dulu kalau urusan baking. Sepertinya aku sudah pernah curhat bukan? Kalau aku sangat bosan baking. 😂

Coklat batang aka DCC itu aku simpan dikulkas dan aku ‘cemil’ sedikit-sedikit kala ingin marah. 

Bagiku, coklat di masa pandemi sama fungsinya layaknya menghadapi dementor pada kisah Harry Potter. *halah

Pandemi ini layaknya dementor. Menghisap kebahagiaan dan rencana masa depan yang seharusnya terjadi. Jadi, menurut buku pertahanan pada ilmu hitam.. Coklat adalah pertolongan pertama jika kita tidak bisa mengeluarkan patronus. ((Ambil spatula sambil ngomong ‘expecto pratonus’))

Bagiku ini worked ya. Itulah mungkin kenapa hari kasih sayang dilambangkan dengan coklat. Ketika orang sedih, disarankan minum coklat hangat. Dulu, aku merasa saran itu sih kek strategi marketing aja. Sejak pandemi, aku benar-benar merasakan manfaat dari coklat ini. 

Curhat

Ini sih, kalo solusi-solusi diatas udah gak berhasil biasanya baru aku cari tempat curhat. 

Jangan nyari curhatan aku di blog ini. Blog ini tempat tulisan yang sudah disaring. ((disaring aja kek gini ancurnya ya..😂)) 

Jadi, biasanya aku curhat dengan teman aku. Atau bisa juga aku healing curhat dengan nulis panjang lebar di WA story. Privasi sudah aku atur sedemikian rupa. 

Kenapa sih suka curhat di status? Gak malu? 

Kenapa gak curhat sama Tuhan aja? Bla bla.. 

Gini ya.. 

Ya gitu deh solusi receh aku untuk mengurangi kegalakan. Pakar parenting bilang, kalau kita belum bisa menjadi orang tua yang sempurna.. Setidaknya, berpura-puralah menjadi orang tua sempurna di depan anak. Redamlah kemarahan itu dengan cara yang kita yakini adalah cara yang baik. Begituu.. 

Nah, kalau kalian gimana moms? Rada pengen galak juga gak sih kala pandemi ini? 

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

“Anaknya umur berapa Bu? Kok masih gak mau manggil Mama.. Kalau sudah 2 tahun begini perlu dikonsultasikan loh Bu..”

“Anak jangan digendong memakai gendongan begitu Bu, melihatnya gak nyaman. Coba saya coba gendong sebentar memakai kain ini..”

Dst dst

Apakah Itu Mom Shaming? 

Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca kata-kata diatas? 

Apakah langsung merasa baper? Lalu menjauh dan lantas marah karena tersinggung.. 

Atau senang karena merasa dipedulikan? 

Jujur, aku tipe yang agak ‘labil’ kalau disuruh menjawab soal ini. Karena aku sih tak memungkirinya, bahwa aku pernah marah dan tersinggung dengan salah satu kata-kata diatas. Tapi, aku juga pernah merasa senang karena merasa dipedulikan.

Ya.. Kadang juga berpikir sih, kok wanita se-complicated itu? Kadang baper, kadang marah tersinggung tidak jelas. Hah! 

Belakangan sering berpikir dan melamun dengan orang-orang yang sudah tidak bertegur sapa lagi denganku karena kemarahanku itu. Semakin berpikir dan berpikir.. Lalu semakin reframing lagi dan lagi.. Kok ya aku jadi sadar bahwa aku ini kadang tidak bisa membedakan antara sebuah kritik yang membangun dan mom shaming

Mom shaming adalah perilaku di mana terjadi pemberian kritik atau komentar kepada seorang ibu, yang justru membuatnya tertekan karena diucapkan dengan nada negatif. Bentuk nada negatif itu biasanya disertai dengan perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan dirinya sendiri lebih baik.

Contohnya adalah.. 

“Wah, kok anaknya minum sufor. Jadi kayak anak sapi dong. Kita kan manusia ya masa minum susu sapi. Aku nih kemarin ASI nya juga gak bisa keluar. Tapi aku terus berusaha nih gak menyerah. Kalau langsung menyerah kayak kamu bla bla.. “

“Duh, anaknya kok digendong gitu sih. Gendong tuh yang support M-Shape. Masa gendongan gini dipake. Kasian anaknya. Ngilu deh liatnya. Coba nih pake kayak punyaku. Belajar dulu bla bla.. “

Dua kalimat diatas bernada negatif juga sedikit membanggakan diri sendiri. Kalimat diatas bisa dikategorikan sebagai bentuk mom shaming. Walaupun maksudnya baik, namun cara penyampaiannya menyinggung hati. Sehingga maksud positif dari sebuah pesan menjadi tertutupi. 

Nah, kalau kalimat-kalimat seperti.. 

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

Bukanlah jenis kalimat yang bernada negatif. Karena didalamnya tidak ada kata ‘merendahkan, menekan hingga mempermalukan’. Tidak ada pula kata-kata yang memperbandingkan diri sendiri dengan orang yang dikritik. Maka, sebenarnya ini bukan termasuk jenis mom shaming. Tapi sebuah kritik positif. 

Pentingnya Kritik Positif untuk Perkembangan Hidup

“Sejak menjadi Ibu, perasaanku sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung.. Aku jadi tidak bisa membedakan antara kritik dan nyinyir.. “

Perasaan itu pernah aku lewati setidaknya selama 3 fase kehidupanku. Yang pertama, ketika aku terkena baby blues. Kedua ketika aku tinggal di rumah mertua dan terkena PPD. Dan ketiga, ketika keuangan rumah tanggaku dalam kondisi down sekali. 

Banyak kritik positif yang singgah seakan mencoba menerangi pikiran gelapku. Namun, sebagian besar kritik positif itu tidak aku hiraukan. Aku malah ingin berbalik mencaci maki orang-orang yang mengkritikku itu. Rasanya ingin sekali aku berkata pada mereka, “Coba kamu jadi aku!”

Seiring berjalan waktu, beberapa kritik positif yang pernah singgah itu mulai aku renungi. Lalu perlahan aku aplikasikan dalam kehidupanku. 

Ternyata, kritik positif tersebut benar-benar membantu. Meski awalnya menyakitkan menghadapinya, tetapi sebuah kebenaran memang harus diaplikasikan. Kalau tidak, ya kita tidak bisa move on dalam hidup. Itulah kenapa kita kadang perlu menghadapi kepahitan untuk sebuah rasa manis. 

“Sejatinya, kritik positif bagaikan clue dalam permainan hidup. Mau naik level atau tidak? Itu adalah pilihanmu sendiri.. “

Mom shaming pun tidak selalu salah

Dulu, aku pernah menulis di blog ini bahwa sesungguhnya orang yang melakukan mom shaming adalah korban dari lingkungan yang salah. Circle hitam yang terus menerus ada sehingga tanpa sengaja bisa melukai orang lain. 

Baca juga: Tentang Memaafkan Mom Shaming

Satu hal yang aku garis bawahi adalah..

Orang yang melakukan mom shaming bukan berarti jahat. Ia hanya terperangkap dalam circle yang salah dan tidak bisa berkomunikasi. 

Yup, coba deh lihat. Kadang orang yang melakukan mom shaming itu bukanlah orang jahat kok. Tapi memang ‘gaya komunikasi’ yang ia miliki semacam itu. Baginya sih biasa saja, tapi bagi kita.. Emmmm… 

Jujur, aku hidup dikelilingi oleh lingkungan yang sopan santun sekali sejak kecil. Kalau ada kritik maupun saran pasti disampaikan dengan komunikasi yang nyaman. Kalau ada sedikit saja konflik saat komunikasi, pasti ada yang mengoreksi lebih awal. 

Saat menikah, lingkunganku jauh berubah. Aku tidak terbiasa dengan gaya bahasa yang sedikit kasar. Aku juga tidak terbiasa dengan kritik yang blak-blakan. Langsung hamil dan memiliki anak diusia tergolong muda membuatku sedikit kaget dengan suasana baru. Akhirnya, aku memutuskan menutup diriku sendiri dari komunikasi luar. 

Seiring berjalan waktu, aku sadar bahwa mom shaming yang sering singgah dikehidupanku merupakan sebuah kritik positif yang berbeda gaya bahasanya. 

Mungkin benar adanya sebuah nasehat lama itu.. 

“Jika orang tua berbicara, IYA kan saja. Sesalah apapun itu.. Suatu saat kamu akan mengerti arti kebenarannya.”

Teknik komunikasi: Dahulukan mengenal dan membaca situasi sebelum mengkritik

Dari belajar tentang menoleransi mom shaming hingga memahami dan mengaplikasikan kritik positif aku menjadi paham bahwa ada satu garis merah yang harus ditarik untuk menjadikannya pembelajaran yang berarti. 

Bahwa sebelum mengkritik seseorang, dahulukanlah mengenalnya..

Setelah sudah mengenalnya, bacalah situasi hatinya..

Pahami dan peluk hatinya..

Jika diminta bantuan, barulah beri pendapat dan kritik. 


Yup, begitulah kiranya. Setidaknya, menurutku inilah teknik komunikasi terbaik yang dapat aku simpulkan setelah sekian tahun belajar. Karena sebagus apapun kritik positif.. Kalau dilakukan tanpa membaca perasaan dan situasi maka kritik tersebut akan berakhir pada sebuah trigger permusuhan. 

Pernah mendengar istilah ‘Toxic Positivity’?

Istilah toxic positivity sendiri pernah ngetrend belakangan ini. Yaitu kondisi dimana seseorang secara terus menerus mendorong orang yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan kenalannya itu atau tanpa memberi kesempatan kenalannya untuk meluapkan perasaannya.

Mungkin jenis toxic seperti inilah yang menjadikanku dulu sangat pemarah dan menutup diri. Ketika fase awal menjadi ibu baru, aku hanya ingin dimengerti oleh lingkunganku. Bahwa aku juga ingin merasa dihargai, diberikan ruang untuk berkeluh kesah dsb. Bahwa sesungguhnya, yang aku butuhkan hanya telinga. Bukan mulut untuk dikritik. 

Itulah kenapa akhir-akhir ini jika aku bertemu dengan keluhan new mom di sosial media, aku sangat amat jarang ikut berkomentar disana. Aku bahkan sangat jarang memberikan like dsb. Kecuali, dia adalah teman dekatku. Sesekali aku memberikan feel care di status tersebut. Atau malah mengomentari dengan tidak nyambung demi membuatnya tersenyum. Karena aku pernah berada di posisi tersebut. Aku tidak butuh kritik, aku hanya butuh teman pendengar. 

Tentang timing memberikan pendapat positif dan cara menyalurkan ekspresi

Berikanlah kritik positif ketika diminta. Itulah cara aman menghindari label mom shaming. 

Nah, jikapun mungkin kita sangat ingin memberikan edukasi positif terkait tentang ASI, cara menggendong, perkembangan anak, motivasi diri dsb maka akan lebih baik jika itu disharing melalui status sendiri saja dengan aturan yang bisa dibaca publik. Ets, tunggu sharing hal positif bukannya rentan jadi toxic positivity?

Manusia normal adalah manusia yang bisa berekspresi dengan bebas. Sedih punya ruang, senang punya ruang, norak punya ruang. 

Namun saranku, biasakanlah hidup memiliki privasi. Itulah inti dari sebuah ekspresi. Sejak menjadi ibu, aku akhirnya paham bahwa tidak semua orang bisa paham tentang rasa sedih, norak, positif dsb. 

Karena itu, aku mengatur privasi segala media sosialku. 

Blog adalah tempatku bercerita ketika segala pengalaman pahit dan manis telah menemukan hikmahnya. 

Facebook adalah tempatku bisa melihat perasaan teman-temanku. Tempatku mencari inspirasi. Tempatku bisa melihat video bermanfaat dari nas dkk. Ah, sereceh itu. 

Instagram adalah tempat dimana aku menebar hal positif saja. Sebuah citra singkat yang mungkin akan membuat orang berpikir kalau hidupku bahagia sekali. 

Dan WA story adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa sedih, norak, bingung, labil, alay, nyinyir dsb. Hanya kurang dari 10 orang yang bisa melihatnya. 

Wah, sepertinya tulisannya sudah sedemikian melenceng dari topik awal? 

Ah tidak juga. Karena sebenarnya ini berkaitan. Dan percayalah, segalanya akan teratur dengan baik jika kita bisa mengatur privasi. Karena awal mula dari mom shaming adalah ketika kita tidak bisa menempatkan ekspresi pada tempatnya. 🙂 

So.. kalian sendiri bagaimana moms? Lebih sering bertemu kritik positif atau mom shaming?

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Siapa yang belum bisa move on sehabis menonton film ‘Its Okay To Not Be Okay’ yang diperankan oleh Seo Ye Ji dan Kim Soo-Hyun? Mungkin aku bisa dikatakan salah satunya. 

Bukan, bukan karena kegantengan Kim Soo-Hyun dan penampilan Seo Ye Ji yang sangat elegan di film tersebut. Melainkan karena film ini mengangkat tema psikologis sebagai brandingnya. Well, dari judulnya saja sudah kelihatan sekali bukan?

Nah, Uniknya setiap episode film ini diberi judul dengan nama-nama dongeng. Sebagian besar diberi judul dengan dongeng yang universal. Namun ada juga dongeng lokal dari korea selain itu juga ada cerita anak-anak yang ditulis oleh Ko Moon Young. Setiap episode sungguh diulas dengan sangat bermakna dan unik. Film ini diperankan oleh 3 tokoh utama yang sedang mencari jati dirinya masing-masing dengan background masa lalu masing-masing yang kelam.

Oh well, apa perlu aku menuliskan secara lengkap tentang tokoh dan sedikit alur ceritanya?

Kurasa tidak perlu, karena teman ngeblogku Mba Antung Apriana sudah menjelaskan tentang itu dalam tulisannya tentang review drama Its okay to not be okay

Apa aku perlu menjelaskan tentang dongeng-dongeng Ko Moon Young yang penuh makna? Hmm.. Kurasa juga tidak. Karena Mba Lendy Agashi juga sudah membahas tentang makna dan cerita dongeng-dongeng Ko Moon Young dengan sangat apik di blognya. 

Dongeng dan Pesan Moral didalamnya versi Drama Its Okay To Not Be Okay

Apa itu dongeng?

“Dongeng adalah Fantasi kejam yang menggambarkan kebrutalan dan kekerasan dunia ini dalam bentuk paradoks.”

Ko Moon Young

Yup, Blogpost kali ini khusus aku tulis untuk menceritakan sudut pandang aka ‘fantasi kejam’ lain tentang dongeng-dongeng yang pernah kita dengar. Dan sudut pandang penulis Ko Moon Young dalam drama Its Okay To Not Be Okay ini sedikit membuka pemahamanku tentang cerita dongeng yang pernah aku dengar serta pesan moral didalamnya. Dongeng apa saja itu? Yuk, kita bahas bersama.

The Ugly Duck

Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor bebek. Bebek ini sangat berbeda diantara saudaranya. Tubuhnya besar dan kulitnya berwarna putih keabuan. Paruhnya juga sedikit berbeda.

Karena itu Ibu bebek dan saudara-saudaranya sering tidak menghiraukan bebek tersebut. Mereka meninggalkannya ketika berenang bersama. Pun ketika makan bersama. Mereka menjuluki bebek itu ‘Bebek yang Jelek’.

Waktu berlalu. Anak bebek sering melihat perubahannya di bayangan air. Ia merasa bahwa ia bukanlah seperti saudara-saudaranya. Akhirnya, anak bebek memutuskan untuk pergi menjauhi Ibu dan saudaranya. 

Dua musim berlalu. Anak Bebek bertemu dengan gerombolan kawanan Angsa. Salah satu dari Angsa mendekatinya dan berkata, “Kamu cantik sekali..”

Bebek itupun sadar bahwa selama ini dia bukanlah seekor bebek. Melainkan seekor Angsa. Ibunya telah kehilangannya sejak ia masih berwujud telur. Kini, setelah menyadari siapa sebenarnya dirinya.. Ia pun bisa hidup bahagia bersama kawanan angsa lainnya. 

Tamat

Sejak kecil, aku dihadapkan pada moral story yang sangat bijak dalam memandang dongeng ini. Bahwa kita harus mencari sebuah komunitas yang bisa menerima kita dengan baik. Bukan hanya itu, cerita ini adalah cerita terbaik untuk memberikan semangat pada diri kita yang mungkin sedang mengalami fase down karena tidak adanya penerimaan dari lingkungan. Cerita ini juga yang mengajarkan padaku pentingnya merasa percaya diri dalam wujud yang berbeda. 

Tapi dalam sudut pandang Ko Moon Young, cerita ini memiliki pesan moral yang berbeda. 

Ko Moon Young menegaskan bahwa segala drama dalam kehidupan anak Angsa tidak akan terjadi andai saja Ibunya tidak ceroboh dalam memelihara dan menyimpan telurnya. Andai saja Ibu Angsa tidak meninggalkan telurnya di sarang Ibu Bebek mungkin anak itu akan tumbuh besar dan mengenali jati dirinya dengan baik sejak kecil. Anak Angsa tidak perlu mengalami ‘bully’ hingga mengalami perjalanan panjang untuk mencari jati diri. 

Untold story dalam drama ini adalah Kecerobohan Ibu Angsa yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri.

Well, sesungguhnya dalam kehidupan kita hal ini sangat sering terjadi. Bagaimana contohnya? 

Betapa sering kita mendidik anak kita dengan bercermin pada kehidupan keluarga lain? Betapa sering kita kadang tidak sengaja membandingkan anak kita dengan anak orang lain sehingga anak kita kehilangan hobi dan passionnya sendiri? 

Kadang, kita juga membuatnya berkawan dengan kelompok yang tidak disenanginya. Untuk apa? Untuk sekedar mendapatkan penerimaan dalam masyarakat. 

Sudut pandang Ko Moon Young dalam mengambil moral story sungguh membuatku belajar bahwa jati diri seorang anak terbentuk dari melihat punggung orang tuanya. Ketika orang tuanya ceroboh dalam mengambil sikap. Maka, anak pun akan kehilangan hal baik yang seharusnya ada padanya sejak kecil.

Raja Bertelinga Keledai

Dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang akan menjadi penerus tahta di kerajaan Silla. Setelah dinobatkan menjadi raja, hal aneh terjadi. Telinga pangeran berubah menjadi telinga keledai. Tidak ada yang mengetahui tentang hal ini termasuk orangtua sang raja.

Raja menutup rapat-rapat rahasianya.

Masalah terjadi saat pesta rakyat akan diadakan. Raja membutuhkan mahkota baru. Maka ia pun mengundang pembuat mahkota untuk mengukur kepalanya. Dan betapa terkejutnya pembuat mahkota ketika melihat kepala sang raja. Lihatlah Raja Bertelinga Keledai. 

Raja yang malu akan kondisinya mengancam pembuat mahkota untuk tidak menceritakan kondisi itu pada siapapun. Pembuat mahkota itupun patuh pada titah Raja. 

Pembuat mahkota pun semakin ia menua. Ternyata, rahasia itu semakin membebaninya setiap hari. Maka ia berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Dalam perjalanan, ia menemukan hutan bambu yang sunyi.

Ia pun hanyut dalam keheningan hutan bambu lantas kemudian berteriak “RAJAKU BERTELINGA KELEDAI!!” Dan setelah meneriakkan rahasia itu, ia pun meninggal dengan tenang.

Sepeninggal pembuat mahkota, angin bertiup di sekitar hutan bambu dan membawa kabar tersebut ke desa-desa tempat raja memerintah. Angin tersebut seolah meneriakkan “Rajaku bertelinga keledai!!”

Desa yang awalnya penuh ketenangan, menjadi semakin ribut karenanya. Hingga berita itu akhirnya terdengar oleh raja.

Akhirnya, Raja pun jujur kepada rakyatnya. Bahwa ia memiliki telinga keledai. Ia menyimpan rahasia karena takut dan malu. Rakyat yang mendengar kejujuran Rajanya menjadi bersimpati dan kagum. Mereka pun sepakat untuk menghargai privasi Sang Raja dengan menebang hutan bambu. 

Ajaibnya, setelah hutan bambu di tebang. Telinga Sang Raja kembali normal. Ia pun senang karena itu. Raja dan rakyatnya pun hidup penuh dengan kesejahteraan. 

Tamat….

Jujur aku baru kali ini mendengar dongeng ini. Setelah aku telusuri, dongeng ini berasal dari negeri korea. Oh.. Pantas saja tidak familiar bukan? Ada yang baru membaca ceritanya sama sepertiku? Aku pernah membaca sayup-sayup saja sih di perpustakaan daerah. Dan cerita lengkapnya aku sudah lupa. Cerita diatas kutulis ulang setelah mendapatkannya dari berbagai sumber. 

Moral story dalam cerita ini adalah tentang keterbukaan antara Raja dan Rakyatnya. Bahwa jika antara Raja dan Rakyat tidak memiliki rahasia maka rakyat akan hidup sejahtera. Adapula yang mengambil moral story bahwa kejelekan fisik seorang raja tidak bisa dijadikan patokan dalam menilai baiknya seorang raja. 

Cerita ini sendiri memiliki berbagai versi berbeda dengan ending yang berbeda. Namun, aku fokus untuk membahas pesan moral dari Ko Moon Young untuk cerita ini. Bahwa sesungguhnya, sebuah rahasia itu harus diceritakan. Karena kalau tidak, rahasia itu akan meledak dengan cara yang memalukan.

Didalam dunia ini kita memerlukan tempat untuk berbagi cerita. Entah itu dengan teman, orang tua hingga sahabat atau suami sendiri. 

Ketika kita merasakan hal yang tidak nyaman, maka rahasia itu harus dikeluarkan untuk dipecahkan solusinya bersama-sama. Ungkapkanlah rahasia tersebut pada orang yang paling bisa dipercaya. Karena jika tidak, rahasia itu akan membebani hidup kita. Cepat atau lambat, sebuah rahasia pasti terbongkar. Rahasia yang terlambat menemukan solusinya akan keluar dengan cara yang tidak menyenangkan.

Beauty And The Beast

Ehm, haruskah aku menulis dongeng ini juga? 

Mengingat dongeng ini sudah sangat mendunia hingga ada beberapa versi filmnya di disney maka aku akan skip cerita versi lengkapnya ya. 

Dongeng yang bercerita tentang seorang gadis cantik dan lelaki yang buruk rupa ini memiliki ending bahagia. Lelaki Jelek yang terkena kutukan berubah menjadi pangeran tampan setelah mendapatkan cinta sejati dari seorang wanita. Tapi tahukah untold story versi Ko Moon Young dalam cerita ini? 

Bahwa sesungguhnya, Beauty And The Beast adalah cerita tentang Stockholm Sindrom. Ya, katanya.. Si Cantik mengalami Stockholm Sindrom. 

Apa itu Stockholm Sindrom? 

Stockholm sindrom adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. 

Wikipedia

Well? Bagaimana bisa dongeng Beauty and The Beast dikaitkan dengan stockholm sindrom? 

Besar kemungkinan, ketika Si Cantik ditawan di kastil oleh si Buruk Rupa ia mengalami over empati pada si Buruk Rupa. Padahal, bisa saja si Buruk Rupa ini memperlakukannya dengan tidak baik. Namun, karena Si Cantik terkena stockholm sindrom maka ia jadi membenarkan segala tindakan tercela dari Si Buruk Rupa. Karena over-reframing, si Cantik akhirnya bisa memahami jalan pikiran Si Buruk Rupa. Empatinya menjadi berlebihan sehingga benih cinta itu muncul begitu saja. Dan rasa cinta itulah yang pada akhirnya mengubah sikap si Buruk Rupa.

Mendapati pengandaian bahwa mungkin saja dongeng Beauty and The Beast adalah kasus stockholm sindrom, aku jadi ingat pada dua tokoh di film The World Of Marriage yaitu Hyun Seo dan In Gyu. Aku baru tersadar bahwa mungkin saja Hyun Seo adalah salah seorang wanita yang terkena stockholm sindrom. Ia mencintai pacarnya In Gyu yang suka memukul dan menyiksanya. Bahkan saat In Gyu meninggal, Hyun Seo sangat sedih dan berharap dokter Ji menerima karma. 

Loh, kok jadi nyasar ke baper di film TWOM? Ah sudahlah. Hahaha.. 

Anak Laki-Laki dan Serigala

Dahulu kala..di sebuah desa.. Tinggallah seorang anak laki-laki dan orang tuanya. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Namun setiap hari mereka juga memelihara Domba. Domba-domba itu adalah milik keluarga mereka. 

Suatu hari sang anak laki-laki ditinggal oleh orang tuanya ke kota. Sang anak dititipkan beberapa domba. Mereka menyuruh sang anak agar menjaga dan memberi makan domba-domba tersebut. 

Sang anak menjaga domba itu dengan tekun.

Tapi, hingga hari ke tiga.. Orang tuanya tak kunjung datang. Maka, ia mulai merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Ketika menjaga domba, pikiran anakpun mulai jahil. Ia kemudian berteriak, “Serigalaaa… serigala.. Tolooong!”

Penduduk desa pun datang berlarian. Mereka langsung mencari keberadaan serigala disekitar anak tersebut. Sang anak senang sekali melihat respon para penduduk. Ia pun tersenyum dan berkata, “Haha.. Tidak ada serigala kok!” 

Para penduduk pun kesal. Mereka langsung pulang kerumah. 

Besoknya, Anak lelaki itu mengulangi hal yang sama, ia berteriak dengan lebih nyaring, “Serigala.. Serigala..! Astagaa tolong akuu!”

Penduduk desa awalnya tidak mau datang. Tapi karena teriakan anak itu begitu nyaring dan serius. Akhirnya mereka tiga tega. Mereka pun segera lari kearah suara anak tersebut. 

Dan betapa kesalnya mereka ketika melihat sang anak tertawa terbahak-bahak. 

Besok harinya, anak lelaki tersebut duduk tenang sambil menjaga dombanya yang sedang makan. Betapa terkejutnya ia ketika tiba-tiba melihat serigala datang ke arah domba tersebut. Sang anak pun berteriak panik, “Toloong.. Serigala.. Toloong.. Domba saya dimakan.. Tolong!”

Tapi tidak ada satupun yang datang. 

Penduduk desa sudah tidak percaya lagi dengan teriakan anak tersebut. Dan akhirnya, domba-domba pun habis dimakan serigala. 

Tamat. 

Ini adalah salah satu cerita anak-anak yang cukup familiar di sekitar kita. Namun aku tulis ulang karena mungkin saja ada yang tidak tau. Dongeng ini cukup sering aku ceritakan pada Pica. Bahkan, ada salah satu episode upin dan ipin yang menceritakan tentang dongeng ini. 

Pembelajaran berharga dari dongeng ini yang sering aku ceritakan pada Pica adalah begitu besarnya dampak kebohongan. Satu kebohongan akan membuat orang kesal. Dua kebohongan akan membuat orang menyesal. Tiga kebohongan akan menghilangkan kepercayaan dari semua orang pada kita. Karena itu, aku selalu menekankan pada Pica untuk jangan pernah berbohong. 

Tapi sudut pandang Ko Moon Young dalam memaparkan moral story dari dongeng ini berbeda. 

“Pernahkah kau memikirkan kenapa anak itu berbohong?” Kata Ko Moon Young

“Tidak.. Berbohong tidak baik. Berbohong anak nakal.. ” Kata Gang Tae

“Anak itu berbohong karena kesepian.. Dia kesepian tinggal sendirian di gunung.. “

Waw, mendengar kata dari Ko Moon Young aku lantas langsung memperhatikan lebih jeli tentang alur cerita anak ini. 

Ya, anak ini kesepian. Ia ditinggalkan sendirian oleh orang tuanya untuk menjaga Domba. Ia bosan dan sangat kesepian. Karena itu ia berbohong untuk menarik perhatian. Supaya ada teman yang duduk disampingnya dan mengajaknya bicara. Itulah sebenarnya yang ia butuhkan. Itulah sebabnya kebohongan itu ia ulangi di hari yang berikutnya. 

Sebenarnya, masih ada beberapa dongeng lagi dari episode-episode Its Okay to Not Be Okay ini. Ada dongeng The Father of Two Sisters yang jujur saja aku tidak tahu cerita komplitnya. Dongeng yang lainnya ceritanya juga sudah jelas dan tidak memiliki untold story seperti dongeng diatas. Yaa, jujur hanya dongeng-dongeng diatas saja yang pesan moralnya berasa banget diingatan aku. Mungkin karena saking ‘bapernya’ dengan beberapa kuote dan pesan moralnya. Haha.. 

Kalau kalian bagaimana? Sudah nonton Its Okay to Not Be Okay juga? Sharing denganku dong dongeng dari episode yang mana yang kalian senangi? Dan kuote apa yang paling berkesan? 

Apapun itulah ya.. Yang jelas mari move on ke drakor selanjutnya agar pikiran bisa rileks menghadapi pandemi ini.. #dasarmamakdrakor 😀

IBX598B146B8E64A